.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 25 November 2012

Aku tahu, dia tahu, Tuhan pun pasti Tahu.


laki-laki itu sedang berebah terlentang di atas ranjangnya, menatap langit-langit atap yang begitu banyak ditempeli poster para filsuf yang dikaguminya. di sudut kana nada bintang dan tempelan bulan yang menyala saat tak ada lampu menyentuh kamar itu. hanya gelap, pantulan gambar-gambar poster dari selarik sinar dari matanya, dan juga bintang tempelan itu yang terus mengawasinya. aku membuka pintu pelan, ini masih sore, belum waktunya tidur dan bersantai dan sepanjang hari mengurung diri di dalam kamar. kuperhatikan ia tak sedikitpun bergerak, menggeser ataupun hela nafasnya saja tak kudengar. hanya bayangan ada tubuh seorang yang kulihat, aku undur diri dari kamarnya.
            aku tahu dia mendengar gagang pintu ditekan, dan pastilah dia juga dengar  kala aku masuk karena pintu kamarnya berderit sedikit keras. tapi tak sedikitpun ia menoleh, mungkin ia lagi-lagi tak mau diganggu dari  rutinitas merenungnya. setiap pagi ia akan pergi bekerja, lantas entah apa saja yang dilakukannya disana, tepat pukul tiga sore dia datang tanpa pernah terlambat. sedikitnya lima menit ia akan menyetel lagu-lagu klasik dari tape di kamarnya, tak keras, tak juga teramat pelan, tapi aku selalu dengar. iringan music yang mengalun lembut, mendayu-dayu dan menyakitkan. gesekan biola yang membius hati agar ikut menyelami nada dalam sakitnya. ah, aku tak begitu mengerti lagu yang disukainya itu, tanpa pernah bosan, tanpa pernah alfa mendengarnya. selepas itu, ia hanya akan seperti tadi. terlentang melemaskan kaki badannya, dan menatap langit kamar tanpa terang perlu ia gunakan.
tadinya aku hanya ingin sampaikan, bahwa ada tamu menunggunya di luar, dan lagi makanan sudah siap untuk disantap bersama. tapi demi melihat dirinya yang tanpa respon apa-apa aku tahu, dia sedang tak ingin bertemu siapapun. dan aku lagi-lagi harus berbohong, untuk berkata bahwa laki-laki itu sedang tak ada disini.
banyak orang enggan bertanya, juga enggan lebih lanjut mengetahui apa sabab musababnya ia bisa berubah se-drastis itu. pola pikir yang tak sama dengan mayoritas manusia lain, ia teramat suka sendiri. entah suka atau dia mencoba menjauhi dunia dengan diamnya. hanya mungkin semua pertanyaan itu disimpan dalam benak di kepala mereka masing-masing. begitupun denganku yang telah lama tinggal bersamanya. aku pun tak mengerti, apa di luar sana ia juga sama diamnya? mencemooh orang-orang yang tak pernah sama pikir dengannya? dan lagi menohok mereka dengan aksi gila- menyerangnya dengan pertanyaan sok idealis yang ia punya?
interaksi dia lakukan beberapa kali dalam sehari. jarang kutemui dia berbicara panjang lebar padaku, seperti di waktu- kanak-kanak dulu. hanya saat hendak makan, akan berangkat kerja dan pulang. itu saja, selebihnya ia tak pernah lagi banyak berbincang denganku. bahkan rasa-rasanya, aku hanya sendirian menempati rumah sebesar ini.
laki-laki itu abangku. saudara satu-satunya yang aku punya dan hanya berdua kami tinggal di rumah ini. dan lagi ada satu asisten rumah tangga yang kubayar untuk memasak dan membereskan rumah, itupun hanya beberapa jam saja. lagipula hanya aku yang sering memberikan instruksi pada bik iyah. abang? ah, jangan harap ia akan berbicara pada orang selain-ku di rumah ini. ia menutup mulut rapat-rapat dari segala carut marut rasa. ia tak pernah menghendaki siapapun tahu bagaimana dunianya merunut semua cerita. yang ia tahu, ia bisa hidup sendiri. dengan rutinitasnya di balik pintu dan kaca jendela yang tak boleh disentuh siapapun kecuali dia.
bik iyah pun seringkali bertanya apa abang baik-baik saja, atau trauma apa yang pernah diterima olehnya. entahlah, bahkan aku saja yang mengaku adiknya tak pernah tau kenapa ia bisa sekeras itu pada dirinya sendiri. pada idealnya, pada seluruh mau yang ia benarkan dari kepalanya. aku sendiri tak habis pikir, bisakah ia hidup tanpa bantuan dan interaksi teman-temannya? aku saja yang berstatus saudara hanya akan menerima sapa-nya tiga kali setiap hari. tak pernah kurang tak pernah lebih. mungkin hanya itu kewajiban yang ada di kepalanya untuk tetap jaga status saudara yang kami punya.
abang tidak galak, tak posesif, tidak juga pelit memberikan apa-apanya untukku ketika diminta. hanya satu saja kurangnya, ia teramat yakin bahwa dunia menjaminkan ia bisa bertahan tanpa yang lain. itu adalah satu rumus pastinya. bahwa hidupnya hanya hidupnya. tak ada sangkut paut dan kesinambungan dengan siklus yang lainnya. pahala dan dosa hanya ia sendiri yang bawa, lagipula ia lahir dan mati untuk sendiri pula. aku benar tak mengerti. pikiran mana yang telah merasuki sadarnya, tapi aku lelah juga memberitahunya. karna inilah hidup baginya. aku fikir, mungkin ia takut kecewa, atau wajah-wajah munafik yang memang melengkapi siklus dua mata. abang tidak pernah sadar, ia hadir lewat perantara manusia lain. Yang orang lain tak pernah tahu, abang kelewat setia. Hingga seluruh duka itu dibawanya kemana saja.
pernah kutanya, “apa abang tak lelah menyendiri? mengkungkung hati hanya untuk dinikmati sendiri. bukankah lebih enak berbagi, bang?”
“tak usah banyak ceramah untukku, yang kutahu nanti aku-pun bakal sendiri menanggung selaput duka dan sepi.” aku terdiam. benar, seluruhnya benar yang dikatakan abang. hanya saja tak harus seperti ini ia menyikapi.
“tapi abang tak bisa sendiri?”
“siapa bilang?”
“dunia tak hanya tentang kecewa bang, masih ada bahagia. bukankah abang sendiri yang mengajarkannya padaku?”
