.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 31 December 2012

Tersembunyi


            tadi malam, diam-diam aku bercerita, menggunakan kata ganti ketiga untuk bergantian mendongengkan satu hal yang pernah kulewati, tentang dia; yang entah dimana. meski sejujurnya semua itu tentang perasaanku padanya. seluruh rasa itu kuungkapkan. Tapi kau seperti biasa, tertawa kecil, menganggap semua itu lagi-lagi hanya sebuah lelucon. Sementara aku, membalas tawa-mu itu seperti batu besar yang harus rapat-rapat kusembunyikan.
            “hey, kau selalu pandai membuatku tertawa” matamu membulat, menepuk bahuku-yang kuanggap selalu mesra.
Aku tertegun lama. Kurasa kau hanya mencoba menyembunyikan perasaan saja.
“kalau serius bagaimana?” mataku tetap terpaku pada satu arah, meski tetap menyertakan senyum menggoda untuknya. Lurus memandang , ke matanya. Sedang ia berusaha tak gugup menangkap tatap sorot mataku yang mulai tak biasa. Harapan-harapan itu tak mampu kusembunyikan.
            “Haha, bukankah kau tahu dunia abstrak? Kalau kau tak jujur, mana bisa aku tahu” ia kembali pada rutinitasnya, tertawa sedikit, bersedih sedikit, memperhatikanku sedikit, menanggapiku sedikit, hingga urusan membenciku pun sedikit. Aku tersenyum kecut, dia kembali menepuk-nepuk bahuku. Semua embel-embel ‘sedikit’ yang ia berikan padaku itu nyatanya bisa membuatku terbujur kaku tak berdaya, mendamba cintanya. Dia kira aku memang selalu punya hal untuk dijadikan lelucon di hadapannya, sedang tentang rasa, mungkin aku terlalu naif menemukan cara untuk menyampaikannya.
            “ya, aku memang pura-pura” aku mengalah. Tak ada guna berselisih paham tentang suatu hal yang sama sekali ia tak ketahui. Di dalam sini, jujur, kadang kehilangan ada. Kadang kecewaan memenuhi sudut-sudut kepala dan memerintahkan agar tak usah lagi mau jadi tempat bahagia dan dukanya bersarang. Kecewa yang hadir tanpa realita yang sejujurnya. Kehilangan yang hadir tanpa memilikinya. Seperti hotel-hotel mewah menjulang tinggi, tak saling mengenal dimana dasar dimana ujungnya.  Sedang mereka saling berkaitan untuk menjaga keseimbangan.
Mungkin benar kata gandi, rasa kehilangan tak harus selalu ada setelah memilikinya. Seperti kali ini, meski aku tak pernah bisa merengkuh hatinya meski aku tak pernah bisa memiliki seutuhnya hatinya, aku kerapkali dilanda takut. Takut kehilangan waktu-waktu berharga yang sempat kami nikmati bersama.
Aku mengelus rambut panjangnya, menetralisir ketidakpekaan yang selalu mengekor di watak kekanakannya.
Dia tersenyum, berjalan seperti biasa. Menggamit lenganku manja, berceloteh panjang lebar sementara aku terus saja terbius untuk mendengarkan. Aku menyadari satu hal, setidaknya aku masih bisa menggenggam tangannya, setidaknya aku masih punya waktu menikmati senyumnya.


Jalur bebas :)


Di kanan kiri jalan spanduk selamat natal dan tahun baru ramai menghiasi jalanan. Di samping kanan, dengan baliho besar dan tulisan sedemikian rupa. Di samping kiri, dengan spanduk kecil bergambar artis dengan pajangan senyum dan gigi mempesona. Semua sibuk lalu lalang masuk toko-toko besar, swalayan, supermarket, mall besar untuk berburu diskon. Ya, selain baliho, pamflet, spanduk, poster yang menjamur sedemikian rupa, diskon dan banting harga besar-besaran terjadi tiap tahun. Dan kita? Selalu saja ikut buta demi melihat huruf dan angka yang tersaji dimana-mana. Lima persen, sepuluh persen, lima puluh persen. Bahkan mereka tak tahu kalau itu hanya akal-akalan kapitalis saja untuk menjual produknya, selebihnya tak ada banting harga disana. Hanya rekayasa angka saja.
Lihat saja di setiap sudut kota, semua sibuk menawarkan barang dagangan. Semua sibuk mengumpulkan kenangan.
Di depan mobil yang sedang kukendarai, penjual terompet dengan sepeda bututnya berkeliling, dagangannya masih banyak. Terompet berbagai macam bentuk, berbagai macam warna, juga rupa yang sekian tahun selalu bertambah referensi saja. Angry bird, saxophone, gitar,senapan laras panjang, seruling, entahlah tahun berikutnya akan berbentuk apa, mungkin ular piton berukuran besar sedang melilit ayam bisa juga dijadikan model terompet sebagai tanda pergantian tahun.
