.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Monday, 29 October 2012

Aku ... kamu, dan tawa ;)

Aku butuh waktu lama ...
untuk meresapi tiap detik, menit, jam yang kita habiskan bersama.
dalam diam, dalam kata sederhana, dalam keremangan damba dan dalam pancaran mata kita.
saat kita kesampingkan segala urusan dan tetek bengek dunia dalam nakal muda kita.

aku butuh rasakan lebih lama.
saat ego mengambil alih segalanya ...
Dan amarahku berkuasa.
menyentuh titik titik rasa yang merengkuh rasio kita .
menggaungkan puncak bahagia meski entah seperti apa.
jiwa muda kita tetap berirama

aku butuh waktu lebih lama.
membiarkan hati kembali merasa.
mungkin ketika tertawa terbahak bahagia ...
Mungkin juga ketika sesak menahan tangis tertahan yang memilukan mata.
tak apa, asal kau disana

aku butuh kamu lebih lama.
entah siapapun nama yang kamu punya.
untuk mengajarkan angkuh dan sombong tak akan membahagiakan raga.
untuk memberiku selaksa cahaya jiwa yang mampu gerakkan bibir untuk terus mendulang tawa.

aku ... Kamu, tangis dan tawa
nyatanya memang selalu bersama :-)

Wednesday, 24 October 2012

Terlanjur jatuh hati ...

sulit untuk tak lagi menunjukkan peduli.
membiarkan jari jemari menahan kata yang ingin sekali menjumpai.
bahkan tadi kita masih saling bertatap dalam diam diri
Meski waktu berkonspirasi mempertemukan kita dalam sepi
memutuskan tak harus bertegur sapa karna aku yang menyuruhmu pergi.
tapi aku terlanjur jatuh hati ...
sepertinya munafik harus kuakui
kububuhkan tanda agar kau pergi
tapi sejatinya hati kecil ingin sekali kau menolak dan berkata aku tetap ingin mencintai dan dicintai
mungkin saja aku yang terlampau emosi
atau malaikat berbaik hati mengingatkanku agar tak perlu lagi berkubang dalam penyesalan diri
sungguh, tadi aku tak tahu kalau kita harus bertemu
rasanya ada kalimat dan teguran yang ingin kau tujukan padaku
meski lagi-lagi ternyata diam itu lebih memenjara gengsimu
ah, itu mungkin memang hak-mu.
tapi aku merindukanmu.
kecewa dan tersiksa itu mungkin sempat ada disana
tapi nyatanya, ketika kau tak lagi ada,  aku yang terluka
entah disana kau sedang berdoa apa
berdoa agar aku mengerti atau kita cukup saja sampai disini.
baiklah, akan kupaksa sekuat tenaga menahan rindu dalam dada
menasbihkan luka yang mungkin tak seberapa lama
kutunggu kau dalam diam-mu yang terpaksa ada
semoga kau letih memunafikan rasa
# beri aku jeda, agar aku bisa terbiasa
menghapus rasa yg tak semudah memupuk rasa ketika kau mulai ada

Mati Menggelepar

Esok nyatanya kita harus kembali bertemu.
menyimpan rindu dalam lirik curian yang kau arahkan padaku.
dalam senyum yang sembunyi-sembunyi kau layangkan untukku.
apa sekedar begitu membahagiakanmu?
esok takdir sudah berbaik hati memberi kesempatan.
pertemuan-pertemuan yang sungguh kebetulan.
pertemuan mingguan yang entah mendebarkan atau justru membosankan.
kau dan aku terbekap diam.
tak ada yang mampu artikan.
tak ada satu mata pun yang mampu terjemahkan.
apa makna kita yang saling sembunyikan gumpal-gumpal rasa yang kian membesar.
apa itu yang kau namai kesucian?
bertumpu dalam damba yang menyakitkan tanpa kepastian.
menunggu langit memberi lagi jalan.
padahal celah ini sudah teramat sangat lebar.
kenapa masih saja kau dustakan aku yang hampir mati menggelepar?
menahan rasa sayang yang tak mungkin segera kusirnakan.

Tuesday, 23 October 2012

aku cinta, tapi kau lupa.


Akhirnya aku kembali lagi ke satu titik yang paling tak ingin kulalui. Satu titik kecil yang amat menghantui diri, bahkan sejatinya ketika aku berusaha mengenyahkannya sepenuh hati, ingin menghapusnya sekuat tenaga ia tetap tak mudah pergi. Satu titik yang membuatku kembali lagi patah hati, mengulang duka dan nestapa itu dalam satu nama, kecewa. Adakah yang tak pernah bosan merasakannya? Atau justru terlampau sering bertemu hingga rasanya tak ada istimewanya, jatuh cinta dan terluka itu sama biasanya.
Entah kenapa hari ini sesak datang tiba-tiba, ketika mereka menyebutkan satu nama yang sejatinya sudah kutahu tak pernah jujur mendulang rasa. Bahkan tatapnya pun tak pernah sejelas rasa yang seringkali kuduga-duga. “heh, lo tau kan dia LDR?” dalam hati hanya mengiyakan saja, meski awalnya tak tahu siapa yang mereka maksud dalam pembicaraan itu. “siapa maksud, lo?” kukendalikan nada bicara, memastikan bahwa memang aku memang tak membuat mereka curiga. “itu tuh si fadli, dia hebat ya bisa setia” di kejauhan sana mereka tertawa kagum, mendongengkan satu persatu kisah nyata dialami seseorang yang diam-diam kucinta. Namun entah kenapa rasanya kecewa menyembul di ujung tawa. Sesak bercampur di dalam riang yang kuhadirkan di hadapan mereka.
“eits tunggu! Kok lo pucet gitu, jangan-jangaaan lo naksir sama dia yaaaa, key?” rasti heboh menggoda, tak tahu kalau aku sedang mati-matian menyembunyikan sedikit sembilu yang menancap persis di dada. “haha, ya enggaklah. Dia bukan tipe gue ras” aku terpaksa menawarkan senyum simpul yang nyatanya mungkin sebuah kemunafikan. Tangisku tertahan, dalam sebuah harap yang entah dimana tersembunyi kepastian.
Perbincangan singkat itu nyatanya malah membuat otak menghadirkan prasangka buruk padanya. Tentang sikap kekanakannya, tentang lugunya, tentang manjanya, dan tentang semua kalimat dan sapa mesranya. Awalnya mungkin ini tak berbeda dari jalinan sahabat dengan yang lainnya, hanya sekedar saling bercerita lantas mengalir saja. Tak ada yang tau kami bahkan sudah sedekat apa, menjanjikan dan memimpikan esok nanti merajut cinta bahagia, bahkan semua harapnya ia kumandangkan di telinga ketika bersama. Lalu, semua ini apa namanya? Mungkinkah dusta, atau kau yang pandai sekali sembunyikan cinta?
Pulang ke kost, di perjalanan tadi, segala sesuatunya Nampak suram, absurd dan menyakitkan. Terlalu banyak pertanyaan berjejal di kepala. Ini memang hati yang kadang berjalan tanpa kendali, tapi kenapa harus ketika jalinan ini sudah lama memilin-milin hari? Kenapa kendali diri tak mampu diaktifkan seiring aku yang berulang kali berkata ingin pergi? Sejujurnya aku tak tahu, mana yang harus lebih dulu kurenungi. Mungkinkah aku yang salah menduga? Atau dia yang terlampau tak pernah terbuka dengan apa yang dirasanya? Mungkinkah memang biasa saja, dan hanya aku yang menganggapnya istimewa? Ah, kalau begitu, mungkin rasa ini harus segera kubuat sirna.
Bulan lalu, sempat kubilang hal yang sama padanya. Tentang keinginanku pergi, tapi ia bilang “jangan berpikir itu lagi”. Aku lagi-lagi tak kuasa menolaknya, mungkin separuh hatiku sudah gila dengan mengiyakan lagi berada di dekatnya. Mengorbankan diri menjadi korban bulat-bulat dalam kumparan rasa yang tanpa jelas dalam nada tak berirama.
“kalau ada satu hal yang boleh kau minta, kau mau minta apa dari-ku?” itu dulu pertanyaannya, dan kujawab saja, aku tak bisa meminta apapun darinya. Mengenalmu saja aku sudah teramat bahagia, Karena kita memang tak ada apa-apa. Tapi apakah kalimat yang kuberikan itu jujur pada dunia? Ah, bulshit. Kau bahkan tak tahu mana yang jujur, dan mana yang dusta. Kau tahu apa yang kurasa? Sakit menyembunyikan fakta, bahwa rasa ini makin teramat dalam rasanya.
***
Aku mengenalmu dalam sebuah jumpa tak terduga. Menyapa hangat karena kita yang duduk bersisian begitu dekat. “hey, namaku fadli” kau ulurkan tangan tanda  ajakan sahabat. Kugenggam erat tangan yang kau ulurkan, tepat. Dan senyum pertamaku mungkin saja membuat tidurmu tak nyenyak.
Tak ada yang kutahu selain kau pandai bicara, selain kau yang suka sekali berkata kau suka sekali sederhana. Yang kutahu lagi, kau hanya sebatas cerita, mungkin juga menunjukkan betapa ramahnya pribadimu dengan memberiku sapa riang yang kadang, membuatku mabuk kepayang. Satu bulan, dua bulan, enam bulan, kita nyaman jalani cerita. Meski hanya berbalut pesan dan senyum tanpa suara. Bercerita di tiap akhir hari dan berkata, “selamat tidur”. Tapi rasanya itu cukup membuatku terpesona, dan kukira kau-pun juga.
“apa aku sesuai dengan seleramu?” itu lagi pertanyaanmu yang membuatku tersipu, membuat sejujurnya anganku melambung satu persatu. Ah, tapi hari ini kuketahui belangmu. Atau bukan belang yang lebih tepat menggambarkan kesemuan itu. Ya, kau memang pemberi harap palsu. Palsu untuk berkata kalau kau rindu padaku. Palsu untuk berkata kalau aku cantik di hatimu, dan palsu untuk semua manis pujianmu terhadap semua puisiku untukmu. Atau lagi-lagi, aku yang berlebihan menyambut balasmu?