“tak ada siapapun yang mengerti dunia!” ia pergi meninggalkanku dengan membanting pintu.
“tapi abang masih punya hati.” Aku mendesis. Aku tahu semua ini tak berguna kalau hanya aku saja yang berusaha, sedangkan ia sendiri membuang rasanya jauh-jauh dari kepala. Seandainya saja ada yang mau tahu, abang hanya ingin sejenak dimengerti. Mencintai dan dicintai layak disandang siapapun. Bahkan untuk mereka yang telah pergi. Abang belum saja sadar, kalau hidup memang memberikan paket dua sisi yang berlainan dan kadang menyakitkan. Dan itulah rotasi, tak ada halusinasi dalam urusan hati.
lima tahun lalu abang tak seperti ini. ia periang dan mudah berbaur dalam segala hal. dan lagi ia adalah guru dan teman terbaik yang kupunya saat bingung dan beberapa pertanyaan rumit menggantung di kepala. ia selalu memberiku sisi berbeda saat menghadapi suatu permasalahan, mungkin inilah mulanya. ia lebih suka mengambil sisi yang tak sama ketika orang lain berkata hal serupa. baginya langit dan bumi berbeda. baginya hidup dan mati-pun berbeda. dan baginya lagi, sendiri dan bersama juga satu hal yang sangat berbeda. sempat menyimpan cita-cita dan asa bersama telah luruhkan segalanya, hingga ia tak lagi mau sibuk urusi hal lain dunia dan basa-basi bercerita apa yang dirasanya. mungkin ia sedikit mati rasa karna kecewa.
aku tahu apa yang sempat dialaminya, ia pergi ditinggal mati tunangannya yang pertama. kali kedua, ia harus pula menelan kecewa karna tunangannya justru sibuk main serong dengan temannya. setelah itu, orang tua kami meninggal di saat ia sedang pergi menyendiri entah kemana. suka mungkin sudah tak begitu berarti di hidupnya, hanya sesal dan pedih yang tersisa. entah berapa ton sesak yang ia simpan karna tega tak melihat rupa orang tuanya sesaat sebelum orang tua kami dikebumikan. sungguh, bukan ia yang punya kemauan. tapi kala itu aku benar tak tahu dimana ia berada. nomor telponnya tak selipun tersambung, alamat aku tak tahu. hingga ia harus pulang untuk bertubi menerima lagi kecewa, orang tuanya telah tiada.
barangkali abang akan mendapat pencerahan kalau ia mau sekali lagi membuka hatinya. meremajakan rasanya bahwa tak segalanya akan berakhir duka. ini hanya satu sisi saja, berulang kali aku sampaikan ini kea bang. bahkan walau abang tak pernah mau mendengarkannya, sampai lelah mulutku berbusa-busa. abang tetap memilih menutup seluruh celah untuk kembali mencinta. dua kali ditinggalkan dalam kubang sepi membuatnya teramat jauh dari nyata bumi. entah ia sedang menjejakkan kaki di bumi atau di tempat lain, ia seperti tak punya asa. selaput perih itu tetap ada, dan hanya ia sendiri yang rasa. hanya ia sendiri menatap luka dengan rasa yang sama. meski waktu telah bosan menunggunya.
sempat abang mencoba kembali pada cerianya, tapi sepertinya trauma itu lebih kental dalam jiwanya. tiap kali berdekatan dengan orang yang mulai disukanya, abang lebih memilih menjauh. menutup semua akses yang mereka punya. abang justru menjadi penjahat nomor satu untuk mengombang-ambingkan perasaan wanitanya. hingga mereka akhirnya menyerah, memilih pergi karna abang tak pernah memberinya labirin dalam hati.
barangkali abang akan kembali seperti dulu, kalau saja ada seorang wanita yang mau menemaninya dan menerimanya tanpa cela. menerima pikirnya bahwa sendiri memang sudah takdir yang dituliskan Tuhan untuk semua manusia. abang mungkin butuh wanita berhati baja yang akan berkata setia menunggu abang mengobati sendiri luka lamanya, hingga masa depan kembali diacuhkannya. tapi belum ada sekalipun wanita yang datang dan menunggunya setia. tiap kali aku harus berbohong pada mereka, mereka akan berpamitan dan pergi. dan tak akan pernah kembali lagi.
abang, seharusnya kau sadar. kalau angka satu saja dapat berdiri karna ada dua, hingga angka selanjutnya. dua kali terluka untuk abang hanya test tingkat kenaikan saja agar bahagia itu lebih terasa. agar abang bisa mencari penyembuh luka dalam cerita dan siklus manusia lainnya. bukan dengan meratapi dan bersembunyi di balik gelap dan jendela kamar.
suara pelan seseorang mengetuk pintu. kupanggil bik iyah berulang kali, dan berulang kali pula hanya suaraku yang terdengar menggema. tak ada sahutan. terpaksa aku turun, berlari kea rah depan membukakan pintu sendiri. mungkin bibi sedang belanja keluar. kudapati seorang wanita manis yang begitu anggun dalam tampilannya. kelihatannya sabar dan penyayang. ia bilang ia mencari abang, aku persilahkan ia masuk. aku pamit memanggilkannya untuk abang.
“bang, ada tamu tuh!”
ia menoleh ke arah pintu, aku tak berani masuk lebih dalam. hanya sekian centimeter batasku untuk memanggilnya dari luar. selebihnya kamar itu menjadi kawasan otoriternya. aku tahu ia menunggu beritaku selanjutnya, kubilang ia seorang perempuan dan ciri lain yang dimilikinya. ia tetap diam, tak lagi mau menoleh memberiku kepastian.
entah kali ini aku harus jujur atau berbohong lagi untuk beratus-ratus kalinya. biarlah, tak akan kutemui tamu itu hingga wanita itu bosan dan menunggu abang turun dengan sendirinya.
dua jam aku bersembunyi di kamar, kutengok ruang tamu dari atas. masih ada sesosok manusia duduk di kursi yang sama. separuh gelasnya sudah tak terisi. ia sibuk menengok kesana kemari, gelisah membuatnya tak nyaman duduk di kursi seempuk itu. yang membuatku terkejut, abang pun menengok kea rah yang sama dari sudut berbeda. menikmati seseorang yang masih mau bersabar menunggunya.
tak perlu ada lagi interaksi, aku tahu, perempuan yang sedang letih menunggu itu- tahu, Tuhan pun pasti tahu. abang masih punya tulus hati yang disimpannya sendiri.  

