.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 30 December 2012

Batas


            “bu, ibu. Alif lapar”.
Anak pertamanya mengelus-elus perutnya sejak dua jam lalu. Merajuk, bersandar di badan rapuh miliknya. Mengeluh kepadanya tentang betapa lemahnya ia, menahan rasa lapar yang melilit-lilit lambungnya sejak tadi. Bahkan untuk meredakan ingin anaknya itu, ia rela duduk berlama-lama disana. Membacakan dongeng untuk ketiga anaknya, bersamaan, meninggalkan dan melupakan rasa kantuk dan lelah yang sempat menderanya beberapa jam lalu pula. Ia sebenarnya pun merasakan hal yang sama, dua hari tepat keluarga kecil tanpa lelaki dewasa ini menahan lambungnya agar tak berbunyi meraung-raung meminta diisi haknya.
Tak tahu hendak meminta pada siapa, seolah kasih dan iba sudah tak ada lagi di sekeliling mereka. Lelaki yang dulu ia anggap sebagai pemimpin keluarganya, pergi, tega meninggalkan ia bersama anak-anak yang masih butuh banyak kebutuhan, pun kasih sayang. Pergi, berujar bahwa banyak kesempatan di luar, dan dia tak mau selamanya terkungkung dalam keterbatasan, ia tak mau terpenjara dalam kemiskinan. Ia ingat percakapan beberapa tahun silam, saat lelaki yang dulu mengucapkan ijab qabul untuknya itu memutuskan pergi, tak perduli lagi ada tiga darah daging yang masih butuh tanggung jawabnya, atau sekedar tangan kekarnya saja.
            “kau bahagia hidup seperti ini, hah?” wanita itu diam. Tetap diam. Menghormati lelaki yang ia anggap sebagai suami, sekaligus ayah ketiga anaknya.
            “kau puas hidup terlunta-lunta seperti ini?
“Sudah kubilang bukan. Kau cantik, melacur saja sana! Pasti uangmu akan banyak” dan ia terhenyak. Tak menyangka akan kalimat seperti itu yang keluar dari lelaki yang amat dihormatinya setelah prosesi qabul itu selesai dikumandangkan. Sayangnya ia tetap diam, ia masih yakin banyak hal masih bisa diusahakan. Bukan dengan caa tak pantas dan haram seperti yang diperintahkan suaminya. Meski hanya mampu menjadi buruh cuci, berjualan keliling itupun menjualkan barang dagangan orang, dan menjadi penjahit sewaktu senggang.
            Sementara anaknya terus meremas perut, ia terus lihai bercerita. Berharap tiga anaknya yang masih kecil itu tertidur dibuai harap, lelap, tak apa sekedar mimpi mengenyangkan mereka. Tak apa meski harus dengan terlelap lebih dulu mereka merasa tercukupi kebutuhannya. Dua anaknya sudah semakin terpejam, mulai lelap dengan cerita nina-bobo yang dikumandangkan olehnya. Sementara anaknya yang paling tua, sepertinya lebih sanggup menahan kantuknya.
            “bu, ibu, alif lapar”. Sekali lagi anaknya mencoba meminta, merajuk sekuat dia bisa. Meski dalam rumah sewa berukuran ala kadarnya itu hanya ada tikar dan tiga lembar sarung menemani mereka. Beserta satu kompor minyak yang bahkan sumbu-nya sudah mengering dimakan udara.
            “iya sebentar ya sayang, Sabar ya” ia tersenyum. Mengelus rambut pendek anak pertamanya. Anak sulung yang selalu mau membantunya, bahkan ketika ia sedang sibuk mencari uang kemana-mana, anaknya lah yang menjaga kedua adiknya, tanpa sedikitpun lalai meski hak-nya belum pula dipenuhi ibunya. Sayangnya dalam keadaan seperti ini, ia sungguh tak bisa berbuat apa-apa. Persediaan berasnya telah habis, sementara uang di kalengnya hanya tersisa lima ratus rupiah. Untuk apa? Membeli telur satu butir pun tak akan cukup. Lalu, pakai apa menggorengnya? Minyak pun ia tak punya.
Sudah berulang kali ia bolak-balik ke warung terdekat, meminta belas kasih sekedarnya, makanan sisa. Tapi hati mereka belum tergerak, entah karena lelah membantu, atau bosan melihat wajah susahnya terus-terusan mengiba.  Berhutang di toko? Tak mungkin lagi. Tumpukan utang yang tak sebanding dengan nominal uang yang ia gunakan untuk mencicil membuatnya tak lagi dipercaya. Ia maklum, uang harus terus diputar, dan selama ini terlalu banyak yang berhenti hanya untuk menyumpal mulut-mulut kelaparan milik keluarga kecilnya. Ia tak berharap banyak, nasi satu bungkus pun ia sudah akan teramat bersyukur menerimanya, bahkan dengan balas mencuci piring seharian penuh ia tak apa, asal anaknya makan. Tapi tak ada lagi yang mau ikut merasakan bebannya, barangkali memang belum ada.
