.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 25 December 2012

Esa


    ini murni urusan hati, diri sendiri 

apa yang bisa anda deskripsikan berkenaan dengan agama? sekedar keyakinan? pedoman? tuntunan? atau, tuntutan? 

saya yakin ada beberapa orang yang berpikiran dan menganggap agama adalah hal terakhir yang saya sebutkan tadi. kenapa bisa begitu? mungkin seperti ini. dalam agama, apapun itu selalu menyuguhkan banyak tata cara, banyak doa yang sesungguhnya harus kita lakukan, kita hafalkan, kita jadikan rutinitas harian, dan bla-bla-bla lainnya.

dan setitik kecil dari tuntunan itu membuat mereka merasa dikekang, terabaikan. 
mudahnya, dalam golongan kecil seperti perkumpulan rumah tangga di sekitar rumah kita. ada banyak aturan yang harus kita patuhi, sekelumit aturan yang menjadi mufakat dan kadang kita berseberangan, tapi sejatinya dalam lingkup ini kita tak punya kebebasan memilih. selama kita menempati suatu daerah, suku, budaya, maka kita akan selalu terikat dengan aturan di sekelilingnya. sama saja dengan agama, kalau ditanya dimana kita sedang berpijak? dimana kita sedang bertempat?

            apa jawaban yang kalian berikan?

di rumah? di Yogyakarta? di Jakarta? di semarang? ah, itu hanya daerah saja. lebih tepatnya sekarang, kalian tinggal di bumi. ya, bumi yang begitu banyak keselarasan, keseimbangan dan kehidupan di dalamnya. lalu, pertanyaan berikutnya yang harus anda ajukan adalah, “siapa yang menciptakan Bumi yang kita tinggali?” siapa yang akan punya wewenang membuat aturan?”

Nah, kalau ini perlu dipahami dulu sebelumnya, siapa dan karena apa anda bisa hadir di dunia. Sama halnya seperti aturan RT tadi, kita juga tidak punya pilihan, karena sejatinya tinggal di dunia pun kita sudah diberi anugrah luar biasa oleh Tuhan. eits, Tuhan? Kalian pasti mengenalnya bukan? semoga iya.

urusan semua ini hanya kembali pada urusan keyakinan. K-E-Y-A-K-I-N-A-N! saya kurang bisa mendeskripsikan dengan detail bagaimana keyakinan itu bisa bermula. saya hanya menjadi penerus agama yang jadi Agama orang tua saya, kakek nenek saya, bahkan hingga generasi tingkat atas dan lebih naik lagi yang saya sama sekali tidak pernah mengenalnya. ya, beruntung sekali saya diberikan warisan agama yang menentramkan. Agama islam.

baiklah, disini saya bukan akan menjelaskan tentang perbedaan agama dan merasa jadi bagian paling benar. saya hanya akan meluruskan dan memberikan penjelasan yang sedikitnya saya mengerti. saya perlu memberikan argument terkait beberapa Tulisan yang pernah saya baca, dan tentu saja saya pikirkan dan renungkan terlebih dahulu.

tenang, saya bukan golongan ekstrem kanan, bukan golongan bercadar, bukan pula golongan yang menganut islam sekedar pelengkap catatan.

dalam tulisan tersebut mereka berkata dan mengulas tentang keyakinan, tentang agama, tentang Tuhan. mereka mempertanyakan, apa gunanya Ada Tuhan kalau membuat kita memiliki banyak keterbatasan? apa gunanya Banyak Nama Tuhan kalau hanya untuk menambah permusuhan, perpisahan, dan batas-batas yang tak pernah dimengerti satu manusia dan manusia lain, terutama mereka yang mengusung tema “cinta” untuk menghalalkan hal ini.

mereka bilang, “Ketuhanan yang Ma(s)a Esa”. mereka bilang seharusnya agama tidak mengekang cinta, bukankah cinta dibuat oleh Tuhan pula.

Nah lho? saya pikir, dalam keadaan seperti ini, justru dia yang harus diberikan pertanyaan balik. seberapa besar keyakinan yang anda pegang? dalam kepala dan hati dia ada berapa Tuhan yang dia Agungkan? bukankah kalian sudah tahu, aqidah atau urusan keyakinan secara terminology: “Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan”.

sudah ketemu jawabannya kan sekarang? yang ragu dan bimbang siapa? dan yang harus me-reset ulang pola pikir siapa? sejatinya murni hanya bisa dirasa hati. diyakini. dijalani. dimengerti. dan dipahami.

lalu, berapa Tuhan yang membuatnya dia harus berkata Ma(s)a Esa?

