.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Sunday, 30 September 2012

kataa


1. lagi-lagi paradoks. uang pacaran ada, bensin ada, pulsa ada, internetan apalagi. tapi sukanya minta-mintà

   buat jalan-jalan okelah, baju oke, nonton konser oke banget. buat beli buku? minjem ajaaa

   buat yg suka ngeluh dan minta-minta, lucu ya ;p "
2.  tentu saja .. karna mengenyahkan kenangan tak semudah membuat dan menghapus coretan"
3. Menunggu sadarmu seperti menunggu hujan di kemarau panjang. B-o-s-a-n :(
4. hey, bulu mataku luruh satu. apa km masih rindu? "

    # eeaaa :p
5. lelah mencoba jadi sempurna ..
    meski hanya bayang dusta yang terajut sempurna"
6. nyatanya, bahagia dan duka memang bukan untukku saja ..
7. "aneh ya? untuk kesejahteraan bersama yang katanya bbm dinaikkan harga. demo besar-besaran heboh    dimana-mana. dan akhirnya ditunda-lah kebijakan bersama. bahkan kebijakan baru untuk mobil plat merah tetap saja belum dilaksanakan merata.

nah, giliran ada konser besaar, pulsa telpon+sms+internet+bbm-an, mengepulkan asap rokok mungkin. acara yang benar-benar buang uang itu. kok masih banyak juga yang punya kelebihan uang ya?"

aneh bin ajaib. Hehe
8. "dunia memang begitu. mengaku kalau berhati besar, mau menerima kritik saran. mau mendengarkan asal memberi suntikan kebaikan. tapi nyatanya, yang mau didengar bukan komentar. yang mau didengar hanya pujian."

# kita ini suka sekali omong besar :(
9. Ternyata aku salah menempatkan rasa. Ternyata aku salah mengartikan semua riang yang kau punya. Ternyata akupun tak mampu terjemahkan semua senyum dan kerlingan matamu yang mempesona. Yang nyatanya memang bukan untukku istimewa. Harusnya cinta tak mengenal sesal, akhirnya? Karna mengenal cinta saja itu luar biasa. Karna dengan mengenalmu saja aku mampu mengalami banyak hal indah tanpa duga. Dan karna tanpa cinta, bahagia itu tak akan berbaik hati muncul di dunia.
10. tadi kutemui lagi bayangmu. Hanya sekelebat, lewat, dan membuatku hilang akal sehat. Kucoba mencari asa baru dalam rasamu. Tapi tak pernah kutemui itu.

aku rindu ...
Meski tak pernah ada janji tuk saling menjaga syahdu. Aku tetap rindu. Meski pelangi sepertimu tak mungkin merengkuhku. meski jutaan rasa cintamu bukan kau pupuk untukku. Aku tetap merindukanmu .. Karna itu, kamu.
11. "nonton film lama. india lama. lagi-lagi kenangan lama ... :)
12. "ini hakku, untuk segera melenyapkan angan tentangmu. dan itupun hak-mu, meninggalkanku. untuk memulai kisah baru, meski ternyata melukai asa dan karsaku. "
13. "tak ada sayang yang menghilang. semuanya masih terlalu rapi, tersimpan di ingatan. bagaimanapun keadaan, dulu ataupun baru. kalbu tetap saja menyimpan keheningan yang membawa ragu, juga manis madu.

dan kamu, tetap saja selalu tersimpan di hatiku. meski lama berlalu"
14. "sejatinya mungkin dia salah satunya, yang mengakui dan memberikan separuh waktunya.
dan mengiyakan, bahwa bersamaku memang bahagianya"
15. entah sinar mana yang membutakan
entah jalan mana yg menutup kesempatan.
atau mungkin , memang aku yg sengaja membuatnya temaram. hingga segala sesuatunya selalu tampak buram, suram.

Terima kasih, tak pernah mengizinkanku merasa sendirian.