Saturday, 24 November 2012

Hanya aku yang tak mau tahu

mungkin kau sedang memperhatikanku dari jauh sana, meski entah lewat apa. lewat udara yang berhembus dan menguap jadi awan biru langit terhampar, lewat hujan rintik-rintik yang bawa ketenangan sekaligus keremangan, atau lewat desah nafas kehilanganku yang seolah belum mau terlepas dari raga. setiap pagi tak pernah lepas, dan barang alfa sedetikpun, sedikitpun menyiapkan segala keperluanmu. secangkir kopi yang setengah manis dan granule beberapa tuang kuhidangkan di samping kursi bacamu, Koran langgananmu sudah tersaji disitu. sejak tadi bahkan kau belum membukanya, masih dalam posisi semula. tergulung rapi dengan karet berwarna merah mencengkeram tubuhnya.
            aku masih di tempat yang sama, memandangi jendela sambil menyulam gambar boneka beruang besar beralas kain berlubang disana-sini untuk merajut benang di atasnya. tentu kau tak lupa bukan? aku suka sekali merajut dan membuat sweater untukmu. kau sendiri yang menyuruhku membuatka sweater halus dari tanganku sendiri. di lemari sempat tersampir beberapa hasil karyaku yang selalu menghangatkanmu itu. tapi tadi pagi kudapati seluruh baju penghangat itu rapi dan lengkap didalam almari. tertata di tempat yang sama selama sekian hari, mungkinkah kau sudah enggan memakainya sayang? atau sudah kau dapati kehangatan di luar sana, dan tak denganku?
            mataku mencari jarum jahit yang tak sengaja terjatuh di sela kursi ruang tamu. terhimpit pondasi kursi yang begitu besar. aku meraba-raba kolong kursi, masih belum kutemui. kutengok kau dari balik jendela, kau belum duduk disana. barangkali kau masih terlelap pulas dalam kantukmu semalam. atau malah kau sedang bersiap mengagetkanku dengan mengecup pundakku mesra dari belakangku, tiba-tiba dan membuatku menghentikan sejenak rutinitas biasa. tak ada yang pernah melewatkannya, tak juga kau dan anak semata wayang kita. kalian selalu suka memelukku dari belakang, mengagetkanku dan mengecup pipi lantas pergi seenaknya. dan aku akan tersenyum sambil lambaikan tangan dan berteriak, “hati-hati di jalan sayang”.
            kutunggu beberapa menit, kau masih belum datang. aku harap-harap cemas menunggu kau terbangun. aku takut kopi yang kusuguhkan terlanjur menguap, dan hangat itu tak lagi merambat. memberikan sensasi berbeda karna aku yang meraciknya untukmu. kau sedang apa disana? aku rehat sejenak dan berbalik tengokkan kepala ke pintu kamar. gagang pintu masih sama bentuknya, belum tersentuh siapapun sejak aku meninggalkannya beberapa waktu lalu. kenapa tidurmu begitu nyenyak malam ini sayang? hingga kokok ayam tak lagi kau acuhkan, hingga kopi kesukaanmu kau biarkan tanpa sentuhan.
            aku terdiam. teringat sesuatu tiap malam merangkak pagi. kau akan selalu bangun lebih dulu dan bangunkanku dengan menarik pelan lenganku. memberikan kecupan hangat hingga kantuk yang sebelumnya membelenggu itu sedikit demi sedikit memudar, digantikan nyala terang kokok ayam jantan yang tandai petang akan hilang. kita yang akan beribadah bersama, kau duduk takjim menyebut asma Tuhan dengan perantara tasbih di tangan, dan aku berjalan lambat menggoda kau yang tetap saja sabar tunggu aku datang.
            Seseorang tampak berlari kecil masuk lewat gerbang depan, aku beranjak pelan. meletakkan sulaman-ku di sofa dan menemui orang di luar sana. ternyata porter pengantar karangan bunga langganan. kuterima sambil senyum terus mengambang, ia melihatku heran. sedangkan beberapa hari lalu aku masih kalap dan pucat menyambutnya untuk menerima bunga seperti biasa.
ah, sayang, kau masih saja perlakukanku layaknya ratu. tiap pagi kau kirimkan sebuket bunga untuk menyambut hariku agar lebih indah nantinya. porter itu pergi dengan selembar tanda tangan yang selesai kububuhkan. sambil kuletakkan bunga itu di vas depan, kutengok lagi secangkir kopi yang sudah sedari tadi kuhidangkan. ah, benar bukan. kopi ini sudah berubah dingin! dan gulungan Koran itu belum pula berubah dari posisi semula. kau misterius sekali hari ini, sayang!
            aku masuk ke dalam rumah, membawa serta cangkir yang telah berembun di pinggirnya. kuganti ia dengan yang baru, mungkin lebih baik jika kubawa langsung ia ke kamar kita. sekaligus membangunkanmu karna nyatanya aku bangun lebih dulu. hari ini tampak aneh sayang. aku rasa tak ada yang hilang seperti biasanya, rasa cintaku dan hangat damai rumah ini masih terasa. masih ada fotomu dan fotoku yang sudah tak serupa dengan aslinya, kita memang sudah menua. tapi selaput batas itu kurasakan sendiri. aku kadang bingung dan lupa banyak hal, berbolak-balik mengitari seisi rumah padahal sejatinya aku tak tahu benar apa yang kucari.