Hanya tinggal beberapa jam lagi, pergantian tahun terjadi. Dan sudah jadi rutinitas seperti biasa, jalanan utama kota ditutup, tak ada satupun kendaraan boleh masuk. Dan akan dipadati manusia-manusia berbagai macam rupa. Dari daerah mana saja datang ke kota-ku, berkumpul jadi satu dan melepas seluruh atribut jabatan yang dibebankan. Kota yang tadinya macet, bahkan malah jadi sepi demi mereka yang sibuk mencari oase di tempat lain. Meniup terompet, makan dan berkumpul di cottage termahal, memesan kafe paling romantis, hotel-hotel dengan view paling indah dengan latar langit kota yang sama. Langit kota jogja dan jakarta sama saja. Hanya dari sisi mana saja kita memandangnya.
            “gila! Macet banget nih kota! Orang yang liburan cepetan suruh balik gih. Bikin keki aja nih” si andre merutuk.
Sudah sejam yang lalu ia hanya bisa maju dua menit, berhenti sepuluh menit, maju tiga menit, berhenti sebelas menit. Hanya seperti ini dalam kurun waktu hampir satu jam. Sementara agenda dan janjinya tak bisa diundur lagi. Kaset yang hanya satu-satunya berada di mobil sport terbarunya itu sudah tiga kali diputar otomatis, hingga aku yang tadinya tak hafal jadi ikut hafal secara mendadak.
            “udah sih, nikmatin aja. Namanya juga liburan, bro!”
Aku menepuk-nepuk bahunya. Dia masih saja cemberut, mukanya ditekuk sedemikian rupa. Walau AC di mobil sport-mahalnya ini cukup ciamik untuk kunikmati, rasa-rasanya, dia tak begitu menikmati perjalanan weekend kali ini. Antrian panjang kali ini sepertinya cukup mengganggu mood-berliburnya.
            “nikmatin darimananya, gila aja lo! Gue udah bayar pajak mahal-mahal buat nih mobil. Sama aja antri, dapet macet juga bebeknya”. Mulutku sibuk mengikuti lyric lagu yang jedak-jeduk di sound mobil andre. Dia masih saja ngedumel sepanjang jalan, sementara siapa yang patut disalahkan? Jalanan? Mana bisa. Ia bukan makhluk yang bisa dimintai pertanggung jawaban. Turis domestik? Tentu saja tidak. Toh aku dan andre juga seringkali menikmati liburan di luar kota, membuat daftar macet jalanan semakin panjang pula. Atau kantor perpajakan? Menteri transportasi? Demi alasan membayar pajak lebih mahal? Ah, itu lebih tidak masuk akal. Dia membayar mahal karena memang dia yang membeli mobil merk luar, merk terkenal. Belum urusan ekspor, dan tetek bengek surat-surat yang harus diurus bagian pajak memang mengharuskan ia membayar lebih beban pajak. Dan satu hal lagi, ia mampu.
            “lo tau wacana sistem ganjil genap itu kan?” dia masih terus mencari bahan pembenaran. Kaset itu, sempurna empat kali terputar secara otomatis. Dan aku belum bosan untuk mendengar. Aku mengangguk-angguk bersama iringan musik yang disajikan, dua pulau terlampaui.
            “penting gak sih menurut lo? Duit-duit gue sendiri, mobil-mobil gue sendiri, kenapa harus diatur coba?
“Gak efisien kan?”
Aku fikir, adil-adil saja, toh memang akan seperti itu hukum di dunia. Kalau tak berdasar keadilan, pasti kemanfaatan. Tak bisa kedua-duanya disatukan, maka dari itu harus ada salah satu yang dikorbankan. Dan yang satu tadi, tentu saja tentang kemanfaatan, mengurangi macet kota yang sudah teramat parah menghabisi waktu senggang. Hitung saja berapa banyak waktu yang dihabiskan di jalanan? Atau lebih tepatnya ini hanya urusan kebijakan yang sedang diuji coba. Kalau tak diuji kelayakannya, mana bisa jadi panutan atau pedoman selanjutnya. Lagipula ini masih sekedar wacana, tak perlu sibuk mengurus kepentingan pemerintah.
Dia masih berkutat seputar mobil dan jalanan kota. Berdebat panjang lebar denganku, Sementara di luar sana, motor-motor yang semakin mengular itu sibuk saling meringsek. Maju merayap satu persatu. Bunyi klakson dimana-mana. Merasa paling ingin didahulukan. Aku menggeleng-geleng kepala, dua hal berlawanan sedang mengapitku.