Aku tak pernah merasa besar, tak pernah pula merasa terpintar. Karna ketika aku berdiri sendirian, di malam hangat penuh kegamangan. Nyatanya bintang yang memenangkan pertandingan. Ia lebih menyenangkan ..ia yang lebih menarik untuk disaksikan, dan ia yang mampu memberi sinar menenangkan bagi hati-hati yang resah tak terkatakan. bukan aku yang jadi tujuan, maka dengan begitu kutundukkan kepala. agar pongah tak lagi ikut membuat kesalahpahaman.

Aku tak pernah merasa paling sadar. Tak pernah pula menyimpan dendam yang sedemikian besar. Karna ketika aku terjatuh, tangan-tangan mereka yang terulur dan ikhlas menarikku dari kubang ketidakberuntungan. Karna berjalan sendiri tanpa menggenggam erat tangan lain pun terasa tak mendamaikan. Dan dengan begitu aku lebih menghargai senyum dan peluk yang mereka hadiahkan. 

Aku tak suka merasa paling mekar, tak pernah suka pula membesarkan angan. Karna banyak hati dan kehidupan yang lebih menyesakkan dibanding scenario kehidupan yang terhadir nyata dalam pandangan. Karna begitu banyak memoar luka dan kesakitan yang tak hanya kurasakan. Mereka juga sama pernah rasakan, dan hebatnya mereka bertahan. dan dengan begitu, ingin sekali ikut memberi kekuatan bagi mereka yang terluka dalam penantian panjang. 
Bukan hanya sekedar diam dan merenungi bahwa kita begitu sial hidup dalam ketersiksaan. maka dengan begitu senyuman ini terasa lebih lebar, dan ikhlas menjalani kehidupan, apapun yang telah digariskan Tuhan.

Aku tak suka banyak kata keluar, pun juga harapan yang diumbar. Karena banyak hati di belahan dunia lain pernah terjatuh dan harus layu untuk berkembang. Karena banyak penyesalan yang timbul tenggelam mencetekkan pikiran. Maka dengan begitu, kuakui aku hanya setitik dari hitamnya kehidupan.

Aku pun tak suka membesarkan status dan kekayaan, merasa keberuntungan hanya milik kita yang tertuang dalam kelahiran dan kematian. Dalam genggaman. Padahal, ketika mereka bersedih tak terelakkan. Masih ada awan yang memayungi langkah getir jalanan. Masih ada bintang yang memberikan kerlip malam. Masih ada lautan yang bisa mendamaikan sejauh mata memandang. 

Bukan hanya aku saja yang mampu saksikan! Dan dengan begitu kuhargai segala hal yang memang terjadi dalam kehidupan. Meski harus sakit dan duka datang. Tapi selalu akan ada pelangi yang mengindahkan bayangan. Selalu akan ada sepoi udara yang menyegarkan pikiran.

Terima kasih Tuhan, tak pernah mengijinkanku merasa sendirian. Dengan memberikan teman, dan juga kehidupan dalam bahagia dan segala rasa menyakitkan. 

mungkin aku mulai rela


Aku sudah biasa. Hatiku mungkin sudah mulai bisa terima, kalau hatimu abu-abu juga. Haha, lucu ya? Hampir setahun kedekatan, rasamu tak kunjung kau nyatakan. Masih saja kau berkubang dalam tempat persembunyian. Apa dengan begitu semua takkan merasa kesakitan? Apa dengan begitu bahagia kau dapatkan? 

Berulang kali menata hati, bahwa sejak awal kau memang seringkali memberi peringatan. Untuk jangan pernah menaruh harapan, karna aku tak bisa mengabulkan. Meski aku tak menyangsikan kalau mungkin saja rasaku bisa saja kau hadirkan. Tapi aku yang memaksa segalanya seperti apa yang kudambakan. Bukankah rasa memang egois, sayang? 

Bukankah terkadang rasa dan damba tak bisa kau kendalikan dan membuatnya sirna seketika?
Butuh waktu lama untuk menghapus banyak hal yang lama melekat di ingatan. Tak memunafikan bahwa mungkin aku yang terobsesi dengan mengejar segala bayang yang melekat pada sederhanamu yang membuat kepayang. 