            kuputar kenop pintu kamar, di kasur itu tak kutemui tubuhmu. tubuh tua  yang telah menemani sekian tahun sedihku, bahagiaku, dan juga beribu gelombang rasa yang tertanam dalam kalbu. memenuhi janji seia sekata bersama sampai ajal dan izrail pisahkan roh kita. aku masih ingat pertama kali kita membeli ranjang itu. bertahun-tahun lalu aku yang memilihkannya untuk kita, sebagai pengganti ranjang tua kita yang telah lapuk dimakan usia. mungkin sekarang ganti kita yang termakan usia, wajah kita kisut dan melorot sepanjang dunia makin bertambah di depan mata.
ranjang tempat dimana kau akan menghambur memelukku setelah seharian letih dengan urusan kerja. atau kau yang menenangkanku kala khawatir dan gundah menambah bumbu curiga. setidak-tidaknya masih ada bahu kokohmu tempat sandarkan penatku.
tempat tidur itu masih rapi, mungkin memang sudah kurapikan sejak tadi. lebih dalam aku masuk, kubuka pintu kamar mandi, tak kutemui pula tubuhmu disana. tetap kosong! hanya foto pernikahan kita di atas televise yang hadirkan kelebatan cerita lama saat aku dan kau gaungkan janji seia sekata bersama di atas suka duka.
aku masih begitu mengingatnya. meski potongan-potongan itu makin kabur dimakan senja, dimakan rapuhnya otakku yang ikut menua pula. saat itu aku masih berkepala dua, kaupun tak jauh berbeda. dengan gagah berani menunjukkan kesungguhanmu, kau datang ke rumahku, ditemui ayah dan ibu yang banyak sekali memojokkanmu. bak sidang yang mengadili pesakitan di ruang sidang sana. pertanyaan macam-macam dari kedua orang tua ku kau jawab sempurna, dengan mantap kau bilang ingin meminangku sebelum mekar dan sedap bunga rumah ini dilihat kumbang lainnya. ah, mengapa kau begitu melekat di kepala. aku tersenyum sendiri mengingatnya.
aku menepuk dahi, entah pikun ini bertambah atau aku yang menyengajai diri melupakannya. mungkin kau memang sudah berangkat bekerja sejak petang, hingga dua cangkir kopi itu dingin dan aku berubah bosan.
hari makin malam, sedari tadi aku sibuk menunggumu pulang. sudah kubuatkan makanan kesukaanmu sayang. ayam bakar dan nasi gurih yang selalu kau santap nikmat dengan tangan, masakanku yang katamu selalu sedap ditelan pencernaan. ah iya, hari ini tanggal 9 bukan? bukankah hari ulang tahun emas perkawinan kita? apakah kau mengingatnya sayang? jangan-jangan disana kau sedang siapkan kejutan untukku hingga kau lupa memberiku kabar. tahun-tahun sebelumnya kau selalu begitu, kadang membuatku marah dan jengkel lebih dulu, kadang pula kau pergi tanpa pamit padaku. dan lebih menyebalkan lagi saat seharian penuh aku menunggumu tapi tak sekalipun kau memberi kabar padaku, hingga segala kemungkinan mampir silih berganti di benakku. 
aku tengok jam di pergelangan tangan, sudah pukul tujuh malam. sejak kokok ayam berbunyi hingga senja terselimuti malam, aku masih menunggumu. tentu saja aku sabar, sayang. makanan kesukaanku sudah kusiapkan di meja makan. kututup dengan tudung saji tanpa sedikitpun meninggalkan lubang, lalat-lalat itu sudah berebut ingin ikut makan. aku tak akan sudi membuatmu di nomor duakan.
aku lemas duduk di meja depan, sambil terus kuganti channel televise yang kutonton. sepuluh menit, dua puluh menit, aku tertidur tak sengajar. maafkan aku kalau kantuk ini mengalahkan setiaku menunggumu, berulang kali mengoap dan kutengok pintu. satu jam, dua jam berlalu. maaf aku lagi-lagi tertidur sayang. aku melirik sekilas, kudengar ada seseorang di luar mengetuk pintu. mungkin itu kamu. aku berlari menyambar jaket yang tersampir di lantai, tergesa aku memutar kunci pintu menyambutmu datang.
ah, ternyata anak kita yang datang sayang. dia mencium tanganku hangat, menyalamiku takzim seperti biasanya. kutanyakan padanya, “dimana ayah, nak?” dia hanya terdiam. lama. matanya seperti sembunyikan luka. selaput kesedihan yang tersembunyi di balik takzimnya menyalami tangan tua ku memenuhi kebiasaan. dia masuk tanpa berkata-kata. hanya desahan pelan yang terdengar pelan, dan ia tinggalkanku yang masih termangu menunggu jawaban.
"ayah sudah tidur bu!" anak semata wayangku bicara remang. entah tak mau membuatku terluka, atau sejatinya dia sendiri yang menyembunyikan sedihnya.
"kata siapa? DIA ADA." aku melotot marah, merah. "bahkan tadi pagi ibu masih membuatkan kopi dan memasak untuk ayah."
kutengok lagi luar, barangkali ia akan datang dan mengagetkan, mungkin ia sengaja  bersembunyi di balik pintu. tapi tak kudapati siapapun, hanya karangan bunga yang masih banyak berjejer rapi di halaman. karangan bunga yang masih tegak namun sedikit basah tercium rintik hujan sejak siang.
 aku terduduk lemas, mataku mulai berembun. bayang-bayang lampu tak mau muncul lagi terangi pandangku. seketika aku tersadar, hanya aku yang tak mau tahu, bahwa dunia kami tak lagi satu.
           