“fadli, kini cukuplah aku bertahan dengan harapku. Tak apa meski sedikit melukaiku, tak apa kalau nyatanya tangisanku harus kembali mewarnai lagu-lagu yang kutunjukkan padamu dulu. Mungkin kau salah satu pemberi hikmah berkesinambungan dari Tuhan, bahwa harapan berlebihan itu teramat menyakitkan. Dan tak akan ku-ulangi lagi hatiku merapal namamu dari kejauhan, hanya untuk sekedar memastikan apakah aku layak kau nantikan.” Sambil berbaring memutar lagu sendu, kuusap airmata yang merembes dari sudut mata beberapa menit lalu. Menatap langit-langit kamar dan menertawai diri, bahwa luka karna patah hati kembali lagi”.
 Lagu-lagu sendu itu mengembalikan sadarku, mencemooh pengandaian yang kubenarkan sendiri dalam kalbu. Mungkin ini memang menyakitkan, mendengar seseorang yang mulai kau harapkan hanya-lah pemberi kepalsuan. Atau harusnya aku berterima kasih pada dugaan, karena dia membuatku mampu bertahan dalam dunia yang seluruhnya tak mampu kuterjemahkan. “Fadli, Kelam ini sesungguhnya hanya menggenapi terang.  Maaf aku terlampau berharap pada hati-mu yang tak tegas ungkapkan perasaan”.
Biar kau bahagia, dengan jalanmu disana. Dan kudoakan aku-pun punya cerita yang sama, meski kini ku-cinta. Dan berulang kali kau melupakannya.