Tentu saja, karena mengenyahkan kamu dan cinta, tak semudah membuat dan menghapus coretan.
Tentu saja, karena kamu bukan sekedar catatan harian yang sia-sia kutuang.
Tentu saja, karena kamu telah lama jadi dynamo yang membaikkan angan, sayang.

Mungkin saja saat ini kau coba menghindar, lagi-lagi karna aku yang mungkin saja membuatmu merasa terpojokkan. Tapi biarlah, aku tahu, aku dan kamu, kita memang butuh sendiri. Butuh keremangan dan ketenangan hati, apakah kita mampu sendiri tanpa berbagi satu sama lain lagi.

Menyadari bahwa hati tak hanya di milikku dan milikmu saja mungkin lebih membuat lapang. Karena dengan begitu aku akan sedikit merelakan, bahwa mungkin saja di hati lain kau tambatkan damba.
Bahwa mungkin saja di paras wanita lain kau letakkan jangkar cinta.
Bahwa mungkin saja, ada seseorang disana yang sedang kau tunggu hadirnya. Dan bukan aku nyatanya!

Tak apa, bahagia juga bukan di hatiku dan hatimu saja. Dengan hati lain pun aku bisa rasakan senyum tulus dalam suka. Dengan hati lain pun kadang duka-ku melenggang pergi dari jiwa. Maka dari itu kucoba rela … agar bejana lapang ku kembali tertata. Agar ikhlas merasa kembali menyeruak dalam dada.

Dan untukmu si sederhana, kurelakan kau mencari lagi pengisi jiwa. Meski tak mudah menerimanya, beri aku waktu mencobanya :)

Saturday, 29 September 2012

Jengah mereka-reka

Hanya ingin berkata, aku jengah mereka-reka. Mungkin percaya diri kalau kau cinta hanya sekedar anganku saja. Menduga kau cinta .. padahal biasa saja.

Menduga kau bahagia ... nyatanya kau hanya sebatas membagi cerita.
Menduga aku istimewa ... nyatanya bukan aku saja yg kau beri perhatian nyata. Gila ya?
Berpaling dengan lain asa pun juga tak mudah seperti berucap kata. Menampiknya dan berpura-pura tak ada damba dan cinta sama saja menyesakkan dada

Meski begitu ..
Tak bisa menafikan hati, ada kecewa yang mulai terpahat disana.
Terima kasih, untukmu si sederhana
Menyadarkanku, bahwa dunia adalah lautan rasa.

Friday, 28 September 2012

Elegi jiwa

Separuh hatiku ingin sekali pergi. Meninggalkan ragumu yang tak kunjung berakhir pasti. Tapi separuh lagi tak bisa berlari. Sempurna terhenti karna barangkali kau akan segera sadari ada cinta disini.
meski entah kapan, entah bagaimana caramu mengerti.

aku hanya butuh kalimat dan perhatian nyata. Bukan sekedar istimewa dalam maya. Bukan pula sekedar cemburu yang terhadir dalam kata dari rangkuman cerita. Masihkah ku harus bertahan dalam damba? Meski dia tak pernah sekalipun menunjukkan tanda-tanda bahwa ia bahagia?

berulang kali kutarik ulur benang beserta umpannya, tapi kau tak jua bisa menangkapnya. Hanya menerima lantas sekedar menikmatinya. Lagi-lagi tanpa pikirkan bahwa aku disini lelah merasa. Aku bukan boneka ...

mungkin aku salah satu wanita yang kukuh bertahan dalam damba. Damba yang masih abstrak adanya. Karna katamu hatimu pun abu-abu jua. Bagaimana bisa? Sedangkan tiap malamnya selalu kau ucapkan kalimat penutup yang membuat debar di dada.
sedangkan tiap detiknya, selalu kau biarkan hatiku sampai jengah dalam asa. Asa untuk menunggu jawabmu yang entah dimana ujungnya.
asa untuk melapangkan rasa bahwa masih ada ragu yang mencemari cinta.
tapi sampai kapan harus kucerna?

sedangkan tiap kali kusinggung rasa yang kau punya. Kau selalu punya jurus ampuh untuk menghindar darinya. Lalu harus bagaimana hati ini kutata?
semoga tak harus dengan pergi kita menyelesaikan keegoisan ini.
semoga tak harus dengan menyakiti kita memutuskan berhenti.
obsesi .. Elegi .. Ironi .. Entah apa yang bergumul dalam hati. Tapi sejatinya, aku tak ingin berhenti disini. Dan meninggalkanmu pergi
hanya karna kita yang sama-sama tak tahu caranya mengerti bagaimana hati berotasi.

