.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Wednesday, 26 December 2012

Berganti


            “tahun baru mau kemana?”
suaranya menggema, namun entah kenapa tak ada jawaban yang ikut menyeruak di kepala. kosong. hampa. sepertinya aku sudah tak asing dengan pertanyaan semacam ini. hingga aku bosan sendiri untuk menjawabnya, berulang kali. aku menyeringai. tak ada jawaban perlu kuberikan.
            “ayo, ikut saja denganku. atau mau kutemani?”
ia berbicara lagi, panjang lebar. sejak tadi aku mendengarkannya bicara, tapi entah kemana konsentrasiku sekarang. dilema. entah sudah berapa kali tahun baru itu ada, berganti angka. berganti lembaran tanggal yang dicetak dan tersebar dimana-mana.
entah sudah berapa lama terompet-terompet beraneka bentuk dan warna itu menyemarakkan suasana. berganti tiupan yang semakin melemah bunyinya. ditambah riuh ramai kota, dimana saja, macet, kendaraan padat mengular, manusia tumpah ruah bagai semut yang berkerumun di berbagai titik kota. merayakan detik pergantian tahun tanpa ada lagi yang merasa bahwa itu sama saja, sementara. 
            entah, entah, entahlah sudah berapa tahun bunyi petasan, kembang api dan lampu mercusuar itu kuabaikan dalam suasana ramai dan hiruk pikuk bosan.
            gimana?”
aku tersadar, masih ada dia di sampingku. mengajakku berbincang, bahkan menawarkan suatu hal yang tampaknya perlu kuberikan tanggapan.
aku menggeleng pelan, “untuk apa?”
dahinya berkerut. heran. butuh penjelasan.
            “ya senang-senang, seperti yang lainnya”
            “hanya senang-senang saja?”
kalau hanya untuk mendengar argument “senang-senang” saja aku harus ikut menikmati pergantian tahun itu, aku tak tahu, apakah cukup untuk meyakinkan keras hati orang tua-ku. dan kebiasaanku.
mereka seringkali bilang, untuk apa? sama seperti beberapa detik lalu ketika aku menanggapi pertanyaannya. jawabku pun kurang lebih sepertinya, aku masih teramat labil untuk tentukan mana yang semu dan mana yang kekal dan bisa kujadikan bekal nantinya. mereka bilang, kalau hanya untuk bersenang-senang, bukankah bisa dilakukan di rumah saja. menikmati pergantian malam dengan berkumpul bersama keluarga, menonton televise, meniup terompet sendiri, membeli petasan dan membunyikannya bergantian. bukankah kau bisa sama halnya menonton pertunjukkan dan petasan itu terdengar?
            “terooooooooreeeet! treooooooot! Yeeeeeee” lengking-lengkingan itu terdengar tahun lalu. tepat di atas rumahku, di samping, di atas, hingga dimanapun aku berada. hingga gema-nya sampai di telingaku. tanpa perlu pengeras suara.
bukankah tahun baru tak ada bedanya dengan waktu yang lain? dengan malam dan hari-hari yang lain? apa istimewanya? pikiranku sudah terlanjur menstimulasi, bahwa semua itu tak ada bedanya. ekstase kebahagiaan yang mereka rasakan hanya sekejap saja.
lantas tertidur, dan pagi kembali menggeser mata yang kurang lelap karena sepertinya waktu bergerak lebih cepat dari biasanya.
dan beberapa menit kemudian, setelah petasan itu habis dimakan api, setelah bunyi-bunyi itu habis karena sumbu telah di penghabisan, dan ketika waktu bergeser pelan, semuanya sirna. lelah mendera. teriakan-teriakan yang tadi bergema hanya euphoria sementara. sedang di sudut-sudut lain, masih banyak kepala yang tak mampu menerka apa beda tahun baru dan tahun lainnya. waktu mereka habis untuk berteduh di bawah atap kardus, mengemis uang seperak demi perak untuk mengenyangkan perut busungnya, mengais-ngais kemurahan hati orang lain, menjemput kebahagiaan dengan cara mereka sendiri, terus-terusan menerima.
            aku menggeleng. dia kembali menyeringai.
“benar kau tak mau ikut?”
sekali lagi aku menggeleng. bukan, bukan karena merasa keramaian itu hanya akan menyesakkan. bukan pula merasa bahwa euphoria itu hanya menambah beban para tukang bersih kota. ya, tentu saja, mereka yang hanya memikirkan kebahagiaan itu tak sampai pada pikiran bahwa sampah-sampah yang mereka tinggalkan hanya membuat beban. mengotori pemandangan. 
tak ada sisa, semua menguap bersama udara.
kenikmatan itu sungguh tak serupa dengan introspeksi yang mencapai titik peka.
            baiklah, kalau begitu, aku akan menemanimu sambil bertukar pesan saja di rumah. di rumah juga sudah cukup ramai kok, aku bisa berkumpul bersama keluarga dan pesta kebun di sana.”
            “lebih baik begitu”. aku mendesis.
tak ada gunanya menyampaikan ketidaksepahaman, tak ada gunanya mendebat perbedaan. tahun baru hanya detik beda yang mereka pikir akan membawa bahagia, padahal perubahan itu tak mereka sertakan bersamanya. malam-malam dan terlelap tetap menyegarkan lelah yang ada. sejatinya, kita tidur, kita berkumpul, atau berdiam diri-pun, semarak itu tetap ada di hati kita. dengan terpejam, dengan membayangkan beribu kebahagiaan yang pernah datang, kegagalan, rencana-rencana tak seperti harapan, dan suka duka lain yang sempat hadir dan tertahan.  
mungkin aku harus berbenah diri. bukan menyusup dalam ramai, kurayakan ia bersama evolusi, bersama evaluasi.


No comments:

Post a Comment