Sunday, 21 October 2012

cantik rupa itu rekayasa

“mah mamah, cacha pengen kaya kakak yang itu deh.” Cacha menggeret lengan mamanya yang sedang sibuk memilih barang belanjaan, kebutuhan selama seminggu ke depan harus segera dipenuhi. Hanya melirik sekilas, lantas membiarkan cacha menggeret-geret lengan bajunya lagi.
mah, Liat bentaran dong! Cacha pengen kayak kakak yang itu tuh! Kakaknya cantik tuh mah pake contact lens, cacha mau deh” mamanya sedikit merasa terganggu. Lihatlah sekarang, anak semata wayangnya justru sibuk merecokinya yang menawar harga pada penjual di pasar. Membiarkan transaksi jual beli berhenti beberapa detik. kenapa sih, cha? Nanti dulu. Mama lagi nawar nih!” mamanya bersikeras menawar, dan adegan naik turun harga itu kembali lagi terulang. Sementara itu, cacha masih saja terus memperhatikan kakak seumuran mahasiswa itu mulai hilang dari kelokan jalan.
“apa cha, kamu mau apa nak?” perhatian mamanya kini tertuju hanya pada cacha, maklum saja, sebagai anak tunggal kelakuan cacha kadang terlalu manja. Terlalu malas, bahkan kadang terlalu seenaknya sendiri. Sudah sejak lama mamanya ingin member teguran, tapi apa daya, papanya terlalu memanjakan anak semata wayangnya ini –yang mau tidak mau tetap saja jadi anak kesayangan-.. “cha, yang mana nak?” yang ditanya justru malah melenggang pergi. “cacha pengen beli itu mah, ayok cepet!” sudah berjalan meninggalkan mamanya seenaknya saja, permintaan yang satu tadi belum selesai mendapat persetujuan, sekarang ia sudah ingin hal yang lain. Mamanya hanya bias mengelus dada, berharap cacha akan berubah menjadi lebih dewasa.
“yang ini ya, ma? Cantik kan?”berulang kali cacha mematut-matut diri di depan kaca, mencoba baju satu persatu. Mulai dari yang bergaya artis barat, bahkan sampai gaya kotak-kotak khas jokowi pun tak lupa dia coba. “bagus yang mana mah, yang ini apa yang ini?” sekarang di tangannya ada dua macam baju, di sebelah kanan dan kiri tangannya. “Atau yang disitu aja mah?” belum selesai mamanya memberi penilaian, ia sudah menuju ke etalase yang lain lagi, Sampai penjaga toko jenuh mengambilkan dan mencarikan ukuran yang pas untuk cacha. “ayo cha, kamu mau yang mana? Kasihan mbak nya itu udah capek ngikutin kamu”. Sekali lagi mamanya hanya bias mendengus.
“eh, yang disana aja deh mah. Kayaknya lebih bagus, ayuk mah pindah aja!” terpaksa mamanya mencomot satu pasang baju yang tadi sempat diambil cacha, demi melihat raut muka penjaga took yang agaknya mulai menahan emosi yang meluap-luap di kepala. Dan selalu seperti itu kelakuannya. Apa saja ingin dimilikinya, katanya biar ia terlihat sempurna. Katanya biar semuanya menoleh ke dia waktu melangkah dan menjejakkan kaki ke suatu tempat nyata. Lain lagi ketika cacha dan memanya hendak ke mall membelikan hadiah untuk teman mamanya, cacha justru meminta apa-apa. Semua yang dilihatnya dibeli, bahkan uang yang harusnya untuk berbelanja bulan ini habis hanya untuk memenuhi hasrat cacha yang tak kunjung puas itu. “kamera-nya bagus deh mah, biar cacha keliatan keren” atau begini, “mah, beliin baju lagi doong. Baju cacha udah pada banyak yang jelek, boleh ya mah?” mau bagaimana lagi, kalau tak dituruti, cacha hanya akan merengek di depan toko dan kemudian menangis tak mau pergi. Kalau tidak papanya yang akan rebut besar dengan mamanya, bilang untuk apa sibuk bekerja kalau tak untuk menyenangkan anak semata wayangnya.
Di luar itu semua, sebenarnya ibu-nya hanya bias berulang kali mengelus dada. Berdoa agar cepat-cepat cacha diberi kesadaran dan kedewasaan. Tapi nyatanya semua itu tak semudah menengadahkan tangan dan meminta-minta. “mah, liatin deh itu. Kaki sama badan kakak itu bagus ya? Cacha diajak ke salon dong mah, diet gitu!” sampai heran mamanya dibuat oleh kelakuan cacha yang sudah makin tua. Lihat saja sekarang, siapa yang tidak iri dengan kecantikan cacha? Dengan dagu panjang, mata dan bulu yang lentik, hidung mancung, bibir tipis nan menyenangkan, serta wajah manis khas jawa dan rambut hitam legam sebahu yang lurus dan halus. Apalagi postur tubuhnya, makin menyiratkan seolah dia adalah model ternama. Tinggi yang jauh dari rata-rata, dan badannya yang sebenarnya sudah sangat proporsional, bahkan jadi idaman banyak perempuan. Lantas apalagi yang harus diingini untuk mempercantik tampilan diri? Padahal sejatinya semua keberuntungan itu sudah di tangan cacha. Hanya saja mungkin ia tak pernah menyadarinya.
“mah, ayolah ke salon! Cacha ada acara prom nih ntar malem. Cacha nggak mau kalo nggak keliatan cantik” lagi-lagi hanya merengek yang bisa ia lakukan. Mamanya sendiri heran bercampur bingung. Bagaimana caranya member aturan dan tegas melarang, mamanya terlampau tidak tega meski sekedar membatasi keinginan cacha yang berlebihan. Padahal sejatinya itu semua untuk kebaikan. “cacha bawa mobil sendiri ya mah? Biar mama nggak repot antar jemput cacha. Boleh kan maaaa?” Mamanya menganggukkan kepala, berat untuk sekali lagi termakan bujuk rayu anaknya itu.
***
Kabar mengejutkan itu dating. Cacha dan teman-temannya kecelakaan di dekat taman kota. Mungkin karena kelelahan, atau mungkin karena kelalaian anak muda yang suka sekali mencoba-coba menaklukkan jalanan. Mamanya dating tergopoh-gopoh menuju kamar rumah sakit yang didiami cacha dan temannya. Tak khawatir lagi bagaimana keadaan mobilnya, biar saja, toh itu hanya benda saja. Suatu saat nanti masih bisa kembali diperbaiki.
mah, muka cacha luka!” sambil sesunggukan cacha bercerita pada mamanya, memeluk erat tubuh mamanya yang sama sedihnya. Terutama tentang luka di wajahnya yang masih membekas karena terkena pecahan kaca depan mobil. “nggak cacat kan wajah cacha, mah?” berulang kali cacha memastikan bahwa wajahnya baik-baik saja. Tak perduli dengan bagian tubuh lain yang syukur sekali tanpa kurangnya. Sementara temannya, masih belum sadarkan diri. Dan lawan bertabrakannya ternyata harus menerima kenyataan kalau dia akan mengalami kebutaan, meski masih bisa disembuhkan.
Bukannya cacha yang lebih dulu mengunjungi orang yang ditabraknya, ini justru berkebalikan. Dia-lah yang lebih dulu berkunjung mendatangi kamar cacha. “siang bu .. “ ditemani suster yang mendorong kursi roda, korban tabrak cacha itu ramah menyapa mereka berdua. “mbak nggak kenapa-kenapa kan? maafin saya ya, mungkin saya juga yang lalai” mengulurkan tangan, meminta maaf lebih dulu. Tanpa mempedulikan bahwa ia-lah yang sebenarnya dirugikan.
Cacha terdiam, menyaksikan gadis manis di hadapannya. Gadis dengan senyum ramah dan hati lapang untuk meminta maaf darinya. “nama kamu siapa?” cacha balik bertanya. Ingin sekali mengulurkan tangan dan menyambutnya hangat seperti yang dilakukannya tadi. gadis manis itu meraba-raba ranjang tempat cacha beristirahat. cacha hanya melirik tak peduli, Suster mengarahkan tangan gadis itu untuk menyentuh pelan tangan cacha, dan seketika itu cacha tersadar. 
Deg! Gadis di hadapannya itu buta. kenapa ia sama sekali tak tahu?
“kamu, … kamu buta?” cacha terpatah bertanya. gadis itu justru tersenyum, sangat manis. Bahkan teramat menyejukkan bisa melihatnya terus melayangkan senyum tulus di hadapannya. Mamanya sama tercengangnya dengan cacha. Tak menduga kalau gadis di hadapannya buta karena tabrakan yang dialami anaknya. Hanya anggukan kecil yang diberikan gadis itu. “kamu benar buta?” sekali lagi cacha benar-benar dibuat terkejut. “saya tidak apa-apa, beruntung saya masih bisa diselamatkan. dan  badan saya sehat tak kurang satu apapun mbak. justru saya teramat mengkhawatirkan anda yang kata suster masih sedikit shock. Kamu sudah baikan?”
Ya Tuhan, betapa menyesakkan harus menyaksikan bahkan mengalami sendiri hal ini. Terlalu mengurusi tetek bengek urusan dunia yang bahkan tak pernah dapat kepuasan. Sementara itu, gadis buta ini justru tersenyum ikhlas mesti gelap sedang menerpanya. Menyapa ramah dan hangat orang yang telah membuat matanya terluka. Lihatlah! Ia tanpa dendam sedang menanyakan kabarnya? Cacha menangis tertahan, memeluk mamanya yang masih terdiam. Mamanya pelan menyuruh suster mengantarkan gadis itu beristirahat, setelah sebelumnya mereka saling bermaafan dan merelakan.
“semua hanya soal ukuran yang tak pernah sepadan, cha! Semua hanya soal materi dan titipan yang menyilaukan. Cantik dan harta tidak selamanya bertahan, dan tak sepatutnya kita dewa-kan. bahkan dia saja yang tak mampu melihat mampu rasakan keberuntungan karena masih diberikan kehidupan. Dia masih teramat rela dan bisa rasakan indah dunia dalam imaji-nya. Sekalipun ia buta, cha. Di mata mama, ia begitu sempurna. kecantikannya, apalagi hatinya. “ mama cacha berusaha memberi nasihat. Entah apalagi yang akan memberi kesadaran pada cacha, kalau dunia tak pernah sekedar urusan indah mata.
Dan cacha, tersungkur menyesali ego nya yang terlalu mengagungkan rayuan dunia. "cha, cantik rupa mungkin saja hanya sekedar rekayasa. tapi hati-lah yang sejujurnya". cacha makin keras menangis. malu pada gadis buta yang ternyata mampu bawa kembali sadarnya.