Aku hanya butuh kamu bilang, kamu cinta. Kamu ingin bersamaku adalah bahagia. Sederhana saja, seperti indahmu yang misterius dan membuatku sibuk menerka-nerka.

Entah kamu yang tak peka menerjemahkan tanda yang kuberi dalam sela kebersamaan kita,
atau mungkin. Justru aku yang sibuk merek-reka damba yang kupunya. Entahlah ..
menunggu sadarmu seperti menunggu hujan di kemarau panjang. Dan jengahku datang tak terhindarkan

Thursday, 27 September 2012

Karna mereka terlanjur pergi, mati.

Kusampaikan kegelisahan ini.
pada jiwa-jiwa menggelora yang makin marak memamerkan emosi.
pada darah-darah muda yang pendar cahayanya meredup dan perlahan pergi.
tergantikan dengan kebebasan tanpa kendali.

kusampaikan duka ini.
pada pergulatan dan cemooh yang terdengar disana-sini.
pada bening mata muda yang tercemari benci.

tak bisakah damai mengambil alih nurani?
tak bisakah prestasi dan akhlak menjaga pribadi?
bukan dengan berkelahi.
bukan pula dengan membiarkan jiwa terjerat nafsu rayu duniawi.

di sudut mereka mungkin hanya ada caci maki.
di sekeliling mereka mungkin tak ada yang berusaha memahami, bagaimana caranya berbagi.
padahal sejatinya mereka ingin dikasihi.
padahal sejatinya mereka ingin dimengerti.

kusampaikan keprihatinan yang mulai menyesaki wajah hari.
untuk ruh suci yang harus pergi, mati.
hanya karna salah paham mencampuri dan jadi korban provokasi.
tapi mereka terlanjur mati.
semoga ada sesal menghantui ...
semoga mereka berhenti menghakimi ..

wahai jiwa-jiwa yang geloranya merajai.
meski setan merasuki .. Menggerogoti ..
lepaskanlah jerat-jerat benci dari dalam hati.
hingga mereka yang telah pergi tak perlu menangis demi melihat kebodohan dan penyesalan yang terlambat disadari.
memberi pelajaran berarti dan dijadikan renungan diri.

Maaf, ini bukan cinta

Baru saja kuputar lagi rekaman suara nyata.
entah beberapa bulan lalu rekaman ini kuterima.
senang sekaligus gulana menerpa.

kau bilang kau cinta.
dan hendak ungkapkan segalanya.
kau bilang aku yang berikan banyak tanda.
padahal senyatanya semuanya biasa saja, tak ada yg mengabarkan bahwa aku punya rasa.
ini bukan cinta

Sayang memang terhadir dari pertemuan dan perhatian yg selalu kau sempatkan disana.
tapi tetap saja ada cawan batas yang kupunya.

maaf, kalau mungkin manjaku kau kira damba.
maaf, karna tiap bosan dan jengah datang, kau juga yang memang setia.
tapi itulah senyatanya rasa, yang ada bahagia dan merana.
dan kau hinggap di sisi duka, dan kau salah menempatkan duga.
atau mungkin aku yg keterlaluan sampaikan cerita dan duka yang menyelimuti dunia.

bukan salahmu yang tiba-tiba memendam dan menyemainya.
karna terkadang cinta hadir tanpa kita minta.
tapi bukan salahku juga tak punya rasa serupa.
maaf ini bukan cinta

biar saja berjalan sebagaimana mestinya.
meski jarak dan waktu harus renggangkan kita.

