.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Thursday, 12 July 2012

Bersemi lewat udara 10


 Latifa Mstfda
-eps 10 -
Esok paginya, setelah Indra mengungkapkan perasaannya padaku. Situasi tetap tak membaik, Icha tiba-tiba saja jadi pendiam. Bima tetap saja seperti sebelumnya, selalu malu menegurku. Hanya melati yang masih mau menemaniku, antusias bercerita apapun padaku. Sedikit banyak membuatku melupakan rentetan kejadian itu.
Dan satu kejadian yang membuatku benar-benar merasa bersalah.
Siang itu, aku masih berada di rumah singgah tempatku mengajar. Bersama indra tentunya, dia juga berusaha bersikap biasa, meski aku tak pernah memberikan jawaban untuknya, tapi kurasa dia tau. Aku hanya menganggapnya teman biasa.
Selepas mengajar, aku langsung pulang. Berharap bertemu Melati, ingin sekali mendengar gesekan biolanya yang selalu menyambutku pulang.
Tapi yang kutemukan hanya Dwi. teman sekamar Melati yang menangis sesunggukan. Juga boneka hadiah-yang kuberikan pada Melati sudah berhamburan isinya. Tak berbentuk lagi.
Kudekati dia perlahan, takut salah paham. “Kau kenapa menangis dwi?” Aku mengusap lembut kepalanya, berusaha mengalirkan ketenangan untuknya.
“Maafin Dwi ya kak Maha, dwi tidak sengaja .. “ Ia malah semakin sesunggukan, tangisnya bukan malah mereda. Aku bingung sekaligus penasaran.
Kenapa seisi rumah sepi, boneka-ku juga berhamburan seperti itu, dan lagi dia ditinggalkan sendirian.
“Eh, kenapa meminta maaf pada kakak? Kuhapus airmata yang mengalir dengan sapu tangan yang kubawa.”  Bertanya halus. “Maafin dwi kak maha .. “
Aku tak berhasil mengorek apapun darinya.
Mamang datang tergopoh-gopoh. Aku keluar, “Rumah kok sepi mang? Lalu melati dimana? Aku bertanya beruntun.
“Ini non, melati di puskesmas”. Mataku membelalak. “Di puskesmas mang? Dengan siapa?” “Eh, tadi diantar mas Bima.”
Aku segera mengambil tas, pergi lagi menuju Puskesmas yang tak begitu jauh dari rumah. Indra yang bingung mengikutiku saja pasrah. Tanpa tau hendak kemana.
Sampai di puskesmas, aku bertanya pada perawat yang sedang berjalan. “sus, kamar periksa dimana ya?” Aku bertanya panic.
suster itu menunjukkan beberapa arah yang harus kulewati untuk sampai ke kamar periksa. Indra masih saja pasrah mengikuti dari belakang, memastikan kalau aku baik-baik saja.
Setelah beberapa menit berputar-putar mengikuti arah dari suster tadi. Kulihat Bima, Icha dan Juga bibi sedang berdiri kalut di depan ruangan. Di lorong- depan ruang periksa. Aku bergegas menghampiri mereka, berlari secepat mungkin.
“Melati kenapa Bi?” Masih sedikit tersengal.
Bibi hanya menunduk, menahan tangis, “Tadi Dwi dan Melati berebut boneka. Adegan jambak menjambak pun terjadi, tidak ada yang mau mengalah. Dwi yang lebih besar otomatis lebih kuat juga tenaganya, dia tak mau melepaskan bonekanya. dan Melati jatuh non, kepalanya terantuk kayu. Berdarah.. ”
Aku kaget. “Kapan Bi?”
Yang justru membuatku kaget adalah, tiba-tiba Icha berdiri. Matanya merah, menyala. “Ini semua gara-gara kau! Menunjuk tak sopan ke wajahku. Icha mendesis jengkel.
Aku tercengang.
“Aku?” Kenapa aku yang disalahkan, aku bahkan tak tau apa-apa, Icha? Aku protes tak mau disalahkan.
“IYA! ini semua gara-gara kau Ha!” K-A-U! Icha berteriak lebih kencang. Aku gentar
“Kalau kau tak memberikan boneka pada melati saja. tentu semua ini tidak akan terjadi. Kalau kau berbuat adil pada anak-anak itu, tentu saja Melati tak akan jadi korbannya!” Aku diam. mulai merasa bersalah.
“Kalau bukan karna kau, mereka berdua tidak akan bertengkar merebutkan barang murahan dari kau itu! Icha benar-benar marah kali ini. Indra dan Bima mencoba menenangkan Icha. Semua hanya diam, menatapku. Aku benar-benar merasa dipojokkan.
“Udah Cha, bukan salah Maha. Ini semua tidak diharapkan siapapun” Bima menenangkan. Aku melirik sekilas, tapi dia-pun tidak terlihat sedang memihak padaku.
Tak ada Bibi yang selalu jadi orang pertama membelaku, seperti dulu.
Terdiam lama. Suasana berubah hening.
perawat keluar mencairkan suasana. “Keluarga anak melati yang mana ya?” Semua berdiri bersamaan, ingin tahu kondisi melati. Bibi maju paling depan, masuk kamar melati. Aku hanya bisa diam menyaksikan yang lain masuk tanpa mengajakku. Aku jelas tau diri. Aku tak mau ada keributan saat Melati sedang terbaring sakit di dalam.
lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu, aku masih sabar menunggu.
Tiba-tiba Indra keluar. “Masuk Ha, Melati mencarimu” Aku menghela nafas lega. Syukurlah.
Aku masuk diiringi tatapan benci dari Icha. Aku tak tau sejak kapan perasaan aneh itu ada di kepala Icha, tapi rasanya, sejak kejadian malam di alun-alun itu, ia berubah drastic padaku. Aku belum tau apa penyebabnya.
Aku menghampiri Melati yang terbaring lemas di dipan rumah sakit.
“nyari kakak ya? Berusaha se-riang mungkin menyapa. Tapi melati justru mulai menangis .. “Maafin melati kakak, Bonekanya rusak. Tadi Melati berusaha merebut bonekanya dari Dwi, Melati nggak mau boneka dari kak-Maha kotor .. “ Masih dengan logat kanak-kanaknya .
Aku terharu, mataku berkaca-kaca mendengar bicara melati barusan. Heran. kenapa dia bukannya menyalahkanku karna ini seperti Icha tadi. tapi malah meminta maaf padaku ..
Aku menyeka airmata yang hendak keluar. Mengelus rambut melati yang menutupi perban di kepala. Anak sekecil ini harus terluka di mana-mana. di Hati, dan sekarang di kepala.
“Nggak papa melati, nanti kakak belikan lagi ya?” Aku mendesis pelan, berusaha hanya dia saja yang mendengar. Mata melati membulat, “Benar taka pa kak? Kakak mau membelikan lagi buat melati?” Aku tersenyum. Merengkuh badan kecilnya dalam pelukanku.
Bukan saja karna melihat jiwa besar yang ditanamkan pada anak ini, tapi juga karna kepolosannya. Aku tak pernah tega melihat anak sepertinya menderita.
Yang lainnya hanya diam memperhatikan. Tak berani berkomentar.
***
itu kejadian seminggu yang lalu, tujuh hari terakhir aku berada di kota ini.
Hanya dua hari melati dirawat di rumah sakit, selebihnya hanya harus rawat jalan saja.
Melati tetap riang seperti biasanya, menyapaku, membawakanku setangkai melati yang masih belum kutau dari siapa. Tapi kuterima saja.
Dua hari, tiga hari setelahnya. keadaan melati membaik, perban di kepalanya sudah bisa dilepas. Ia bisa bebas lagi mengibas-ibaskan rambut di dahinya. Aku tersenyum bahagia melihat perkembangan Melati.
Beberapa hari terakhir ini aku sibuk mengajar, pulang lalu menjaga Melati. Bodo amat dengan urusan yang lainnya, tak begitu perduli lagi dengan Icha yang masih diam membisu.
“Kakak akan tetap disini bukan?” Pertanyaan melati beberapa hari yang lalu. Aku diam, tak mau jujur, tak mau juga berbohong. Aku tau, dia anak yang pandai, lambat laun dia pasti mengerti.
Kalau selalu ada perpisahan yang mewarnai pertemuan, selalu ada duka yang mewarnai suka. Aku tau benar, dia akan dengan cepat menyadarinya.
Hari ini hari terakhirku di Surabaya, lepas mengajar sore harinya, aku mengamati sekeliling rumah. Menara tower yang selalu menjulang tinggi, kandang ayam di sebelah rumah, mall-mall besar. Ruang tamu tempatku bercanda dengan Indra, bima dan juga Icha. Kamar melati yang selalu kukunjungi. Semuanya akan tersimpan rapi pasti.
Kami berempat memutuskan untuk pergi dengan kereta malam, biar Melati tak perlu menangis kalut saat kami pergi. Biar malam saja yang tau, kalau aku berat meninggalkan kanak-kanak lucu itu sendiri disini.
Tadi aku sudah membelikannya boneka yang baru, masih kusimpan rapi di lemari.
Kubuka kamar melati perlahan, dia sudah terlelap dalam tidurnya.
“Baik-baik saja disini ya Melati. Kakak pulang dulu .. “ Aku menghela nafas panjang. Tak kuat melanjutkan.
kuusap rambutnya seperti biasa yang kulakukan ketika menina bobokkannya tiap malam. “Kakak janji .. “ Berhenti sejenak, menormalkan perasaan yang bercampur aduk.
“Kakak janji, suatu saat nanti kakak pasti kesini lagi .. “ Segera sebelum aku menyadari hatiku tertinggal separuh disini. Aku keluar.
Menyusul Mereka bertiga yang sedang berpamitan pada mamang dan Bibi.
Kereta sudah menunggu kami di stasiun.                       
Dimanapun kita berada, aku yakin selalu ada perpisahan juga pertemuan. Entah diselingi akhir yang bahagia atau akan tetap menyisakan luka di hidup kita, dan meski meninggalkan itu selalu lebih mudah daripada ditinggalkan. Selalu ada separuh hati dan sepotong cerita yang akan tertinggal disini.
Melekat erat sampai tua nanti.
Kuakhiri cerita pertama di Surabaya.
Meninggalkan luka di kepala, juga di hatinya.

-bersambung-

No comments:

Post a Comment