 Aku jadi ingat percakapan dua hari lalu dengan pengendara ojek. Terpaksa, bukan karena sok kaya, atau sok mampu karena aku menggunakan kata terpaksa disini. Tapi lebih tepat karena biasanya aku yang mengenakan transportasi umum harus dipaksa berkejaran dengan waktu. Kemacetan menculikku, hanya untuk sekedar duduk diam di halte, sementara klien sudah menungguku. Jalanan? Masih saja sibuk dengan macetnya. Jadi, lebih baik meringkas waktu dengan mengebut bersama pengendara ojek itu.
            Pengendara ojek itu ber “puh” keras, mencaci pengendara mobil yang tak sengaja menyenggol kakinya baru saja, untung aku tak kena sedikitpun. Hanya saja cipratan airnya memang sedikit mengotori jas kerjaku.
            “begitu tuh, sok kaya. Baru punya mobil aja belagu”. Aku miris mendengarnya, sungguh. Sedang ia terus saja mengebut, menekan gas sebisanya, tak perduli jalanan makin mengular panjang. Tak perduli mobil-mobil itu sama bosannya menunggu antrian untuk lewat.
“eh, kenapa pak?” kuberanikan diri bertanya, berdalih menghormati keluhannnya tentang ramai kota, padahal sejujurnya aku hanya ingin tahu apa muasal umpatan yang baru saja ia keluarkan. “tidak apa-apa pak, kami ini orang kecil bisanya ya cuman beli motor bebek. Itu aja masih ngos-ngosan bayar kreditnya, lah mereka, udah punya mobil seenaknya aja ciprat sana-sini. Ya saya ngebut nggak papa toh, namanya juga orang kecil. Harus gesit, kalau nggak gesit nggak dapat banyak penumpang” bapak itu panjang lebar memberi penjelasan.
Aku justru menahan tawa. Benar-benar di luar yang bisa kupikirkan. Sementara andre sibuk mengumpat karena alasan pajak yang berlebihan, wacana ganjil genap, pajak yang akan dinaikkan, dan tukang ojek itu, merasa tak mampu lantas seenaknya membelah jalan. Mengebut seenaknya, menyalip, zig zag sana sini mirip pembalap terkenal se-dunia saja.
            “heh, lo denger gue nggak sih?” andre menempeleng kepala kananku.
Aku tersadar dari lamunan. Meringis agak lebar, lantas ber ha-ha-he-he karena tak sekalipun membalas obrolannya. “iye, gue denger”
Ah, dunia dunia. Semua sibuk mencari benar, benar salah jadi tak kelihatan. Marah dan marah yang kudengar, lebih baik aku kembali menikmati lantunan musik jalanan. Riuh klakson motor mobil, sopir sopir mengumpat, keringat dan asap yang bergumul bercampur, dan wajah-wajah penuh peluh. Sepertinya lebih nikmat tinimbang mengingat suara Andre dan tukang ojek tadi.

Sunday, 30 December 2012

Batas


            “bu, ibu. Alif lapar”.
Anak pertamanya mengelus-elus perutnya sejak dua jam lalu. Merajuk, bersandar di badan rapuh miliknya. Mengeluh kepadanya tentang betapa lemahnya ia, menahan rasa lapar yang melilit-lilit lambungnya sejak tadi. Bahkan untuk meredakan ingin anaknya itu, ia rela duduk berlama-lama disana. Membacakan dongeng untuk ketiga anaknya, bersamaan, meninggalkan dan melupakan rasa kantuk dan lelah yang sempat menderanya beberapa jam lalu pula. Ia sebenarnya pun merasakan hal yang sama, dua hari tepat keluarga kecil tanpa lelaki dewasa ini menahan lambungnya agar tak berbunyi meraung-raung meminta diisi haknya.
Tak tahu hendak meminta pada siapa, seolah kasih dan iba sudah tak ada lagi di sekeliling mereka. Lelaki yang dulu ia anggap sebagai pemimpin keluarganya, pergi, tega meninggalkan ia bersama anak-anak yang masih butuh banyak kebutuhan, pun kasih sayang. Pergi, berujar bahwa banyak kesempatan di luar, dan dia tak mau selamanya terkungkung dalam keterbatasan, ia tak mau terpenjara dalam kemiskinan. Ia ingat percakapan beberapa tahun silam, saat lelaki yang dulu mengucapkan ijab qabul untuknya itu memutuskan pergi, tak perduli lagi ada tiga darah daging yang masih butuh tanggung jawabnya, atau sekedar tangan kekarnya saja.
            “kau bahagia hidup seperti ini, hah?” wanita itu diam. Tetap diam. Menghormati lelaki yang ia anggap sebagai suami, sekaligus ayah ketiga anaknya.
            “kau puas hidup terlunta-lunta seperti ini?