maaf, untuk kesalahpahaman yang menyembul diantara manis cerita kita.
karna memang tak ada pondasi yang ingin kubangun di dalamnya.
Segalanya biasa, dan kau bagian penyempurna skenario dunia.

biar saja istimewa itu tak lagi sempurna.
tapi terima kasih pernah jadi pendengar setia.
Sekali lagi maaf, ini bukan cinta

Wednesday, 26 September 2012

Untukmu si sederhana

hai si sederhana. berhari-hari tak bersua dan menjentikkan cerita untuk kita tuang bersama. aku rindu padamu. untuk terus mengembangkan rasa aman dan nyaman kita. rasa aman dan nyaman yang kita agungkan berdua. yang kataku, ini salah satu syarat yang selalu kuajukan pada tiap kali menjalin asmara, dan rajutan apapun agar terus terlaksana.

hai si tinggi sederhana. tiap detik, jam, hari kutunggu selalu kau memberi sapa. meski terkadang jenuh dan jengah itu menyandera. tapi aku tetap saja bertahan, untuk setia mengatasnamakan nyaman menjelma jadi cinta.
apa kau merasakan hal yang sama?

kau bilang, sekarang aku terasa jauh. Dan hangatku tak lagi utuh.
Mungkin ragu sedang mencumbuku.
Terima kasih untuk jujurmu, bahwa kamu teramat rindu.
rasa-rasanya, masih bisa kudengar bisikmu.
rasa-rasanya, masih bisa kurasakan hangat itu menjalar pelan di hatiku. dingin, dan membuat bulu kudukku merinding.
sempat kubilang, aku mungkin lebih pantas jadi teman maya. yang hanya bisa berucap lega dalam kata.
yang hanya bisa tunjukkan ceria tanpa harus bertatap muka.
tapi kau sengaja alihkan gugup kita.
kau sengaja menghapus duga dan tanam percaya.

sungguh, aku merasa begitu istimewa. meski maya yang menganugerahkannya.

hai si tinggi sederhana. aku ingin sama seperti mereka. bisa rasakan keheningan damba, kesucian rasa dalam tiap kata dan perhatian yang kau punya. tapi terkadang, jarak dan angkuh menghancurkan mimpi kita. atau mungkin, aku dan kamu, kita yang merusak sendiri bejana percaya.

Hai si tinggi sederhana, mungkin aku cinta. mungkin juga ini hanya kekaguman sementara, karna sikapmu yang selalu tak kuasa menolak pesonaku yang kau terima.
tapi aku ingin tetap ada sapa yang menghampiri kita, berdua.
di kala fajar datang, saat kau layangkan manja dan kekuatan menggelora. saat matahari menjerang, dan kau ingatkan aku untuk terus bersabar.
saat purnama memenjarakan sinar, dan kau bisikkan, selamat malam sayang.

untukmu si sederhana. aku sungguh tak tahu bagaimana mengucapkan gumpalan rasa yang kini menggema. yang menggelontorkan dan membanjiri nafas praduga, karna indah dan sederhana yang kau punya.
aku cinta, meski tak harus dalam jerat realita.
aku cinta, meski hanya dalam pesan yang kau kirimkan beserta senyuman yang kau sertakan bersamanya.
aku cinta, karna segalanya terlihat sederhana.

sederhana, karna maya ini cinta. dan aku hampir gila karnanya!

Kembali ke dekapmu, lagi.