Friday, 23 November 2012

Tak punya Nyali

berteriak saat kau pergi!
dimana harus kupercayai kata dan sucinya nurani?
nyatanya kau sendiri yang pengecut dan putuskan pendar jiwa dalam selongsong percaya diri.
mana nyali?

ucap hebatmu datang silih berganti
bilang bahwa lari hanya merusak wibawa dan hati
nyatanya kau ingkari
nyatanya kau jalani
membawa lari bahagia dan tancapkan duri

apa gunanya lama bertahan dari dan libatkan hati
nodai rasa agar jalan mudah terlewati
sisipkan kesalahpahaman dan kecamuk dunia agar kau bisa seenaknya sembunyikan emosi.

Tak Punya Nyali!

darah, merah

Berkalung derita, semburkan gelora.
mereka berdiri tegak hentikan siksa yang ingin merebut buminya
sejenak tundukkan kepala dan basuh luka
kendalikan dan tekan amarah sekecil kutu kepala
hanya darah dan puing-puing jiwa yang tersiswa!
tinggalkan perih dan benci di tiap kaki menjejak bumi manusia

bertahta ragu yang mendakwa
memacu dendam dan amarah yang tak pernah padam
hanya darah ... marah ... jengah, dimana-mana
tak kulihat lagi iba 

tafsir manusia

burung-burung berkicau sampaikan bebasnya mengelana
mencari bahagia sesuka sayap menuntunnya kemana saja
iruh rendah terbang kelilingi luas atap dunia
tak seperti manusia, terpenjara sendiri tafsirnya!
membunuh sengaja angan dan kuasanya
malah anggunkan ego dan duga-duga.

ikan-ikan berenang ke ujung sana,
berbalik kemari menyentuh dingin kaki yang sengaja ceburkan diri dalam ketidakpastian ragawi.
pelan tapi pasti, mulutnya sisihkan daki
tertarik bibir ini sadari geli menelusup dalam hati.

kenapa tak kau sadarkan saja geli dalam hati?
sayangnya hanya mampu jangkau kaki.
atau, hanya sekedar mimpi?

Bermimpi saja sana

ketakutanmu sama !
manusia-manusia penuh ambisi yang terlalu rakus taklukkan dunia.
hingga halal dan haram sama absurdnya
hingga apa yang kita ingin makin tak jelas rupanya.

bermimpi saja sana!

-
dunia dalam tafsirnya.
ada kamu, aku, kita
kadang tanpa satu nyata kita agungkan setan di kepala
menjelma jadi kuasa rasa yang membahana
merong rong asa dan percaya

hanya bisa menatap tanpa bisa berkata
sekat yang kita buat makin dekat
ingin kubabat!
tapi membuatnya musnah, begitu berat.

-
selalu ada bahagia tercecer luka
mungkin hanya ia yang antarkan pada nyata rasa-rasa

-
berganti bulan hangatmu memudar perlahan.
tak ingin lagi tanamkan kepala jadi kelam
semoga nyalanya tak harus padam

-

Aku butuh jeda

aku butuh jeda
meresapi makna rasamu yang sederhana
dalam tiap waktu dan ungkapan kata yang hanya bisa kau cerna
aku butuh jeda
untuk menerima dan tak lagi mereka indah dan bahagia dunia
dalam iringan cerita yang sanggup terus kita ukir bersama

aku butuh jeda
untuk pejamkan mata dan bayangkan ada tawamu disana hangatkan gundah raga
dan rasakan semua ini nyata
bukan lagi sekedar bayang-bayang dan asa-ku dalam doa

aku butuh jeda
untuk redakan ego yang meluap dan meledak-ledak karna buncah dada
dan bertahan untuk terus tambatkan rasa ini padanya
sungguh, aku butuh jeda
hingga ucapmu hadirkan percaya
bahwa cinta tlah merengkuh angan kita

Patah

HIlang!
semua angan dan tanya yang membelit damba menjadi berang.
Pudar!
semua dakwa dan janji yang terpatri gaung dunia, habis kubakar.