“Sudah kubilang bukan. Kau cantik, melacur saja sana! Pasti uangmu akan banyak” dan ia terhenyak. Tak menyangka akan kalimat seperti itu yang keluar dari lelaki yang amat dihormatinya setelah prosesi qabul itu selesai dikumandangkan. Sayangnya ia tetap diam, ia masih yakin banyak hal masih bisa diusahakan. Bukan dengan caa tak pantas dan haram seperti yang diperintahkan suaminya. Meski hanya mampu menjadi buruh cuci, berjualan keliling itupun menjualkan barang dagangan orang, dan menjadi penjahit sewaktu senggang.
            Sementara anaknya terus meremas perut, ia terus lihai bercerita. Berharap tiga anaknya yang masih kecil itu tertidur dibuai harap, lelap, tak apa sekedar mimpi mengenyangkan mereka. Tak apa meski harus dengan terlelap lebih dulu mereka merasa tercukupi kebutuhannya. Dua anaknya sudah semakin terpejam, mulai lelap dengan cerita nina-bobo yang dikumandangkan olehnya. Sementara anaknya yang paling tua, sepertinya lebih sanggup menahan kantuknya.
            “bu, ibu, alif lapar”. Sekali lagi anaknya mencoba meminta, merajuk sekuat dia bisa. Meski dalam rumah sewa berukuran ala kadarnya itu hanya ada tikar dan tiga lembar sarung menemani mereka. Beserta satu kompor minyak yang bahkan sumbu-nya sudah mengering dimakan udara.
            “iya sebentar ya sayang, Sabar ya” ia tersenyum. Mengelus rambut pendek anak pertamanya. Anak sulung yang selalu mau membantunya, bahkan ketika ia sedang sibuk mencari uang kemana-mana, anaknya lah yang menjaga kedua adiknya, tanpa sedikitpun lalai meski hak-nya belum pula dipenuhi ibunya. Sayangnya dalam keadaan seperti ini, ia sungguh tak bisa berbuat apa-apa. Persediaan berasnya telah habis, sementara uang di kalengnya hanya tersisa lima ratus rupiah. Untuk apa? Membeli telur satu butir pun tak akan cukup. Lalu, pakai apa menggorengnya? Minyak pun ia tak punya.
Sudah berulang kali ia bolak-balik ke warung terdekat, meminta belas kasih sekedarnya, makanan sisa. Tapi hati mereka belum tergerak, entah karena lelah membantu, atau bosan melihat wajah susahnya terus-terusan mengiba.  Berhutang di toko? Tak mungkin lagi. Tumpukan utang yang tak sebanding dengan nominal uang yang ia gunakan untuk mencicil membuatnya tak lagi dipercaya. Ia maklum, uang harus terus diputar, dan selama ini terlalu banyak yang berhenti hanya untuk menyumpal mulut-mulut kelaparan milik keluarga kecilnya. Ia tak berharap banyak, nasi satu bungkus pun ia sudah akan teramat bersyukur menerimanya, bahkan dengan balas mencuci piring seharian penuh ia tak apa, asal anaknya makan. Tapi tak ada lagi yang mau ikut merasakan bebannya, barangkali memang belum ada.
            Ia ingat, sejak tadi pagi tak ada seorangpun yang menitipkan pakaian untuk ia cuci. Dua jam berkeliling kampung, barang dagangannya juga tak cukup mengeruk untung, hanya cukup untuk membeli air putih untuk meredakan hausnya. Sekali lagi ia melirik ke tubuh anak sulungnya.
            “sabar ya sayang, setelah dongeng ibu habis. Makanan pasti datang”
Mata alif berkilat. Ada sedikit harapan lagi terpancar di matanya demi mendengar kata “makanan” yang baru saja dikumandangkan ibunya. Barangkali ia merasa berdosa, karena telah berbohong lagi untuk hal ini, kesekian kalinya. Tapi ia mencoba memberi harapan pada diri sendiri, semoga masih ada sisa-sisa iba di luar sana.
            “benarkah bu? Sabar itu makanan apa?” ganti ia yang terhenyak.
Pertanyaan anak seumuran dia membuat dia makin tersadar. Bertahun ia menyimpan apa yang dinamai Tuhan menjadi sekumpul kata bernama sabar. Sekalipun ia tak tahu benar apa balasnya. Sekalipun ia tahu benar bagaimana beban yang harus dirasanya. Tapi ia berusaha memegang teguh prinsip yang mendiang ayahnya katakan di saat terakhir ayahnya di dunia. Ia hanya berusaha jadi manusia yang berpegang teguh pada tuntunan Tuhannya. Menahan seluruh kesusahan dengan perjuangan tetap ia lakukan. Hingga ia seringkali dimaki bodoh, tak tahu kesempatan besar di depan mata oleh suaminya.