Kalian itu udah kayak tangan sama kaki, jadi pliss jangan pergi

“kemana acara kita hari ini din?” reya yang baru saja beranjak dari kursi bergegas menghampiri dini yang masih sibuk mencatat. ruangan mulai senyap, seluruhnya sudah keluar. hanya menyisakan kami bertiga, aku, dini dan reya. sudah lebih dari lima menit kami menunggu dini menyelesaikan catatan di papan tulis, tersendat-sendat membaca karena tulisannya yang acak-acakan.

“diniiii, mau kemana kita? gue laper nih din, buruan ya? pliiiiis!” reya memelas, wajahnya sedikit lemas. lagipula memang dia teramat sangat merasa lapar. sedari pagi perutnya belum diisi secuilpun makanan. bahkan sejak kelas masih ramai oleh diskusi aja, reya sudah sibuk mengeluh. pusinglah, lemaslah, nggak konsentrasi-lah, dan beribu alasan lain yang berulang kali disampaikannya.

“bentaran, lima menit lagi. terserah kalian aja deh, gue ngikut”. dini kembali lagi memperhatikan papan tulis. melanjutkan mengetikkan kata demi kata penjelasan dosen tadi.  “nggak asyik ah lo, din. keburu masuk kelas lagi nih! “ reya manyun, meski berusaha sabar sambil mengendalikan lapar yang melilit-lilit lambungnya sejak tadi .

“eits! tunggu sebentar … “ dini berhenti sejenak. melirik kea rah kami berdua. “dea mana?” melirik kea rah kami berdua, untuk kedua kalinya. aku dan reya saling berpandangan. seketika menyadari bahwa anggota personil teman makan siang kami berkurang satu. kami bertiga hanya bisa menghela nafas sedikit kecewa, “ah, paling juga lagi sama si brama. biasa, lagi baikan. lo ngerti sendiri-laaah din”. reya malas menjelaskan. hanya mendengus, lalu sedetik kemudian kembali mengeluhkan perutnya yang berbunyi lagi.

dini akhirnya mengalah, menutup laptopnya dan memasukkannya ke dalam tas. beranjak menarik tanganku dan tangan reya, “ayok! katanya mau makan, malah pada bengong!” reya sigap berdiri. tersenyum lega. di perjalanan menuju tempat favorit kami makan siang, lagi-lagi dini bertanya, apa tadi dea bertemu dan mengirimkan pesan pada salah satu dari kami. dan serempak, kami menjawab “tidak”. dini mengeluhkan sifat dea yang akhir-akhir ini sering alfa, pergi tanpa tahu kabarnya. baru saja beberapa hari yang lalu dea bilang, menangis berdarah-darah pada kami, bilang kalau brama baru saja berbuat kasar, egoislah, atau kalau tidak, brama sibuk sendiri dan tidak memperhatikannya. dan seketika itu juga, yang keluar dari mulut dea adalah “kita putus saja, bram”.

setelah itu? kami bertiga-lah tempatnya membuang sampah unek-unek di kepala dan hatinya. dari pagi, siang, bahkan sampai menjelang pagi lagi, dea tak pernah berhenti merecoki dengan cerita tentang brama, brama dan brama. tentang tololnya dia yang meminta putus, tentang sebalnya dia pada brama, dan hanya satu topic itu saja, mind set di kepala dea hanya ada satu nama, siapa lagi kalau bukan BRAMA.

“lo ngrasa dimanfaatin nggak sih din?” reya akhirnya bicara, menyampaikan kecamuk perasaan yang berulang kali dipendamnya. dini hanya diam, menyeruput es the manisnya perlahan. hanya tersenyum, lantas melirik pada reya. “apaan sih lo ya, dimaklumin aja kali. namanya juga lagi kasmaran”.

“hey, biasa lo bilang din?” reya berdecak, tak mengerti bagaimana jalan pikiran dini. dan aku? lebih memilih diam tinimbang ikut merecoki atau jadi pihak yang mulai tidak obyektif menilai masalah yang lagi-lagi sangkut pautnya ke hati. “dia tuh ya, kalau lagi baikan sama si brama aja, kemana-mana berdua. seenaknya nyisihin kita, sms gue aja nggak pernah dibales din. dia kira kita tong sampah kali!” reya lagi-lagi nyerocos ria. kepalanya seolah mengepulkan asap benci yang mulai menyeruak di seluruh ruangan kantin. entah sudah sejak kapan benci itu tertanam dalam pikirannya.

“udah, makan lo diselesein dulu tuh. katanya tadi laper”. aku berusaha menetralisir keadaan yang mulai sedikit memanas. perdebatan kecil selalu saja merusuhi acara yang tadinya nyaman, dan parahnya, kadang kita tak pernah bisa mengalahkan ego untuk selalu merasa benar dengan apa yang kita pikirkan. lagipula, urusan benar atau tidaknya apa yang disampaikan tadi, aku dan dini sama-sama tahu. pun mungkin pernah merasakan hal yang sama dengan yang reya rasakan, tapi kami tak suka membuat perbandingan. toh lebih baik diam dan merasakan, cara apa yang paling tepat untuk menyampaikan dan memberikan saran.

belum selesai kami menyelesaikan makan siang, belum selesai kami berhenti membahas permasalahan dea dan sifat “habis manis sepah dibuang-nya”, tiba-tiba saja ia datang sambil berlinang air mata. sesunggukan tidak karuan, wajahnya lelah, kantung matanya membesar, dan terlihat begitu membiru. mungkin saja kurang tidur semalam. aku yang lebih dulu menyuruhnya duduk, sedangkan reya hanya bisa duduk diam tanpa komentar.
“eh eh, lo kenapa de?” duduk dulu sini?” aku menyodorkan segelas the hangat padanya. berusaha menenangkan dan mengorek informasi secepatnya.

“gu-gu … gu-e putus sama brama! “ di-di-a nam-par gu-gu e din! sambil terus menangis sesunggukan, dea menceritakan kronologi kejadian secara lengkap. tak lebih tak kurang, bahkan adegan tampar menampar itu-pun dijelaskannya secara mendetail, tanpa kurang satu apapun. reya masih saja diam, mungkin sedang bergulat dalam hati, sebal karena lagi-lagi dea datang karena sedang bertengkar dengan brama.

“beneran, de?” yaudah sih, gak usah balikan lagi aja ya?” dini mencoba memberi saran. meski terkesan tidak tulus sepenuhnya. dea masih saja terlihat shock, airmatanya tak habis mengalir. sampai seisi kantin sibuk menoleh kea rah kami yang sedang menenangkan dea.

“makanya, jangan habis manis sepah dibuang dong! kalau lagi susah aja lo inget kita, kemana-mana kayak kucing. ngikut aja. kalo lagi seneng aja lo seenaknya ngilang.” reya akhirnya membuka suara. membanting meja dan sendoknya, pergi menjauh dari kantin, ya hanya sendiri. karena aku dan dini sama-sama ikut terkejut karena sifat reya yang begitu frontal menyampaikan kebenciannya. sementara dea hanya bisa tertunduk, menangis tertahan. “setelah brama hilang, apa musti sahabatku juga geram?” dea mendesis pelan. mengusap airmata yang lagi-lagi pelan mengalir di sudut matanya.