Lepas!
semua hal yang kita tegas.
Musnah!

Kini hanya onggokan rasa tanpa karsa dan terkulai lemah.
sisakan Patah!

mana bisa!

bayang-bayang ilusi coba singkirkan nyata
aku tak tahu mana yang harus kupercaya
kau yang hanya bisa kuraba dan sekedar kurasa
atau dia yang memilih terjebak dambanya

hingga akhirnya imaji melebur dalam prasangka
membumihanguskan karsa menjadi tak lagi istimewa
masihkah semua tanya membebat realita?
atau dunia enggan buka semua tanya-tanya dan izinkan manusia lega bersama bahagia seutuhnya.
Mana bisa!

mati rasa

entah ...
entah akan jadi apa rasa
tanpa balas dan senyumnya
tanpa ukiran kenangan yang dituliskan bersamanya

meski harus menunggu senja berlama-lama
meski harus menunggu kokok ayam merusuhi nyenyak telinga
entah ...
biar saja kunikmati seadanya!
agar aku tak lagi mati rasa.

sumpah pemuda 21:02

Thursday, 22 November 2012

sepi yang kubuat sendiri


“kenapa sepi sekali?”
aku berteriak di tengah-tengah ruangan. memanggil salah satu dari mereka yang sedang asyik masyuk saling tatap menatapku. kuulangi lagi Tanya itu, kenapa ruangan seramai ini tak ada seorangpun yang bicara? bisu-kah mereka? kenapa tak bisa kudengar apa-apa? tak ada jawaban apapun dari mereka. tak seorangpun! hanya beratus pasang mata yang menatapku aneh, seolah aku yang membikin kegaduhan itu sendiri disini.
“HAI!” aku berdiri, merasakan kegamangan dan aneh yang tak bisa kumengerti.
“tak bisakah kalian bicara?“ makin kalap aku berteriak, sepertinya tak ada yang mendengarkanku disini. “Binyo? Sinta? Rega? kenapa sepi sekali ruangan ini? kuarahkan pandangan mata mengelilingi sudut-sudut ruangan. mulut mereka bergerak, komat-kamit kesana kemari sambil tangannya menunjuk ke arah wajahku. kuamati lagi dengan seksama, mulut mereka bergerak-gerak lancar. satu sama lain asyik berhadap-hadapan, di sudut sana mereka sedang tertawa. di sudut lain lagi ada yang sedang sibuk memainkan gitar dan anggukan kepala sambil tak lupa mulutnya ikut bergerak, kenapa aku ini?
“HEI!” aku menepuk kepalaku sedikit keras. kenapa hatiku se-sepi ini? hingga tak kurasakan dan tak mampu kudengarkan seluruh suara yang di ruangan ini.   
aku tergeragap sejenak, sinta menepuk pundakku dari belakang. mengagetkanku pada satu keadaan yang makin tak kumengerti. “kok nglamun aja?” sinta pelan menyadarkanku dari lamunan sejenak. sepi dan gundah yang merajai hati ternyata yang membuatku terasa sepi. sejenak setelah ia menepuk tadi, ganti hingar binger suara banyak urusan disini. seperti kotek induk ayam yang sedang menjaga anaknya, tanpa henti dan awas memberikan ancaman pada apapun hal mencurigakan yang ada di hadapannya.
“kok nglamun aja?” sinta menepuk untuk kedua kalinya, ah ternyata aku belum sadar sepenuhnya. baru beberapa detik lalu aku rasa seluruhnya sepi. sepertinya realita menyembunyikan segalanya dari mataku yang terbatas menatapnya. suara-suara tak lagi kudengar sempurna, kotek dan kokok di sekitar pun tak lagi menggema, hanya sepi yang memenjara. “sedikit pusing saja”. kuambil tas di sebelah dudukku, aku berdiri dan sampirkan sekenanya. jalanku sempoyongan, mencoba kembalikan lagi sadar yang terebut sepi dalam jelma gerak bibir tanpa suara.
“benarkah aku sendiri yang mendekap curiga?” sepertinya aku memang butuh rehat sejenak dari rutinitas biasa.
***
sudah lama aku merasa krisis percaya pada banyak kepala yang biasa menemaniku menghabiskan hari-hari seperti biasa. satu persatu dengan sendirinya kubebani dengan Tanya yang aku tak bisa menjawabnya. mulai dari ketidaksukaanku pada satu hal yang membuat benci merasuk dan menanami prasangka lainnya. aku tak begitu mengerti bagaimana penyakit ini bekerja, hanya saja rasanya makin hari ketidak beresan ini memenjara duniaku jadi makin sempit tak bertenaga. Aku hamper gila karena dibebat curiga! Dan benci yang menjelma jadi bayang-bayang di belakangnya.
“kenapa kau pucat sekali?” salah satu teman dekatku bertanya ramah, tak kuacuhkan pertanyaan yang sekaligus perhatian itu. hanya anggukan dan lirikan saja yang kuarahkan padanya. ia ikut diam, mungkin merasa tak perlu lagi melanjutkan Tanya.
hari itu aku sedang cerah sekali ingin sampaikan kabar bahagia, memilih dua hal dari pilihan tiap pagi yang kupunya, bahagia atau sedih saja yang kutampakkan pada mereka. dengan menggebu kukatakan pada mereka segala angan dan teguh yang kupegang dan kupatri dalam dada, mungkin saja mereka simpati karena aku temannya. hingga suatu kali salah satu dari mereka yang berseberangan pendirian membuatku tak lagi menaruh simpati padanya, “mudah sekali ia goyah pada goda dunia”. begitu kusampaikan pada teman yang lainnya, mungkin aku telah satu kali paksakan argumenku pada kepala mereka.