Suaminya seringkali menginjak-injak harga dirinya dengan berkata “kau kenyang dengan sabarmu itu? Kau tahu, sabar hanya untuk orang-orang bodoh. Kau tak tahu bukan mana bedanya? Tipis sekali, dan aku yakin, kau itu wanita bodoh.” Sambil terus menendang membanting pintu, ia mencacinya, mengatainya bodoh karena tak mau menjadi pelacur seperti yang diminta oleh suaminya. Kalau bukan karena sabarnya itu, sudah pasti ia tak akan diam mendengar penghinaan yang terus terlontar.
Ia tak tahu bagaimana harus menjawabnya. Bahkan senyuman tulus pun tak akan mampu menjawab keheranan alif.
            “sabar bukan makanan sayang, sabar itu buat orang-orang yang sayang Sama Tuhan”. Alif diam. Mungkin kebingungan. Sementara pertanyaan yang dia ajukan itu membuatnya sejenak melupakan lilitan lapar yang membelenggunya beberapa jam. Ia tahu, penjelasan sedetail apapun tak mampu menjawab dan memenuhi deskripsi paling masuk akal tentang sabar.
            Alif menggeleng, “alif nggak ngerti, ada dongeng yang bisa menjelaskannya bu”. Ia mengangguk. Tersenyum menerima lagi pertanyaan itu, mungkin ini bantuan Tuhan untuk membuatnya tak lagi merajuk atas hal yang detik ini belum mampu ia usahakan. Hari sudah malam, tak mungkin lagi ia mengais makanan di tong sampah sementara sejak tadi hujan tak kunjung reda. Pasti lalat dan hewan lain sudah lebih dulu mengerubunginya.
            “alif masih ingat cerita tentang nabi ayub kan?
Yang di-sampaikan kakak cantik berkerudung merah itu?” alif mengangguk sigap. Beralih duduk manis di hadapan ibunya, ia ingin sekali mendengarnya dari mulut ibunya. Tentu saja dengan cara dan penyampaian yang berbeda, tapi ia menidurkan lagi alif, agar ia tak bisa menangkap kegelisahan dan keraguan yang sebenarnya ia simpan, tapi ia coba melupakan karena masih banyak kepala yang harus ia tanggung. Alif menurut, berebahan kembali di paha ibunya, tangan ibunya cepat kembali mengelus kepalanya. Dua adiknya sudah pulas, mungkin sedang bermimpi makan ayam goreng yang mereka lihat siang tadi di pinggir jalan. Dan mengalirlah cerita itu lancar dari ibunya.   
            “lalu batas sabar ibu dimana? Pasti lebih hebat dari nabi Ayyub kan?” kepala alif diangkat, menangkap raut- muka kaget yang ditampakkan olehnya.
            “sabar ibu ada sama alif. Alif kan anak baik, iya kan?” dan ia mengangguk, tak secepat sebelumnya. Kantuk menguasainya. Hingga mata itu ikut terpejam, mengikuti dua adik-adiknya yang sudah lebih dulu mengistirahatkan kelaparan yang mereka rasa. Sejujurnya ia tak pernah mengerti dimana garis batasnya, hingga cakrawala langit itu tersaji di depan mata. Tuhan hanya bilang, sabar tak pernah berbatas, kita sendiri yang membuatnya terlepas.
Ia tersenyum. “batas sabar itu ketika kita berhenti percaya, nak”.
Ibunya ikut tersenyum, mengecup lembut kening ketiga anaknya. bermimpi mencukupi seluruh kebutuhan hidup meski harus lebih dulu dengan memejamkan mata. Ia tahu, pagi akan kembali membawa kokoknya. dan ia akan berusaha sekuat tenaga untuk ketiga anaknya.


Saturday, 29 December 2012

Bollywood Bollydut


belum selesai saya menonton film india siang ini, film yang sebenarnya merupakan salah satu cerminan kehidupan manusia di banyak belah dunia. tapi kali ini saya bukan akan membahas tentang isi dan pesan yang dikandung di dalamnya. saya hanya berpikir sejenak tentang perbedaan bollywood dan bollydut (kalau anda mencari di google, atau Wikipedia, jelas tak ada arti yang tersedia disana. ini karangan saya saja :p )
bollywood, tentu kalian sudah begitu mengenal. untuk kalangan yang menyukai sekadarnya, untuk kalangan yang menggilainya, untuk kalangan yang biasa saja, bahkan untuk kalangan yang il-feel dengan film-film atau artis atau adegan yang ditampilkan di dalamnya. pelafalan kata bollywood sendiri sudah tidak asing lagi, karena menyerupai kata Hollywood, atau salah satu industry terkenal di dunia. yang tentu saja sudah banyak mengeluarkan film-film hebat dan film-film yang paling tidak mutu sekalipun.
bollywood itu sendiri sekarang terkenal dengan kategori sinema hindi. dengan percampuran banyak bahasa, dan tentu saja, lagu-lagu, kebudayaan dan tarian india. (Acha acha). dan actor=aktris sekarang yang paling terkenal tentu kalian tahu sendiri. artis yang beberapa hari lalu mampir di Jakarta dengan menyanyikan lagu secara lypsinc itu.