Pernah aku mencoba berhenti.
mengubur rasa ini dan mencari kesempatan lagi.
berlari sejauh mungkin meninggalkan bongkahan hati yang tak ubahnya rangka mati.
mengelilingi hamparan bumi yang dulu tak pernah sempat kusambangi.
tapi lagi-lagi, aku kembali ke titik ini.

titik ketika aku harus memberimu lagi kesempatan
untuk jadi berarti.
nurani yang memberi intruksi.
hampa saja ketika sebagian dari ruh-ku tak ada kau yang mengisi.

pernah aku mencoba berpaling demi mempertahankan harga diri.
membenahi dan ber-kontemplasi, siapa yang patut menyakiti dan disakiti.
menawarkan cinta atau sekedar asa semu yang sebentar datang, sebentar pergi.
meski lagi-lagi hanya kudengar janji dan ironi.
nama-mu lagi yang kemudian membayangi.
menyuruh ragawi agar kembali memahat kasih suci.
dan aku kembali, lagi.

nyatanya memang hanya kamu yang mampu luluhkan benci dan emosi.
nyatanya lagi, memang hanya hatimu tempat abadi yang Tuhan takdirkan untuk kusinggahi.

mungkin aku hanya butuh argumentasi pasti.
mungkin hati dan akalku yang labil membaca arti.
atau mungkin, kau sengaja menjerat erat ragaku dengan tali temali.

meski begitu ...
rotasi bumi selalu menuntunku kembali.
melukis kembali mimpi, bahagia hati.
dalam dekapmu lagi

Tuesday, 25 September 2012

semoga saja ..

Memapah rindu yang tercecer dalam penantian tak berujung
kuingin sekali mengecup wanginya rehat di pundakmu
menunggu senja kembali ke peraduannya, di dekapmu

menikmati senyummu, dan hanya aku. 

apakah rindumu untukku mencumbumu?
yang meramu ragu jadi tatap syahdu ?
ingin sekali kukerontangkan luka dan sayat hati ini menjauh,
dan kembali lagi melukis bahagia bersamamu.

kuingin sekali menikmati senja bersama
 dalam keremangan damba, berdua.  
mengendus wangi luka yang telah lama sirna
semoga kau yang akan selalu meleburnya
membiarkan hatiku hatimu, hati kita. 
terpagut jadi satu cinta
semoga saja .. 

menikmati malam tanpa bintang dan purnama.
tenang, meski rasanya tak ada kau disana, hampa
pendar bahagia yang tak lagi mampu kulukiskan kata
dan kuingin sekali, menyaksikan bahagia kita, seterusnya. 
semoga saja ..

Sepertinya ini cinta

Pernah kuyakinkan hati, untuk menyemai rasa disini.
menunggui jejak nyata yang di beri
meski entah itu pasti atau ilusi

pernah kutanyakan apa aku boleh pergi?
dia bilang jangan lari, tetaplah disini.
tapi untuk apa kupertahankan damba ini?
kalau hanya membuat labirin hati tersakiti, lagi dan lagi.

lalu untuk apa ku masih bertahan disini?
jadi pendengar dan berusaha mengalahkan ego yg merajai?
kalau nyatanya, ucapnya saja masih seperti simpul yang tak mampu kubuka

sepertinya aku cinta ..
meski tak perlu berbalas serupa.
sepertinya aku suka ...
mengagumi tiap inchi sederhananya.

sepertinya segalanya mulai menjelma jadi fana.
karna setelah sekian lama kutunggu ..
ia tetap saja tak mau wujudkan rasa pada dunia,  cintanya
ia bertahan pada yakinnya.

entah sampai kapan rasa ini kuat menahannya.
sepertinya aku mulai tak kuasa ...
karna dia yang kukagumi, ternyata lagi-lagi membuatku mengeruk lubang luka, untuk kesekian kalinya.

Mungkin lebih baik sendiri ..

Sejak dulu kutanam sabar. Agar payungnya merebak menuntaskan salah paham, dan munculkan sadar.

sejak dulu kuhentikan keberharapan pada orang-orang.
agar tak perlu lagi kutuang dendam karna perhatian yang tercampakkan.

sejak dulu sudah kusimpan gumpal-gumpal keramahan.
tapi nyatanya mereka tak juga rasakan.
yang ada justru kemunafikan makin menunjukkan sinar.
yang ada justru wajah-wajah penuh kebohongan menyembunyikan kebenaran.

apa perlu diam melumat segala bimbang?
apa perlu ego mempermainkan kekekalan persahabatan?

sedangkan sekarang, tak ada lagi keperpihakan dan menyelakan waktu agar rajutan silaturahmi ini makin hangat nan kekal.
lalu harus kuapakan?
Kalau rasa mereka perlahan memudar.
lalu, harus kuapakan?
kalau sejatinya, segala kebencian dan menganggap diri sendiri paling mengerti mulai hinggap di hati.

harus bagaimana lagi?
membenahi kubangan emosi yang kian lama tumbuhkan duri.
lebih baik sendiri ..

toh bumi akan tetap berotasi
toh dunia akan tetap memberi simpati empati.
pada hati-hati yang menyimpan duri itu jadi ikhlas diri.