lain lagi saat membahas pentingnya jalinan asmara dan komitmen yang jujur lahir dari kepala mereka sendiri. aku dengan tegas mengatakan, bahwa tak perlu berlebihan menyikapi. jadi saja orang yang mengalir, apa adanya, berusaha memperbaiki diri lebih baik tentunya daripada berbual terus menerus tentang prinsip diri. untuk kali kedua aku memaksakan argument-ku pada mereka. entah dulu aku terasuki setan mana, hingga egois ini membuat banyak kepala justru tak begitu menerka bagaimana otakku penuh bekerja.
seseorang yang dulu teramat dekat, mungkin saja istimewa, atau mungkin saja sudah kuanggap pelipur lara ikut mulai menepikan hatinya untukku. tak seperti biasanya, aku rasa mereka mulai membuat dinding super tebal untuk hindari segala macam bujuk dan argument lepasku yang tanpa pikir panjang. dinding itu kini sedikit demi sedikit mulai menebal, di samping kiri, kanan, atas, bawah, depan belakang. dan sepi itu mulai menelisik ketika mereka ternyata sudah tak lagi mau peduli.
masih aktif kuikuti mereka disana-sini, tertawa dengarkan mereka yang bercakap dan bincangkan kelucuan dari diri mereka, tentu saja tanpa remehkan kekurangan satu sama lainnya. aku memilih diam, aku mulai takut dinding itu dibuat mereka juga. mereka ikut memandangiku curiga, katanya kenapa aku lebih banyak diam dan tak seperti biasanya. hanya senyum yang tak memuaskan yang kuberikan, aku hanya tak ingin salah lagi memberikan penilaian.
organisasi yang menuntut dan melibatkan namaku pun masih sering kuikuti, bahkan selalu ada hadirku disana. tapi rasanya aku teramat kecil dan tak lagi bisa membanggakan diriku yang sebenarnya, meski hanya sekedar ingin diakui eksistensi-ku seperti biasa. kututup dari segala arah interaksi yang mereka buka, sekali lagi aku takut menunjukkan argument pada dunia. aku takut lagi satu persatu pergi membuat dan mengerukkan luka untukku disana.
pertanyaan demi pertanyaan makin sering kudengar, kenapa aku lebih banyak diam sekarang? kira-nya mereka punya salah yang menyakitkan? atau gerangan sakit apa yang kuderitakan? lagi-lagi hanya senyuman yang kuulungkan. mereka mulai memilih diam, seperti aku yang berusaha taklukkan kekhawatiran dengan diam.
“akhir-akhir ini kau tak bersemangat, masalah apa yang kau simpan dan membuat gerakmu tak leluasa?” rega, salah satu sahabat dekatku memilih bertanya. lagi-lagi aku dibelit takut dan ragu dalam dada. ingin sekali berkata-kata, meluapkan apapun semaunya, tentang aku yang tak lagi percaya pada siapapun dan apapun isi dunia. menyampaikan bahwa aku ingin lagi dianggap istimewa, dengan tak perlu siapapun pergi dan meninggalkan jalinan yang lama terajut bahagia. tapi semua kata itu tertelan dalam kata dan angan saja, aku menunduk tanpa satu patah pun ia tahu seluk beluknya.
paginya ganti meira yang bertanya, mencoba mendekat kemanapun aku berusaha menjaga jarak dari mereka. aku menjauh, dia justru mendekat. aku pergi, ia justru menarikku kembali. aku diam, ia malah banyak bertanya. aku rasa pikiranku sendiri yang menjadi boomerang untuk segala duga dan prasangka. sering aku bertanya pada diri sendiri, benarkah semua yang kukhawatirkan adanya? benarkah mereka tinggalkan aku dan rela melepas karsa? benarkah semua prinsip dan pendirian yang kupunya? atau jangan-jangan semua hanya reka-rekaku saja! jangan-jangan semua itu hanya sekedar takutku pada realita? ah, sepertinya memang aku sedang dilanda wabah percaya. aku terdiam, menundukkan kepala.
***
“kenapa sepi sekali?”
aku berteriak di tengah-tengah ruangan. memanggil salah satu dari mereka yang sedang asyik masyuk saling tatap menatapku. kuulangi lagi Tanya itu, kenapa ruangan seramai ini tak ada seorangpun yang bicara? bisu-kah mereka? kenapa tak bisa kudengar apa-apa? tak ada jawaban apapun dari mereka. tak seorangpun! hanya beratus pasang mata yang menatapku aneh, seolah aku yang membikin kegaduhan itu sendiri disini.
“HEI!” aku berdiri, merasakan kegamangan dan aneh yang tak bisa kumengerti.
“tak bisakah kalian bicara?“ makin kalap aku berteriak, sepertinya tak ada yang mendengarkanku disini. “Binyo? Sinta? Rega? kenapa sepi sekali ruangan ini? kuarahkan pandangan mata mengelilingi sudut-sudut ruangan. mulut mereka bergerak, komat-kamit kesana kemari sambil tangannya menunjuk kea rah wajahku. kuamati lagi dengan seksama, mulut mereka bergerak-gerak lancar. satu sama lain asyik berhadap-hadapan, di sudut sana mereka sedang tertawa. di sudut lain lagi ada yang sedang sibuk memainkan gitar dan anggukan kepala sambil tak lupa mulutnya ikut bergerak, kenapa aku ini?