***

“udahlah reya, jangan ngambek lagi. kasian dea, yaaa? baikan dong, baikan! udah tiga hari loh. entar pahala kamu dikurangin loh, ya” sudah berhari-hari aku dan dini memaksa dea dan reya berbaikan. tapi nyatanya tak mudah meluluhkan reya yang begitu keras kepala. tak ada yang salah, sama sekali tak ada yang perlu disalahkan. reya hanya berusaha menyampaikan apa yang jadi keluhannya, lagipula persahabatan memang kerapkali diwarnai pertengkaran dan salah paham. dan mungkin saja harus dengan begini untuk saling mengerti.
begitupun dengan dea, mungkin saja ia juga tak salah, ia hanya ingin menikmati apapun seperti kehendaknya, meski kadang tak sadar menyakiti salah satu rasa yang ada. dua jam berkutat dengan perasaan bosan, merayu reya sama saja merayu patung yang tak bisa berkata-kata. melontarkan beberapa kali alasan yang sedikit masuk akal, bahkan rasa-rasanya, kalau saja mulutku ini bisa berbusa, sudah cukup memenuhi ruangan kamar reya. sampai akhirnya terdengar bunyi ketukan pintu dari luar kamar reya. entah siapa yang hendak datang bertamu, dini? ah tidak mungkin, tadi dia bilang hendak ke perpustakaan mencari bahan revisi proposal penelitiannya. atau pacar reya? tidak mungkin juga, sudah lama reya tak punya pacar, alias jomblo. wajarlah untuk orang yang menyukai kebebasan dan tak suka keterikatan seperti reya, ia lebih suka terbuka pada siapa saja. asal nyaman, maka semua aman.

“maafin gue ya, ya? boleh gue masuk?” dea masuk dengan tampang ragu. kepalanya menyembul dari balik pintu. bahkan sebelum diizinkan masuk ia sudah lebih dulu melangkah kea rah kami. reya hanya diam, melirikku sekilas dengan tatapan curiga. mungkin dia mengira aku yang menyuruh dea datang, padahal aku sama sekali tak tahu menahu urusan ini. sejak urusan menggebrak meja dan membanting piring di kantin itu, dea bahkan tak terlihat batang hidungnya. urusan rayu merayu agar berbaikan pun hanya kami lakukan lewat telpon genggam, selebihnya bahkan hanya sekedar pesan singkat basa-basi bertanya kabar.

“ngapain lo kesini, lagi butuh kita nih?” reya sinis bertanya, dea menciut lagi nyalinya. tertunduk menahan emosi yang bercampur dalam dada. lagipula, tak ada gunanya juga membesarkan emosi, dia teramat menyadari, tingkahnya akhir-akhir ini memang menyebalkan. hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf lebih dulu.

“maafin gue ya, ya?” untuk yang kedua kalinya dea mengulang permintaan maafnya. bahkan meski tanpa diperhatikan reya. “gue tau, gue salah. mungkin gue emang habis manis sepah dibuang, tapi sekarang gue ngerti kok. sumpah gue nyesel, ya”. dea diam sejenak, menghela nafas panjang … ruangan lengang seketika.

“maksud lo?” reya masih saja bersikap tak bersahabat. “iya, gue minta maaf sama kalian bertiga. kalian itu udah kayak tangan kaki. Jadi pliiiis jangan marah, apalagi pergi. gue nggak bisa apa-apa kalau nggak ada lo-lo semua. kalau nggak ada tangan, pasti mau ngapain-ngapain jadi gamang, dan kalo nggak ada kaki, gue pasti pincang. maafin gue ya? biar gue gak perlu lagi ngrasain gamang dan pincang seterusnya, ya”. dea terputus-putus merangkai kata.

       “udah berapa hari lo ngapalin itu, heh?” reya melunak mendengar kalimat dea barusan. meski dea belum sekalipun menyadari, aku yang mulai merasakan sedikit penerimaan di wajah reya hanya mengedipkan sebelah mata. kagum, meski keras kepala dan sikapnya yang jauh dari biasa, ia tetap saja manusia biasa. yang melunak ketika maaf dan ungkapan tulus ditujukan padanya. “gue tulus kok, ya. beneran deh, ini nggak dibuat-buat kok”. dengan sedikit takut-takut dea mengangkat wajah, mencoba menatap mata reya. “sini-sini, peluk guee!” reya mendekat pada dea. memeluknya sebagai ungkapan maaf yang diterima. “gue nggak marah kok, cuman kesel aja. emang kita tong sampah apa, dikasih curhatan nggak jelas mulu. kasih traktiran gitu kek!” dan senyum saja yang terhadir menyaksikan mereka berdua kembali memutuskan merajut persahabatan sempurna. karna tanpanya, mungkin saja hidup ini tak lagi berharga.

Saturday, 20 October 2012

Islam mayoritas, suara minoritas. benarkah?