Mungkin lebih baik sendiri ...
meski sendiri, tak pernah berarti.

Dan Aku Cemburu

                                                       aku cemburu
                                     padamu .. karna imaji-mu menggebu
         karna hati dan pikiranmu menyatu. bagai tangga lagu dan terdengar merdu.
      aku cemburu padamu, entah sejak kapan rasa ini muncul bagai elegi yang berpadu.
                 melihatmu .. mendengarmu .. merasakanmu .. menghipnotisku
  meski tak pernah dengan jelas mengenalmu. hanya namamu yang terngiang di telingaku.
                                                  tetap saja aku cemburu

                  ingin sekali jadi sepertimu. yang menuliskan beribu kalimat indah
                yang meski akan ada banyak rasa terpaut pada mudamu yang buncah
                       meski benci pun akan bertumpah ruah, katamu tetap indah.

                           banyak kumbang dan lebah menghampiri sarangmu
                             hanya untuk sekedar meneguk segar inspirasimu
                                                dan aku cemburu … 
                                                 cemburu .. 
                                                 dan ..
                                                 makin memburu

aku lelah berpura-pura

aku lelah mencoba jadi sempurna. 
meski bayangmu sama tak nyatanya.
aku lelah berpura-pura ..
menutupi segala sesuatunya yang tak ada
menyembunyikan fakta, bahwa busukku tiada terkira.

aku lelah mencoba jadi sempurna. 
karna justru bayang kehancuran yang muncul sempurna.
apa benar-benar hanya dusta yang bertahta dan memenangkan pergulatan dalam dada?
apa hanya akan ada ucap mesra yang tergambar dalam angan kita?

aku lelah berpura-pura .. 
karna nyatanya kau tak pernah benar-benar cinta.
kau mempermainkan rasa,
kau mempermainkan asa yang kupunya.
hingga rasanya, luluh lantak segalanya.
hingga rasanya .. tak ingin lagi kuurai luka pada realita.

aku lelah mencoba membuatnya nyata.
karna hanya dusta yang kuterima, belaka
karna aku hanya jadi bayang saja
karna bukan ini yang membuat bahagia
memenjara luka dalam sinar mata bahagia.
padahal sejatinya hanya damba yang tanpa balas seia

Monday, 24 September 2012

Happy birthday tika

Hey,  selamat hari bahagia.
Kuulurkan tangan agar bertambah lagi doa.
Kulayangkan senyuman,  agar hari dan hatimu hadirkan suka.
Selamat hari bahagia..

Mimpimu ada disana. Raihlah ia :)






Dunia tanpa duga

ketika lelah mendera
ketika jenuh menggerogoti raga
saat itulah namanya yang terbayang di pelupuk mata
kusebutkan namanya setiap nafas ku hela
kutasbihkan segala duka yg bercokol dalam dada

ketika dunia menyesakkan jarak dan ruang
hanya di tempatnya segalanya terasa lapang
hanya dengan menengadahkan tangan, maka sesak itu berkurang.
bukan tanpa hikmah sakit itu datang
menyela tiap-tiap kebahagiaan.
bukan tanpa hikmah kehilangan itu
menghadang
menjerumuskan hati agar wajah dipalingkan.

karna dunia, bukan saja fana.
tapi segalanya tanpa duga, belaka.
karna dunia, bukan se-genggaman kita. Meski harap datang silih berganti.
Tetap saja,  kuasa alam bukan di tanganku sendiri.