kembali lagi ke masalah bollywood, zaman sekarang, jarang sekali saya lihat anak muda yang secara frontal, atau tegas menyukai lagu-lagu india. karena yang saya perhatikan sejauh ini, mereka latah sama yang namanya k-pop. boyband, girlband. sok ngerock, sok nge-jazz. (kok nggak ada yang sok ngeroncong ya? k-cong :p) hehe
tapi eits, jangan salah sangka, penggemar bollywood hampir sama dengan penggemar film Hollywood atau bahkan drama korea yang mulai menjamur di anak muda Indonesia. mulai dari alasan pemainnya ganteng, mancung, cantik, lucu unyu-unyu, isi filmnya bagus, visualisasinya keren, lagu-lagunya bikin nyesek, bahkan sampai ke alasan paling lucu sekalipun, biar bisa joget sambil keliatan pusarnya. he he :p
tapi, di luar itu semua, agaknya saya paling peduli dengan keseluruhan isi cerita, meskipun pemain ikut saya pertimbangkan juga. banyak sekali fim india yang memberi nasihat tentang kehidupan, nggak sekedar kecelakaan, hilang ingatan, anak tiri ibu tiri, beda agama, bahkan hal nggak mutu seperti apa yaa? ah, saya rasa yang ini tidak perlu dibahas. komposisi backsound-nya juga pas, suaranya juga merdu enak, lyric-nya juga bagus. dan sebenarnya, karena saya sejak dulu memang menyukai dan hafal lyric lagu-nya :D
nah, yang mau saya bandingin dengan si bollywood adalah, mas/mbak bollydut. pasti sedikit banyak kalian udah tau apa pengertian bollydut. yap, betul sekali. bollydut itu singkatan yang berakhiran kata dangdut. dan lebih lengkapnya adalah bergoyang lidah ala dangdut. ahaaai ngaco :p
kalau kalian pernah liat film channel dua atau model-model film bergaya rhoma irama itu tuh? yang isinya dikit-dikit nyanyi, joget, galau, nangis, maka kalian sudah tau jawabannya. obyek yang kali ini dibandingkan adalah film itu. saya kurang tahu apa saja judulnya, tapi yang jelas, saya menemukan kejanggalan di kepala kita semua.
kenapa eh kenapa?
baiklah, yang pertama, sebenarnya akar dan instrument lagunya hampir sama antara india dengan dangdut Indonesia. ada tabuhan-tabuhan yang bikin pantat bergoyang. tapi sekali lagi, di Indonesia tidak ada budaya menari dengan menyanyi seperti di india sana, sehingga film-film yang ada di channel nomor dua di televise saya itu menjadi acara terbawah yang harus jadi daftar pilihan bagaimana bisa?
yah, bukan munafik untuk mengakui bahwa film itu memang bukan genre film yang saya suka. tapi terlebih karena anggapan kalangan muda seperti saya, bahwa film itu alay, lebay. mereka lebih suka dianggap keren dengan suka genre action, romantic, atau apalah yang temennya banyak. sehingga mereka yang suka jadi tidak bebas mengungkapkan, suka dalam diam-aseeek, alias menyembunyikan kebenaran perasaan. hee
berbeda dengan film india yang latar untuk bernyanyi-nya selalu indah, bagus, dan sedap dipandang, bahkan sampai dibela-belain nyari view bagus di luar negeri. nah, di film channel nomor dua saya, latarnya selalu rumah besar bergaya klasik dan pepohonan atau taman yang sungguh yang ditampilkan hanya mayoritas berwarna hijau.
cerita pun bisa ditebak, kalau nggak anak durhaka, anak tiri disiksa ibu tiri (berarti ibu durhaka), ketimpangan strata sosial dan bikin cinta jadi nestapa, kaya miskin. susah gampang. alamak! saya jadi kadang tidak bisa menikmati jalan cerita, bahkan mungkin jadi banyak ketawanya yang ada. bukan dengan niat merendahkan, meremehkan, atau bahkan melecehkan. saya hanya menyampaikan apa yang ada di kepala.
kalau dilihat dari pemain-nya, mereka juga berbakat, ganteng? jangan dikira. mereka cukup tampan jika dinilai secara keseluruhan. cantik? menurut saya tidak jelek juga. jadi kurang apa dengan film bollywood yang sebenarnya konteksnya sama. film dengan lagu-lagu di dalamnya. dan jangan dikira, penikmat mereka banyak juga loh!
kalau tidak percaya silahkan baca data statistic penonton televise kita. dank arena itu film itu jadi awet bertahan entah sudah berapa lama. salah satu alasan yang paling masuk akal yang bisa saya kemukakan adalah, karena film berbentuk drama seperti itu hanya satu-satunya di channel nomor dua. sedang channel lain, sibuk menampilkan cinta, horror Indonesia, dan berita. jadi inilah warna perfilm-an kita.
ah, terlepas dari itu semua. seharusnya bollywood dan bollydut boleh saja jadi saudara akrab, bahkan kandung-pun boleh. jadi, syah-syah saja kita mau menyukai atau menikmatinya, itu tergantung selera kita.   