Indonesia adalah salah satu Negara dengan mayoritas penduduk beragama islam. Angka yang didapat menyebutkan bahwa, Indonesia merupakan Negara yang berpopulasi muslim terbanyak, masuk pada posisi pertama dibandingkan Pakistan dan india dengan nomor urutan 2 dan 3 terbanyak. Berapa banyak jumlah warga penganut agama islam di Indonesia? Dari data yang saya dapatkan dari mylaboratium.blogspot.com penduduk muslim Indonesia adalah kurang lebih 182.570.000 orang. Itupun belum termasuk hitungan natalitas dan keikutsertaan mereka mengikuti agama orang tuanya sejak lahir.
Angka yang teramat mencengangkan bukan? Siapa dari anda yang masih menganggap bahwa islam adalah golongan minoritas, bahkan tidak dianggap?
Baiklah, kembali ke masalah awal. Penyebaran agama islam bermula dari Indonesia menjadi Negara yang dulunya paling sering dikunjungi para pedagang dari luar, karena jalur Indonesia yang merupakan perdagangan internasional. Lalu lintas Indonesia yang sebagian besar maritime juga menjadi salah satu alasan, karena dahulu alat transportasi yang paling sering digunakan adalah transportasi laut jika tujuan adalah keluar batas Negara. Penyebaran islam mudah saja diterima karena cara yang dilakukan para pendatang adalah dengan menyesuaikan dengan kultur budaya masing-masing daerah. Lagipula syariat islam yang fleksibel dan tidak menyulitkan membuat banyak kalangan mudah untuk berucap syahadat dan menganutnya. Lalu, masihkah hari ini syariat itu berjalan sebagaimana mestinya? Seperti usaha para wali yang menyebarkan agama mulia ini dengan keringat dan di bawah tekanan banyak pihak?
Dulunya, penduduk Indonesia mayoritas adalah menganut kepercayaan animism, dinamisme. Yaitu kepercayaan yang mendewakan roh beserta makhluk halus yang menghuni alam dunia. Sedangkan dinamisme yaitu kepercayaan yang mengagungkan benda-benda mati –keramat- seperti halnya keris, dan tombak. Dalam perkembangannya, rasionalitas manusia yang berkembang makin pesat, pengaruh ajaran animism dan dinamisme bergeser menjadi kepercayaan yang haruslah disertai bukti.
Sebagai Negara dengan populasi muslim terbesar, apakah Indonesia lantas menjadi Negara muslim yang saklek menerapkan aturan syariat agama islam saja dalam undang-undang dan kebijakannya? Atau pertanyaan yang paling mendasar, sudahkah para penganutnya minimal menjalankan syariat yang diperintahkan? Yang paling mudah dan wajib tentu saja kewajiban untuk melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, sudahkah?
Lakukan saja penelitian apakah judul salah satu sinetron di televise yaitu “islam ktp” itu terbukti atau tidak. Lagipula, makin modern dan berkembangnya Indonesia, makin jarang pula mereka mengedepankan kepercayaan agama yang dianutnya sendiri. Padahal, untuk mempertahankan eksistensi islam di Indonesia itu sangatlah sulit. Dalam masa pemerintahan sukarno misalkan, perumusan pancasila sila pertama yang menyebutkan “… berdasarkan syariat para pemeluknya” tidak disetujui oleh Indonesia bagian timur, dan memberikan ancaman akan memisahkan diri dari NKRI. Lantas, kenapa sekarang, mudah sekali orang-orang melantangkan kalimat masuk dan keluar agama tanpa pemikiran matang dan introspeksi? Bahkan hanya dengan alas an cinta saja mudah sekali beralih keyakinan, tanpa konsekwensi untuk menjalankan seluruhnya aturan.
Agaknya pendapat saya tentang “islam mayoritas, dan suara minoritas” mulai terbukti. Karena seiring berjalannya waktu, nyatanya, meski banyak sekali pimpinan yang mengaku beragama islam, meski banyak kepala yang mengaku beragama islam dan organisasi yang mengatasnamakan islam masih saja terang-terangan melakukan korupsi dan melakukan pelanggaran syariat agama disana-sini. Dengan lantang mereka berkata membela islam, memperjuangkan syariat dan aturan Tuhan, tapi segalanya berkebalikan, tindakan mereka sama sekali tak mencerminkan perilaku umat islam, mereka justru paling banyak berbuat anarki. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin, saling peduli dan berbudi pekerti. Yang saling mengingatkan dan menegur dalam kebaikan. Lantas, bila ada korupsi, perzinahan, penyelewengan, dan tindak kejahatan lain Masihkah kita menganggapnya hak pribadi? Lucu bukan?
Indonesia meski bukanlah Negara islam, harusnya tetap menegang teguh ajaran ini. Seminimal-minimalnya diyakini saja dalam hati para pengikutnya, Karena nyatanya kepentingan antara yang satu dengan yang lain sama-sama dihormati, kecuali pihak lain yang suka memanfaatkan mudahnya umat islam satu sama lain untuk diprovokasi. Saya bilang provokasi, mengapa? Tengok saja ketika penetapan hari raya idul fitri, pembagian zakat, penetapan Solat subuh menggunakan qunut atau tidak qunut, dan masih banyak hal lain yang nyatanya mudah sekali menjadi pemicu keretakan umat islam sendiri. Padahal, sejatinya sudah mulai banyak yang tidak peduli (karna faktanya banyak yang tidak menjalankan solat subuh, jadi buat apa repot berdebat masalah qunut? )
Dalam kaitan perpolitikan Indonesia, masihkah partai islam mendapat tempat yang besar di hari rakyat? Jawab saja dalam hati, karena kita satu sama lain saling mengerti bagaimana kondisi dan carut marut Negara ini. Yang mendapat tempat dan suara mayoritas adalah partai-partai radikal dengan konsep demokrasi tanpa kejelasan. Partai politik yang menjanjikan perubahan dan kenyamananlah yang dikedepankan, meski lagi-lagi syariat harus sedikit disisihkan. Kembali lagi ke masalah mayoritas dan minoritas. Meski dalam ketentuan pemilihan suara kepala Negara, tetap mensyaratkan agama islam, tapi apakah dalam penerapan hokum membela dan menjunjung tinggi syariat islam? Benar-benar mengedepankan keadilan dan kebenaran? Padahal yang nyata terlihat di mata kepala, kekuasaan dan harta-lah yang mengambil alih suara. Merebut paksa keadilan dari akarnya. Apa karena Indonesia adalah Negara yang plural? Kalau begitu akan saya ajukan pertanyaan balik, apakah dengan menggunakan hokum islam maka Negara akan rusak dan tidak mencapai keseimbangan? Dan jawabannya, tentu saja akan beragam.
Saya bukanlah salah satu pihak yang mewajibkan hokum islam berlaku sepenuhnya di negeri ini, mengingat tidak hanya agama islam saja yang bernaung di bawah atap Negara kesatuan republic Indonesia. Mengingat lagi dalam hokum pidana islam, segala sesuatunya menuntut keadilan, dan kita mungkin saja belum siap menerima sanksi yang begitu menekan pihak pelaku, meski harus menyisihkan kepentingan korban. Bagaimana tidak, pembunuhan dan terorisme yang menghilangkan nyawa hanya dihukum dengan pidana sepuluh sampai lima belas tahun penjara? Adilkah? Atau sesuai dengan peri kemanusiaan? Menurut saya jika dari sisi pelaku mungkin saja adil, tapi jika ditilik dari pihak korban, tentu saja ini sama sekali tidak mengenakkan. Bahkan lebih condong ke arah yang mengecewakan.
Lagi, saya juga bukan pihak yang menginginkan segala sesuatunya berjalan dan sepenuhnya dalam kendali umat islam. Hanya saja, saya menyayangkan mudahnya umat islam yang terprovokasi. Mengaku islam tapi sama sekali tidak mengerti, bahkan memamerkan aurat disana-sini. Sekali lagi, perhatikan saja ulah para beberapa petinggi Negara yang tak malu berbuat keji meski tak diketahui (seperti halnya korupsi uang pengadaan al-Qur’an, Naudzubillah). Harusnya satu sama lain saling melengkapi, agar pihak lain tak mudah memanfaatkan situasi dan kondisi. Sehingga umat islam makin tercerai berai, dan tentu saja agar kita mempraktekkan perintah Ilahi untuk saling peduli dan kasih mengasihi.
Islam mayoritas, benar. suara minoritas, semoga tidak benar. Tak perlu khawatir , setidaknya masih banyak diantara kita yang memegang teguh prinsip agama. Dengan tanpa merugikan dan menyakiti pihak-pihak lain yang ikut andil membangun peradaban Negara. Mungkin saja perkembangan memang menuntut pengorbanan dan kedewasaan, sehingga kita mudah menyesuaikan mana yang harusnya dienyahkan, dan mana yang harus diperjuangkan. lagi-lagi semuanya kembali pada keyakinan kita, maukah kita sebagai mayoritas pemegang negara, masih saja diinjak-injak kepentingan radikal dan kebebasan yang mulai berkuasa.






Poligami, kini dan nanti

Seperti diketahui, tuduhan dan saling lapor melapor antara limbad dan susi membuat kasus poligami menguak lagi ke permukaan dari para selebriti tanah air. Limbad, diketahui telah menikah siri dengan benazir dan telah memiliki seorang anak. Pernikahan siri ini sudah dilakukan sejak tahun 2010 lalu, lantas apa yang dipermasalahkan setelah pernikahan berjalan dua tahun lamanya, dan pelaporan dilakukan oleh istri pertama limbad, alias susi? Mungkinkah ketidak adilan dalam pembagian giliran hari, atau karena keegoisan perebutan harta antara istri muda dan istri tua? Dalam beberapa sesi wawancara dengan wartawan infotainment, susi hanya berdalih bahwa limbad lebih sering ke rumah istri muda, dan tak lagi memberikan perhatian kepada ketiga anaknya dari susi. Inikah muasal permasalahan dan pelaporan yang dilakukan susi?