aku suka menuliskanmu dalam tiap doaku

aku suka menuliskan tentangmu. jari jemariku yang bergerak sendiri menuliskan itu.
tentang polos sikapmu, tentang tingkahmu yang seringkali mmelayangkan manja padaku, tentang ucapmu yang kadang menyadarkanku bahwa aku mulai istimewa di hatimu. banyak hal tentangmu. aku suka menuliskan rasaku, meski lgai-lagi itu tentang kamu. saat rindu ini mulai hadir, dan menyaingi sepi yang seringkali menemani. saat dimanapun aku berada, dan kapanpun nafas kuhela, hanya bayangmu yang muncul dan menggelontorkan keangkuhan yang ada. 
nyatanya, aku cinta! 
tak berbilang jam pertemuan itu terjadi. meski diam ini selalu merajai. kuakui nyamanku memang hadir ketika ucapmu mulai terdengar, lagi. kamu .. bolehkah kusebutkan selalu dalam doa-ku? 
kamu … bolehkah kujadikan proposal tambatan hatiku?
 dan kamu … bolehkah kalau hanya aku saja yang berharap pada Tuhan di atas sana, agar aku yang setia dan seia jadi pendampingmu?
tak tahu harus darimana kumulai. bahkan ketika fajar menyingsing, sejatinya namamu saja yang mengungguli. sinarmu .. hangatmu .. sederhanamu .. memasungku dalam rasa yang entah dimana ujungnya.
ini lagi-lagi tentangmu. mereka mendekatiku, dan meski kuakui nyaman menjalani segala hal dari dan dengan mereka. tetap saja lintasan yang ingin kulewati itu hatimu. membayangkan bisa menyaksikan senja bersama, memeluk mesra, dan tentu saja. kau mengecupku dengan buncah bahagia luar biasa. untuk mereka, maaf untuk diam dan engganku yang kadang dan seringkali menyakiti. bukan itu yang kuharap dan menjelma jadi benci. tapi rasaku memang begini, tak ingin kunodai rasa suci hanya dengan memberi harap semu pada hati-hati yang sama halnya aku, ingin selalu dikasihi.
kamu tahu? ketika sedihmu tak pernah kau tampakkan dalam nyata tatapmu. lebih dari sekedar sembilu yang singgah disini. dan mungkin saja membuatku tak pernah berarti. tak tau bagaimana hatimu akan menerima dan meluluskan cinta ini. tapi inilah rasa yang kupunya. yang selalu ingin menggandeng jemarimu dan berkata, aku cinta. yang selalu ingin berbincang dan hadirkan tawa di bibirmu yang penuh goda. yang selalu ingin bisa mendapat sapamu tanpa jeda, kau tahu? 
ini cinta (faktanya).
entah darimana intuisi ini menuntun ragaku. memutuskan hanya untuk memperhatikan tingkah polah lucu-mu. memutuskan hanya untuk mau menanamkan percaya padamu. dan memutuskan hanya kau satu-satunya yang kumintakan agar jadi tambatan hatiku. apakah kau juga begitu? 
si tinggi yang sederhana. aku ingin sekali bisa menatapmu leluasa… tanpa iri dan ragu menyelimuti benak dan kalbuku. 
aku ingin sekali berbincang lega .. tanpa harus ada risih yang jadi perusak suasana. 
nyatanya aku suka segalanya yang kau punya. sedih yang kau rasa, mimpi-mimpi yang kaucoba rajut sempurna. tentang senyummu yang tak pernah pudar meski sedih dan kehilangan mendera. segalanya .. 
mendengar bisikmu saja aku suka. 
mendengar ucap rayumu pun tak apa. asal kau mengijinkanku menyebutkanmu dalam setiap doa. 
asal kau mengamini ketika tanganku menengadah dan meminta kau yang menemani selamanya.

aku ingin sekali mengucapkan “selamat mencintaiku” .. dan kudengar darimu, “I love you too”. 
ya, hanya sekedar itu yang kumau. lantas segala janji dan proposal itu menjadi pedoman hatimu, hatiku. satu