Berkaca


           semua hal yang ada di sekeliling kita merupakan cermin, dan Tuhan memerintahkan untuk digunakan sebaik-baiknya. dalam beberapa ayat al Qur’an disebutkan, bahwa dunia berisi pelajaran/hikmah/pengetahuan, dan tentu saja ini semua bagi orang yang beriman, bagi orang yang mau memperhatikan, dan bagi orang yang mau menyadari kekeliruan.
       dalam banyak situasi dan keadaan, kita tak selalu bercermin pada kaca/ karena yang ditampilkan di hadapnya hanya tampilan fisik saja. berapa panjang rambut kita, berbentuk bagaimana wajah kita, mata, hidung, dan segala macam atribut wajah yang sudah dianugerahkan bersama kelahiran kita.
       cermin itu sesungguhnya ada pada banyak hal. kalau saja kita mau memperhatikan. bercermin dari pensil misalkan, seperti yang tertulis dalam buku Paulo Coelho yang berjudul seperti air mengalir. maka pensil itu bisa diibaratkan manusia, yang secara rinci dibagi dalam lima point. yang pertama tentang ia yang selalu merasa sakit ketika disayat, yang kedua tentang bukan tampilan luar yang berguna, tapi grafit di dalamnya lah yang seharusnya diperhatikan. karena ia yang menghasilkan tulisan.
yang ketiga, tentang ia yang selalu membutuhkan tangan, untuk menggerakkan dan menggoyangkannya di atas kertas dan menuangkan pikiran. yang ke-empat, tentang bagaimana pensil yang mau dan rela menghapus bagian yang salah dari apa yang dituliskannya. dan yang terakhir, tentang pensil, yang sedemikian tipis atau bagusnya, akan selalu meninggalkan bekas/jejak di kertas yang telah ia torehkan.
dan begitulah kehidupan.
          kita bisa bercermin pada banyak hal. pada kerasnya batu, karena tanpanya, bangunan-bangunan besar, gedung mewah bertingkat itu belum tentu memiliki pondasi sedemikian kuat. pada burung-burung yang beterbangan, yang menyampaikan, di belahan dunia lain, di langit dan luas bumi terhampar banyak keindahan. tersaji banyak kejadian. pada dingin dan panasnya udara, pada ribuan air hujan dan air terjun yang turun namun tidak mematikan, karena Allah sudah mengatur berapa kecepatan yang bisa kita rasakan ketika sampai dan menyentuh ujung-ujung kepala. pada pelangi yang menyejukkan mata, setelah badai terhadir mendahuluinya. 
        pada kunang-kunang, Karena hadirnya yang membawa sedikit terang. bahkan melihatnya bisa jadi membuat tenang. meskipun seperti mata-mata yang tak lelah mengawasi kita.
pada orang-orang di sekeliling kita yang menyikapi dan mengalami lika-liku dunia dengan caranya. memahami mereka dan kejadian yang ada dengan sisi yang berbeda. karena kita selalu harus banyak memperhatikan. bercermin pada setiap hal. karena bukan saja cermin (kaca) yang dapat memantulkan bayangan, bukan saja cermin yang mampu memberi penilaian, langit dan bumi-pun memiliki beragam pelajaran untuk membuat kita semua berkaca dan mengambilnya sebagai pelajaran.
          mata dan hati kita punya beberapa sisi yang sama, menerima dan meyakini kebenaran yang diberikan Tuhan di sekeliling kita. selamat berkaca pada dunia :D


Checkagain


dulu. saya hanya meyakini, bahwa apa yang saya lakukan adalah benar. apa yang saya lakukan selalu benar, dan menyenangkan. terlepas dari hal itu menyakitkan, menyebalkan, atau salah di mata orang. tapi satu saja yang saya yakini, selama saya tidak membuat orang lain tersakiti, maka yang saya lakukan tetaplah benar. tak ada yang bisa merubah pendirian.
harga mati untuk sebuah keyakinan yang tidak dinamis. alias kaku.
tapi seiring waktu berjalan, dengan sedemikian manusia lewat dan lalu lalang masuk ke kehidupan, dengan begitu banyak hal yang saya ikuti dan lewati, rasanya keyakinan itu berbalik menyerang saya dengan sendirinya. senjata makan tuan. saya termakan kata-kata yang saya buat, saya terbebani dengan yakin yang saya pegang selama ini. sama seperti kebenaran manusia, selalu berjalan sebagaimana bila ada rumus baru ditemuinya.  