Dalam pengamatannya, kasus poligami dan nikah siri memang selalu membawa pro kontra dari masyarakat sekitar. Tentang penolakan dari kalangan wanita yang lebih sering disuarakan. Poligami dikatakan lebih mengandung banyak unsur mudharat alias ketimpangan dalam hubungan kemitraan antara istri dan suami, dan seringnya perhatian suami meluntur kepada istri tua menyebabkan banyak perempuan menolak adanya praktek poligami ini. Menurut kalian, seandainya kalian wanita. Benarkah kalian mutlak menolak adanya praktek poligami, meski hati nurani mengatakan bahwa inilah salah satu solusi dari banyaknya perempuan dibanding laki-laki?
Pertanyaan selanjutnya, benarkah kalian lebih menghalalkan adanya praktek seks bebas, perzinahan, perselingkuhan, dll dibanding poligami dan nikah siri yang memang diperbolehkan, bahkan diakui meski dipersulit? Kalau jawabannya iya, berarti sifat egoisme wanita-lah yang paling berperan disini. Seperti disadari banyak pihak, manusia selalu punya tingkat egoisme masing-masing. Antara wanita dan pria, antara muda dan tua, dan segala macam aspek manusia. Seluruhnya memiliki sifat egoisme dan mudah mengeluh. Dalam semua agama, tidak ada yang secara terang-terangan menolak dan menyarankan adanya poligami –istilah nikah siri hanya ada dalam agama islam-

      Islam, bunda, hindu, kristen, katolik, dsb mungkin saja memperbolehkan adanya poligami. Terlepas dari perbedaan syarat-syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi dari masing-masing pihak. Dalam islam sendiri, menurut pengamatan saya, bukalah dianggap sebagai anjuran. Hanya saja memang diperbolehkan melakukan poligami asal adil, asal istri menyetujui, dan asal-asal yang lainnya. Jadi, untuk mereka yang mengatakan bahwa islam memprovokasi dan menganjurkan poligami, mereka hanyalah sebagian pihak yang memang pandai mengambil dasar-dasar yang tertuang dalam kitab suci.

    Lalu, apa dalam prakteknya semua peraturan tersebut dapat dipenuhi seperti janji sebelum melakukan poligami? Jawabannya adalah, mungkin saja iya mungkin saja tidak. Mengapa? Karena tidak semua orang mampu berbuat adil. Karena keadilan itu sangatlah sulit diterapkan pada manusia yang penuh dengan persangkaan. Bukankah sering dialami sendiri, untuk berbuat adil itu seperti mencoba menaklukkan perasaan benci dan penyakit hati lain. Bahkan dengan saudara kandung, keluarga, dan teman karib pun kita jarang sekali mampu berbuat adil, meski mengaku-nya sudah berusaha sebijaksana mungkin.

Tanggapan kalian tentangnya?
Mungkinkah dengan mengharamkan poligami maka segalanya akan damai dan baik-baik saja? Tentu saja tidak. Poligami memang sudah diatur dalam kitab suci, dan dilakukan pembatasan oleh agama islam tidak lain adalah untuk menjaga wanita itu sendiri. Apa buktinya? Dimintakan persetujuan istri sebagai syarat juga menjadi salah satu bukti bahwa islam menganggap seimbang antara suami dan istri. Kalau saja poligami tidak dibatasi, dampak yang terjadi akan lebih meluas. Bukan lagi untuk menyamaratakan agar wanita bisa menikah, justru akan disalahgunakan dan merugikan banyak pihak. Karena mungkin saja banyak pria yang tak dapat istri, kesewenangan suami untuk terus memperbanyak istri, dan sebagainya.
Kalau toh di jaman dulu dan bahkan sekarang masih ada yang beristri lebih dari empat, mungkin itu lah yang namanya keserakahan, atau dengan dalih ingin mensejahterakan banyak kehidupan wanita. Agar mapan, agar memperbanyak keturunan, dan agar-agar lainnya.
Poligami, kini masih saja menjadi perdebatan panjang banyak kalangan, terlepas dari beberapa manfaatnya yang kadang luput dari pandangan.

    Sejauh dapat dipahami, poligami hanyalah salah satu cara agar semua wanita dapat membina mahligai pernikahan, dan laki-laki dapat melaksanakan aturan dan berlatih untuk lebih adil dan sabar. Dan bagi keduanya, adalah menciptakan keluarga yang sakinah mawadah warahmah dengan mengurangi dan menekan sebisanya emosi. Tapi nyatanya, kadang kenyataan yang ditemukan jauh panggang dari api. Berkebalikan dengan harapan diri.

      Kasus limbad di atas tadi hanyalah salah satu dari sepersekian kasus dan konflik yang diakibatkan dari nikah siri dan poligami. Di luar itu? Kalau saja kita mau menjadi pihak yang obyektif, banyak keluarga yang nyatanya ikhlas dan mencoba berbesar hati menerima. Tanpa harus ada sengketa, tanpa harus ada konflik dimana-mana. Lagipula, poligami ini tak mudah dijalani. Butuh kekuatan, keberanian, kematangan dan kesabaran ekstra, bagi semua pihak. Dan tentu saja untuk suami. Tanggungan menjadi makin berat, kesabaran pun diuji sangat ketat, dan lagi praktek poligami tidak semudah mengucapkan ijab kabul. Yang bila akad selesai, maka semua pihak lantas berkata dengan lantang. –syah? Syah? Alhamdulillah-

Baiklah, untuk kalian wanita yang masih saja menolak dan menjadi bagian ekstrem poligami. Maka sadarilah, urusan ini lagi-lagi kembali kepada kita bagaimana menyikapi masalah yang datang dan mengendalikan emosi. Jumlah yang sangat tidak seimbang antara wanita dan laki-laki perlu di-diskusikan lagi, dan mereka sama halnya dengan wanita lain yang punya keinginan dan berhak untuk diperistri.

Dan untuk kalian para lelaki yang ngebet, kepengeen banget poligami atau nikah siri. Bercerminlah lebih dulu, pantaskah? Beranikah? Adilkah? Dan mampukah kalian seperti Rasulullah Saw yang mampu menjadi teladan, yang mampu berbuat adil yang tanpa menyakiti hati para istri.
Mungkin suatu saat nanti poligami dan nikah siri tidak menjadi hal yang tabu lagi, seiring modernisasi dan kedewasaan manusia makin tinggi karena banyak diuji.  Tapi lagi-lagi, pertimbangkan segala sesuatunya dari banyak sisi. Karena titah Ilahi tak pernah merugikan siapapun di bumi (meski sulit diterima diri).