tidak perduli dengan keyakinan orang lain, tak perduli apa kata orang, ini murni urusan diri sendiri. jadi, mana yang harus diklarifikasi? hingga kalimat dan tulisan itu meluncur deras tanpa ada yang bisa menahan. bukankah kalau mereka, si pemilik pertanyaan itu punya keyakinan yang dalam, semua hal ini tidak akan pernah terbersit dalam pikiran? ya, tentu saja begitu. meski sesekali setan akan ikut jadi perusak konsentrasi dan yakin hati. 

urusan agama itu butuh proses panjang, hingga kita benar-benar dibuat paham. tapi sungguh, jangan sedikitpun membuat celah agar bimbang merayap perlahan. kita butuh jembatan, dan itu-lah keyakinan.

selama ini saya-pun cukup punya banyak pertanyaan, dan kurang lebihnya mungkin begini.
masing-masing dari kita selalu punya perbedaan, punya pendapat yang kadang hanya tertahan di kepala. tentang keyakinan ini sendiri saya kadang takut untuk menyampaikan. bagaimana bisa mereka merasa agama mereka-lah yang paling benar? mencerca nabi agama orang? menghina ritual yang dilakukan agama orang? dan merendahkan prosesi yang mereka banggakan? bagaimana bisa? sedang belum tentu terror dan pembunuhan itu mengakar dari suatu agama, mereka hanyalah manusia-manusia sok pintar yang berbuat jahat dan mengatasnamakan agama.

lalu, harus diberi nama apa orang-orang yang merendahkan diri sendiri dan agamanya dengan menjelekkan orang lain beserta agamanya? innocent of muslims mungkin. atau para anonymous di internet yang sibuk berkomentar tanpa aturan.

lalu, bukankah berarti semua agama sama? maksud saya begini. Tentu saja Tuhan itu Esa, dan dalam hati saya selalu ESA. tapi itu jika saya berpikir dan dalam lingkup manusia yang punya keyakinan serupa, agama islam. tapi saya tak akan mencerca agama lain dengan bilang bahwa agama saya-lah yang paling sempurna,agama saya yang paling membuat bahagia dan kalian akan masuk syurga. bahkan dalam al-Quran pun sudah disampaikan “bagimu agamamu, dan bagiku agamaku.” apalagi yang harus diributkan?

meski dalam hati saya teramat sangat meyakininya. bahwa tuntunan yang saya lakukan dan saya yakinkan adalah paling benar. begitupun dengan mereka yang menganut agama lain, hingga saya pun sulit untuk menggambarkan bagaimana keyakinan itu sendiri. ketika saya merasa nyaman dan menjadikannya suatu kebutuhan, hadirkan kedamaian, maka sejatinya saya sendiri yang membutuhkan kehadiran Tuhan sebagai penuntun jalan. maka sejatinya saya sendiri yang membutuhkan doa agar selalu merasa tentram.

tapi, bukankah mereka semua sama? kebaikan yang dituntunkan agama mereka pun pasti sama. mungkin kurang lebihnya begitu. masalah aqidah, atau keyakinan memang sering berseberangan. namun, jika dikaitkan dengan begitu banyaknya agama yang berada di sekeliling kita, dan kita ditempatkan di banyak situasi yang memang ada di lingkaran mereka, hindu budha islam Kristen katolik konghucu, saya akan tetap berkata, bahwa Tuhan tetap-Lah Esa. hanya nama-nya saja yang berbeda.

di hati mereka, pasti Tuhan itu ESA. Dan saya percaya!

kalau dia yang menuliskan bahwa Tuhan itu tidak Esa, untuk apa dia meyakininya? sedang keyakinan yang bercampur baur itu tidak akan murni membawa kenyamanan. kedamaian. harusnya kita sendiri yang menyadari, mempelajari, dan mematrinya dalam hati. sedang jika ada perbedaan pendapat biar saja, kita punya tuntunan dan tuntutan, dan akan selalu ada.

dan Agama mengatur kita untuk tidak saling mencerca. beda memang sudah ada sejak dulu, Tuhan pula yang menciptanya. kalau tak ada beda, mana mungkin kita bisa disebut sama? kalau tak ada beda, mana mungkin laki-laki dan wanita bisa dikatakan satu jiwa? lalu, bagaimana adam dan hawa kalau tak ada beda bersamanya?

ah, baiklah baiklah. saya hanya bisa berkomentar lewat tulisan, berargumen lewat tulisan, karena mereka-pun sama halnya melakukannya dengan tulisan. dan hingga nanti, jika kalian terus-terusan  mencari, sesungguhnya tak ada apapun yang kalian temukan. yang sesungguhnya, kedamaian itu dirasa hati, Dan Tuhan saya Yang Esa, Allah SWT. tentu saja akan selalu Esa.
tak ada embel-embel Masa ESa, karna DIA-Lah satu-satunya di hati saya. dan di hati mereka.  


No comments:

Post a Comment