aku tergeragap sejenak, sinta menepuk pundakku dari belakang. mengagetkanku pada satu keadaan yang makin tak kumengerti. “kok nglamun aja?” sinta pelan menyadarkanku dari lamunan sejenak. sepi dan gundah yang merajai hati ternyata yang membuatku terasa sepi. sejenak setelah ia menepuk tadi, ganti hingar binger suara banyak urusan disini. seperti kotek induk ayam yang sedang menjaga anaknya, tanpa henti dan awas memberikan ancaman pada apapun hal mencurigakan yang ada di hadapannya.
“kok nglamun aja?” sinta menepuk untuk kedua kalinya, ah ternyata aku belum sadar sepenuhnya. baru beberapa detik lalu aku rasa seluruhnya sepi. sepertinya realita menyembunyikan segalanya dari mataku yang terbatas menatapnya. suara-suara tak lagi kudengar sempurna, kotek dan kokok di sekitar pun tak lagi menggema, hanya sepi yang memenjara. “sedikit pusing saja”. kuambil tas di sebelah dudukku, aku berdiri dan sampirkan sekenanya. jalanku sempoyongan, mencoba kembalikan lagi sadar yang terebut sepi dalam jelma gerak bibir tanpa suara.
“benarkah aku sendiri yang mendekap curiga?” sepertinya aku memang butuh rehat sejenak dari rutinitas biasa.
tak seperti yang kuduga, sinta, rega dan meira mengejarku. aku tak menyadari dalam kegamangan berjalan, mereka justru mengejarku sekian kencangnya. aku berbalik pelan, mendengar suara-suara yang entah benar atau tidak menggema di telinga. sejujurnya aku tak yakin mendengar mereka mau memanggil lagi namaku dari mulutnya, tapi tetap saja kupaksakan diri menoleh. ah, ternyata benar! mereka benar memanggilku.
aku berhenti, menunggu mereka sampai dan pikirkan apa gerangan yang membuat mereka ingin bertemu lagi denganku. tapi lagi-lagi hanya pikiran buruk yang merusuhi kepalaku, hanya ada gambar bahwa mereka mungkin saja akan ikut memboikot pertemananku dengan mereka, hingga tinggal aku sebatang kara.
sambil ngos-ngosan meira menyetopku. menyentuh pelan bahuku, rega dan sinta juga. mereka ikut membenahi nafas yang sedikit kalang kabut karena mengejarku tadi. “ada apa?” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku. tak ada sedikitpun ramah yang kurasakan keluar untuk mereka, mungkin saja curiga lagi-lagi membuat hangatku terpenjara.
“kau kenapa? ada yang salah dengan kami semua? atau kau ada masalah? kenapa tak cerita? tak percaya lagi-kah kau pada kami? kita kan teman. kau kenapa? sedihmu tentu saja sedih kami pula, bicaralah!
satu persatu pertanyaan mereka tersampir di kepala, dan curigaku musnah seketika. mereka tak pernah ingin meninggalkanku sendiri saja. mereka juga tak pernah sekalipun menganggapku tak lagi istimewa. mungkin benar kalau kerumitan dan krisis percayaku yang menyisihkan hangat dan ramah persahabatan ini, mungkin juga aku tak bisa mengendalikan curiga dan pikiran buruk tentang mereka dan kubenarkan adanya, hingga sepi menjalar di seluruh benak dan gambaran dunia.
mungkin tak sepantasnya aku memaksakan isi kepalaku pada mereka. menjejalkan banyak argument yang kukukuhkan untuk dibenarkan mereka pula. mungkin juga, tak sepantasnya aku mengarang-ngarang, memaksakan jalan cerita dan takdir dunia. kalau rasaku selalu sama, tentang benci, tentang cinta, tentang sayang, cemburu, dan segelintir tafsiran rasa lainnya. mungkin saja pikiran sempitku yang membuat segalanya meremang akhirnya, hingga kepercayaan yang lama dibangun musnah seketika. ah, aku tahu, mereka punya sendiri jalan cerita. mereka punya sendiri keyakinan dan kebenaran di kepala. tak perlulah kupaksakan kebenaran subyektif ini pada mereka, hingga harus perpecahan yang kuterima.
 aku yang salah duga, nyatanya aku sendiri yang bergumul pada tafsiran rasa-rasa yang munculkan Tanya dan curiga. aku terlalu sibuk mengurusi kepentingan diri tanpa perlu bertanya bagaimana pendapat mereka. harusnya aku sadari sejak dulu, bahwa aku ini manusia, dan tak ada sempurna yang paling sempurna diantara kita. sejatinya hanya kepala dan hati yang membuat beda dan luka, padahal mungkin saja lagi-lagi itu hanya sekedar ketakutan kita jalani lika-liku dunia.  
kupeluk mereka satu persatu, sampaikan beribu maaf dan meminta pengertian atas segala salah yang kulayangkan pada mereka. mereka tersennyum, memelukku sama hangatnya,  memberikan kembali senyum tulus persahabatan yang harusnya memang selalu kuberikan untuk mereka. harusnya aku belajar dari mereka, untuk tak selalu menomorsatukan kelebatan curiga di kepala tinimbang mengedepankan keutuhan rasa bersama.