dan rumus yang kemudian menuntun saya ini adalah kebenaran perasaan, atau insting.
saya tidak akan berbicara panjang lebar tentang perasaan, benar atau salah. cinta atau benci. nyaman atau tidak nyaman. dan sebagainya. karena semakin banyak kita mencari alasan, maka kita sebenarnya hanya mencari pembenaran.
saya mulai tahu, banyak hal saya abaikan, banyak hal saya lalaikan, padahal ini ketentuan Tuhan. harusnya saya mengikuti saja, tanpa banyak bertanya. perasaan yang merasa selalu benar di masa muda itulah yang ternyata menjerumuskan saya, menjadi orang yang menganggap diri paling netral dan paling toleran pun selalu dilingkupi ketidaksepahaman.
mudah saja, dalam hal berpakaian, saya tau. dalam aturan, yang harus saya hijabi adalah seluruh badan, menutup aurat dengan dispensasi wajah dan telapak tangan. tapi saya tetap kukuh pada pendirian, merasa tak salah karena mengagungkan kenyamanan. begitupun dengan masalah aqidah, hal se-sepele mengucapkan selamat natal pun dulu pernah saya lakukan, karena saya menganggap saya adalah orang yang paling netral, asal tak menyakiti maka sudah. tapi nyatanya saya tahu, saya menyalahi satu aqidah yang dipegang Rasul. toleransi bukan tentang memberi ucapan atau ikut merayakan, toleransi lebih jelas pada saling pengertian dan menghormati. mendoakan pun sudah termasuk toleransi.
kita tahu hal itu salah, tapi perasaan nyaman itu membuat kita malas berpikir.perasaan paling benar itu membuat kita malas berubah. dan malas membenarkannya. kita justru tetap mempertahankan, mungkin itu salah satu hal yang masih menjadi kekurangan.
perasaan nyaman itu kadang membuat gelap mata. bahkan buta. seperti halnya kenyamanan dalam mengeruk harta dengan cara tidak halal. kita tahu, hal itu salah, tapi demi menerima kenyamanan yang diberikan dari harta segudang, mereka lupa dosa yang mengekor di balik kenyamanan itu. mereka lupa, atau mungkin kita sendiri, pura-pura lupa bahwa banyak kebohongan dan kerugian yang kita ciptakan.
lebih tepatnya, kita mencoba lupa. kita hilang ingatan tidak pada tempatnya.
pacaran, seks bebas, korupsi, mabuk-mabukan, dan segudang keburukan lain mungkin hanya diawali dari rasa nyaman, hingga “candu” itu mengakar dan sulit untuk membuatnya lepas, meski kita merasa salah sekalipun, kita membiarkan kesalahan itu tetap terulang.
bukankah selama tak ada yang secara langsung tersakiti maka kita akan selalu benar? nah inilah perasaan itu. ternyata saya salah besar. ternyata saya masih jauh dari benar, hingga saya ragu bisakah saya masuk ke salah satu pintu surge. rasanya malah makin jauh saja. saya teramat munafik dan polos menyikapi ketidaktahuan. sehingga justru dari perasaan inilah muncul banyak ketidak beresan dalam hidup.
terkadang kita memang harus menekan banyak keinginan. menjadi bodoh untuk sejenak hanya untuk membela kebenaran. menjadi tuli untuk suara-suara di kepala yang sudah lama mematri bahwa kenyamanan-lah yang paling utama. proses panjang dan pengetahuan mungkin akan mengantar kita pada tebing kejujuran. yang saya yakin, waktunya tidak sebentar.  
saya hanya tahu, bahwa kenyamanan ini harus segera dirubah. keyakinan dan kebenaran jelas bukan hanya mengurusi kenyamanan satu orang saja. dunia diisi begitu banyak kepala, hingga satu-satunya hal yang menjadi tuntunan kita haruslah yang murni dari tendensi banyak manusia. dan tentu saja, hal itu adalah Al-Qur’an dan sunah rasul.
 keyakinan dan kerukunan selalu mengatasnamakan kebaikan. apa jadinya kalau “kenyamanan” masing-masing yang diutamakan? rusuh. debat. selisih paham. tawuran. demo.? entahlah apa lagi deret kejadian yang akan mengikutinya.
kenyamanan bukan pondasi awal suatu kebenaran. dan kenyamanan, bukan-lah hal yang patut selalu dituruti dalam setiap keadaan.
membaca, mendengar, melihat, memahami dan berpikir membuat kita makin tahu banyak hal, namun sejatinya, kita makin tidak paham dengan jalan yang pernah kita lakukan. semoga kenyamanan itu tidak malah menjerumuskan. kita selalu punya pilihan.
menjadi sadar itu mudah, tapi merubahnya yang susah.