            Ia ingat, sejak tadi pagi tak ada seorangpun yang menitipkan pakaian untuk ia cuci. Dua jam berkeliling kampung, barang dagangannya juga tak cukup mengeruk untung, hanya cukup untuk membeli air putih untuk meredakan hausnya. Sekali lagi ia melirik ke tubuh anak sulungnya.
            “sabar ya sayang, setelah dongeng ibu habis. Makanan pasti datang”
Mata alif berkilat. Ada sedikit harapan lagi terpancar di matanya demi mendengar kata “makanan” yang baru saja dikumandangkan ibunya. Barangkali ia merasa berdosa, karena telah berbohong lagi untuk hal ini, kesekian kalinya. Tapi ia mencoba memberi harapan pada diri sendiri, semoga masih ada sisa-sisa iba di luar sana.
            “benarkah bu? Sabar itu makanan apa?” ganti ia yang terhenyak.
Pertanyaan anak seumuran dia membuat dia makin tersadar. Bertahun ia menyimpan apa yang dinamai Tuhan menjadi sekumpul kata bernama sabar. Sekalipun ia tak tahu benar apa balasnya. Sekalipun ia tahu benar bagaimana beban yang harus dirasanya. Tapi ia berusaha memegang teguh prinsip yang mendiang ayahnya katakan di saat terakhir ayahnya di dunia. Ia hanya berusaha jadi manusia yang berpegang teguh pada tuntunan Tuhannya. Menahan seluruh kesusahan dengan perjuangan tetap ia lakukan. Hingga ia seringkali dimaki bodoh, tak tahu kesempatan besar di depan mata oleh suaminya.
Suaminya seringkali menginjak-injak harga dirinya dengan berkata “kau kenyang dengan sabarmu itu? Kau tahu, sabar hanya untuk orang-orang bodoh. Kau tak tahu bukan mana bedanya? Tipis sekali, dan aku yakin, kau itu wanita bodoh.” Sambil terus menendang membanting pintu, ia mencacinya, mengatainya bodoh karena tak mau menjadi pelacur seperti yang diminta oleh suaminya. Kalau bukan karena sabarnya itu, sudah pasti ia tak akan diam mendengar penghinaan yang terus terlontar.
Ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bahkan senyuman tulus pun tak akan mampu menjawab keheranan alif.
            “sabar bukan makanan sayang, sabar itu buat orang-orang yang sayang Sama Tuhan”. Alif diam. Mungkin kebingungan. Sementara pertanyaan yang dia ajukan itu membuatnya sejenak melupakan lilitan lapar yang membelenggunya beberapa jam. Ia tahu, penjelasan sedetail apapun tak mampu menjawab dan memenuhi deskripsi paling masuk akal tentang sabar.
            Alif menggeleng, “alif nggak ngerti, ada dongeng yang bisa menjelaskannya bu”. Ia mengangguk. Tersenyum menerima lagi pertanyaan itu, mungkin ini bantuan Tuhan untuk membuatnya tak lagi merajuk atas hal yang detik ini belum mampu ia usahakan. Hari sudah malam, tak mungkin lagi ia mengais makanan di tong sampah sementara sejak tadi hujan tak kunjung reda. Pasti lalat dan hewan lain sudah lebih dulu mengerubunginya.
            “alif masih ingat cerita tentang nabi ayub kan?
Yang di-sampaikan kakak cantik berkerudung merah itu?” alif mengangguk sigap. Beralih duduk manis di hadapan ibunya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut ibunya. Tentu saja dengan cara dan penyampaian yang berbeda, tapi ia menidurkan lagi alif, agar ia tak bisa menangkap kegelisahan dan keraguan yang sebenarnya ia simpan, tapi ia coba melupakan karena masih banyak kepala yang harus ia tanggung. Alif menurut, berebahan kembali di paha ibunya, tangan ibunya cepat kembali mengelus kepalanya. Dua adiknya sudah pulas, mungkin sedang bermimpi makan ayam goreng yang mereka lihat siang tadi di pinggir jalan. Dan mengalirlah cerita itu lancar dari ibunya.   
            “lalu batas sabar ibu dimana? Pasti lebih hebat dari nabi Ayyub kan?” kepala alif diangkat, menangkap raut- muka kaget yang ditampakkan olehnya.
            “sabar ibu ada sama alif. Alif kan anak baik, iya kan?” dan ia mengangguk, tak secepat sebelumnya. Kantuk menguasainya. Hingga mata itu ikut terpejam, mengikuti dua adik-adiknya yang sudah lebih dulu mengistirahatkan kelaparan yang mereka rasa. Sejujurnya ia tak pernah mengerti dimana garis batasnya, hingga cakrawala langit itu tersaji di depan mata. Tuhan hanya bilang, sabar tak pernah berbatas, kita sendiri yang membuatnya terlepas.
Ia tersenyum. “batas sabar itu ketika kita berhenti percaya, nak”.
Ibunya ikut tersenyum, mengecup lembut kening ketiga anaknya. bermimpi mencukupi seluruh kebutuhan hidup meski harus lebih dulu dengan memejamkan mata. Ia tahu, pagi akan kembali membawa kokoknya. dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ketiga anaknya.


No comments:

Post a Comment