Friday, 19 October 2012

Kasihan sekali mereka ...

nabila, seorang anak berumur 8 tahun harus menerima perlakuan keji dari nenek tirinya. dia kerapkali diolesi setrika panas oleh nenek tirinya tersebut. entah motif apa yang menjadi alasan si nenek melakukan perbuatan bejat tersebut. tidak hanya melukai perasaan bocah berumur 8 tahun yang notabene belum berani melakukan perlawanan, apalagi melapor, tetapi kejadian ini melukai hukum kita terkait dengan perlindungan terhadap anak di bawah umur.
seperti kita ketahui sendiri, undang-undang perlindungan anak sudah mengatur banyak hal. kesemuanya tertuang dalam pasal 23 tahun 2002. tapi, dalam pelaksanaannya, sudahkah undang-undang ini memihak kepentingan dan menjamin perlindungan bagi anak-anak itu sendiri?
nah, inilah yang kali ini menjadi persoalan. dalam sebuah portal berita yang saya baca, kasus kekerasan terhadap anak-anak  selama 2012 mencapai angka 273 kasus. laporan ini sedang diteliti oleh komisi perlindungan anak Indonesia, 273 kasus kekerasan hanyalah dalam kurun waktu januari s/d juli 2012. maka bisa diperkirakan kasus tersebut naik pesat, ditambah kasus nabila di atas yang dianiaya oleh nenek tirinya sendiri.

kasus kekerasan ini tidak hanya yang bersangkutan dengan fisik, bisa saja penelantaran, penghinaan yang melampaui batas, perkosaan, pelecehan dan semacamnya. dalam beberapa kasus perkosaan dan pelecehan seksual dilakukan oleh orang-orang terdekat bahkan orang tua sendiri. lalu, bagaimana dampak bagi psikologis anak itu sendiri? anak dikatakan memiliki ingatan yang paling produktif dibanding dengan umur-umur lainnya, yaitu antara kisaran umur 5 s/d 15 tahun. maka bisa diprediksi, dampak psikis bisa saja memperngaruhi perkembangan pola pikir dan kejiwaan anak sampai dewasa.

pencegahan dan sosialisasi mungkin saja menjadi alternative paling baik untuk memperkecil angka kekerasan terhadap anak. tapi, adakah jaminan bahwa anak akan mendapat perlindungan tanpa ancaman? anak adalah pihak yang paling polos mengungkapkan dan menyuarakan aspirasinya, namun siapa yang bisa menebak bahwa tekanan dan cacian mampu membuat kejiwaan tetap biasa saja?

lalu, apa yang dijaminkan dalam undang-undang terkait dengan kasus kekerasan tersebut?
Pelaku bisa saja didakwa dengan pasal berikut ; pasal penganiayaan
Pasal 351 KUHP; pasal penganiayaan
ringan sesuai Pasal 351 jo. 352 KUHP, dan Pasal 80 ayat (1) UU
Perlindungan Anak. Dan hukuman maksimal hanya 3 tahun penjara,  sudahkah sesuai dengan beban yg ditanggung anak hingga dewasa nanti? Bahkan trauma bisa saja membayangi seluruh denyut hidupnya.

baiklah, kita kembali saja ke pokok pembicaraan. siksaan dan hinaan menurut saya merupakan hal yang paling tidak berbudi pekerti, paling tidak mencerminkan bahwa seseorang memiliki tingkat inteligensi dan pengendalian diri yang baik. kenapa begitu? mudah saja, karena ketika orang berpendidikan serta punya pengendalian emosi yang baik, punya tingkat ego stabil, maka ia akan memikirkan sebab akibat bagi diri sendiri dan orang lain. bukan hanya tentang bagaimana memberikan perlakuan bagi sekitar, tapi juga mengerti bagaimana diri sendiri menghormati hak dan kewajibannya sendiri. sekarang kita singkat saja pembahasannya dengan suatu contoh kecil. bagaimana rasanya disetrika dan mengenai indra perasa –kulit- yang begitu amat tipis dan ringkih? siapa yang bisa berkata tidak sakit dan tidak biasa? silahkan angkat tangan dan hentikan membaca tulisan ini. karena mungkin anda memang diberi kekebalan luar biasa, dan kita mulai tidak sejalan dengan alur tema yang sedang saya bahas.

yang kedua, siapa yang tidak sakit hati bila dikasari atau dilempari caci maki yang kadang terlampau sadis mengomentari? siapa, mari angkat tangan lagi? baiklah. lanjut ke pertanyaan berikutnya. tidak ada pelecehan atau perkosaan yang menggembirakan, terlebih bagi mereka yang belum mampu menerka atau bahkan mengira perlakuan apa ini. di bawah ancaman dan bekapan pula, bagaimana perasaan anda? bisakah anda ikut merasakan kegeraman, kekhawatiran, serta perasaan sakit yang tidak karuan ini?

kalau iya, berarti dari ketiga pertanyaan yang saya ajukan. anda setuju kalau kesemua hal di atas tidak enak. maka, kalau membayangkan saja tidak pernah terlintas dalam pikiran, patutkah seseorang yang menganggap diri waras melakukan perbuatan keji ini? ah, benar-benar dalam kendali setan.

lagi, kasus kekerasan masih dianggap hal yang tabu, aib bagi korban. sehingga kerapkali korban kekerasan enggan melaporkan, padahal ketika tidak ada laporan maka tidak akan ada pula tindak lanjut pemeriksaan, penyidikan, dan proses pidana selanjutnya. Dalam kasus nabila di atas,  beruntung warga berani melaporkan tindak kejahatan si nenek. Tidak perduli umur dan hubungan kekerabatan,  hukuman tetap harus ditegakkan.

kekerasan menjadi momok menakutkan bila dibiarkan, karena anak punya rekam proses dalam ingatan yang begitu hebat. yang ditakutkan adalah bila membawa dampak trauma, yang lebih parah kegilaan.

penelantaran, aborsi –apalagi dibunuh setelah lahir- praktek penjualan anak di bawah umur (bahkan ada yg tega menjual anak untuk sekedar membeli handphone, tega. kasus di india).
mempekerjakan anak di bawah umur juga termasuk salah satu eksploitasi dan mungkin saja dikategorikan kekerasan. kenapa? karena sudah sepatutnya semua orang yang tidak cakap melakukan perbuatannya sendiri mendapat perlindungan. bukan justru dijadikan sasaran kejahatan.
dalam kacamata hukum sendiri, kekerasan terhadap anak sudah pasti akan mendapatkan hukuman. -dunia akhirat- tentu saja dilihat dari berat atau ringannya kejahatan yang dilakukan. dalam hukum islam sendiri, menghilangkan nyawa janin di atas umur 4 bulan (sudah memiliki ruh) itu sudah tidak diperbolehkan. kecuali dengan alasan keselamatan si ibu, barulah boleh digugurkan, itupun harus dengan persetujuan dan rekomendasi dokter atau ahli. Tapi tetap saja, penganiayaan, kekerasan dan pembunuhan tidak pernah dibenarkan. apalagi hanya karena alasan kebencian, iri, cemburu, atau alasan rendahnya tingkat ekonomi keluarga.

sudah sangat jelas, memiliki anak adalah konsekwensi dari hubungan suami istri, dan itulah rezeki yang sesungguhnya diberikan Tuhan bagi kita agar mampu menjaga perangai dan memperbaiki pribadi. bukan dengan melampiaskan dan melepaskan amarah kepada mereka yang masih dini, tidak tahu menahu.

Kasian sekali mereka. Harusnya kasih sayang dan perhatian yg mereka dapatkan
Bukan malah menyimpan trauma dan duka menjadi jadi di usia yg masih begitu dini. Kalau toh tak bisa membahagiakan,  jangan menertawakan. Menjual, mempekerjakan berat, menyiksa Apalagi sampai berbuat kekerasan dan di luar batas kewajaran. Merekalah semangat dan generasi bangsa ini
jadi, menurut ringkas saya, menganiaya anak termasuk perbuatan pidana yang sangat keji. karena selain tidak imbang kekuatan, orang yang lebih tua jelas lebih punya pikiran matang dibanding mereka yang masih sibuk dengan permainan. kecuali mereka yang warasnya hilang.