.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 31 July 2012

Kaleng Mimpi Salu

Latifa Mstfda


terseok-seok aku mengikuti langkah kaki ibu. langkah kaki tua yang tetap saja bersemangat untuk mencari titik rezeki yang diberikan Tuhan di atas sana.
“Ibu, tunggu salu!”
baru saja di persimpangan tadi aku bertemu dengan ibu. barang daganganku yang tak seberapa sudah habis terjual. sore ini laris manis, uang hasil jualan sudah kusimpan dan kumasukkan di saku celana.
berulang kali kupegang, memastikan kalau tidak terjatuh di tiap tempat berlarian yang baru saja kulewati.
“ibu, tunggu salu!” kukencangkan lariku. meski tetap saja, kakiku yang seperti ini tak akan mampu berlari sejauh dan secepat yang kumau. kulihat di depan sana ibu sudah berhenti, membalik badan. tersenyum ke arahku, menunggu. menurunkan barang dagangan, duduk di trotoar.
“Ibu, tunggu salu!”
tentu saja ibu tak akan pernah bisa mendengarnya. ibuku tuli. telinganya sempurna tidak berfungsi sejak kejadian naas itu. saat ada seorang pengendara motor tak bertanggung jawab menabrak ibuku. dan imbasnya, gendang telinga ibu tak bisa mendengar lagi.
maka sesegera mungkin aku menyusulnya, lagipula tadi hanya khayalanku. tiap di persimpangan tadi, di jam yang sama aku memang selalu menunggu ibu lewat disitu, meski habis atau masih barang daganganku.
aku terengah-engah. kini aku sudah duduk manis di sebelah ibu. mengusap keringat yang turun di dahi, pelan, mengalir membasahi wajah.
kulihat dagangan ibu hanya tinggal seperempat saja. baiklah, akan kugantikan saja. kuambil alih tampah milik ibu. aku berlarian lagi menuju jalanan yang sedang ramai orang, lagipula sebentar lagi adzan magrib berkumandang. pasti daganganku akan habis diburu orang-orang berbuka di sana.
dengan semangat menggebu, aku menuju kesana. meninggalkan ibu yang masih duduk menungguku di trotoar tadi. tempat yang sama saat aku berteriak memanggil namanya untuk kesekian kali. 
***
“mari pulang bu! kugamit lengan ibu. menuntunnya perlahan, menuju ke rumah. kabar baiknya? hari ini daganganku benar-benar laris manis. aku tak perlu takut kekurangan suatu apapun di bulan suci ini.
ah iya, perkenalkan, namaku salu. aku anak satu-satunya di keluarga ini. ayahku sudah lama pergi entah kemana, batang hidungnya tak pernah kulihat sejak dulu. ibupun tak pernah mengerti kemana perginya. lagipula, aku sudah cukup bahagia hanya tinggal bersama ibu.
“makan bu!” kubukakan nasi bungkus yang tadi kubeli. menunjuk-nunjuk kea rah nasi itu. di jalan tadi, kami berdua belum sempat berbuka. ibu memaksaku pulang cepat. tak mau gelap lebih dulu menyandera kami tanpa ibadah lebih dulu.
“dimakan bu!” kuarahkan tanganku ke nasi bungkus itu sekali lagi. membujuk ibu agar mau makan lebih dulu. ibu menatapku, lantas menggeleng.
pelan kuambil sendok yang berserakan di tikar, “salu suapin ya?” ibu tetap belum mau membuka mulutnya. aku bingung, aku benar-benar tak bisa berkomunikasi dengan baik pada ibu. yang bisa kulihat hanya gelengan dan anggukan ibu saja.
sejak kecelakaan itu, praktis ibu lebih banyak diam. entah karna trauma mendalam, atau apa aku tak tahu menau.
“baiklah! makan berdua ya bu?” kuambil dua sendok yang masih tersisa, satu kupegang di tangan kanan. dan satu lagi kuacungkan pada ibu.
ibu mengangguk-angguk, tersenyum. aku menghela nafas lega. sore itu, kami lagi-lagi berbuka bersama. sebungkus nasi untuk berdua. meski aku sudah berniat untuk hanya makan sedikit dan menyisakan selebihnya untuk ibu. ibu selalu menolak, tiap kali kuletakkan sendok. ibu ikut berhenti juga. maka tak ada pilihan lain, kami harus menghabiskan makanan itu, berdua, sampai nasi benar-benar habis tak bersisa.
sejak saat itu aku berjanji, aku pasti akan melakukan apapun agar bisa membuat ibu mendengar lagi! apapun caranya.
***
“Alhamdulillah! terima kasih ya Allah”. berulang kali aku tersenyum. mengelus kaleng kecil bekas kaleng susu di bawah ranjangku.
“ah, ini  pasti sudah lebih dari cukup!” kuelus lagi kaleng itu. berharap banyak pada kaleng usang itu.
kudengar derap kaki ibu menuju kamar. segera kusembunyikan kaleng itu, buru-buru kumasukkan ke kolong ranjang.
“ada apa bu?”  pura-pura bersikap biasa, tersenyum menghadap ibu. pelan ibu masuk. menyingkap gorden sebagai pembatas kamarku dengan ruang tamu. ah, sebenarnya rumah ini tak layak disebut rumah. dulu, ini bekas kandang ayam yang sudah tidak dipakai. meski sudah dibersihkan oleh pemiliknya, yang namanya bekas kandang hewan, selalu saja bau.
awalnya aku tak betah tinggal disini. bukan karna bau bekas kotoran hewan yang selalu menyeruak tiap kali angin berhembus kencang. terlebih karna aku tak tega pada ibu yang tiap kali mencium bau ini selalu mual, muntah, dan parahnya lagi ibu jatuh sakit saking pusingnya. tapi mau dikata apa? tinggal di tempat ini saja aku sudah bersyukur. ada seseorang yang berbaik hati merelakan tempat ini kami pakai. berbelas kasih menampung kami, tanpa bayaran, tanpa imbalan apapun, sepeserpun.
dua tahun disini, kami terbiasa juga. sudah tak ada bau kotoran lagi yang menusuk hidung, lebih tajam dibandingkan bau kentut paling beracun sekalipun.
ibu duduk di sampingku, di ranjang hampir ambruk dimakan rayap ini. ranjang yang selalu berbunyi “krek!” tiap kali bergerak sedikit, apalagi diduduki aku dan ibu sekarang,
“ada apa bu?” kupasang wajah paling penasaran, sekaligus wajah paling menyenangkan yang bisa membuat ibu tersenyum.
ibu mengajakku keluar rumah. duduk di sekitaran halaman. menyaksikan langit malam. lihatlah, tanpa bicara sepatah kata-pun, aku tau, ibu hanya ingin kami berdua damai. mendongak ke langit sebagai perwujudan meminta pada Ilahi. meski hanya untuk menentramkan hati.
lagipula aku tahu, hanya dengan begini, mungkin hidup yang sedang sulit kujalani akan berubah memberi motivasi. seperti hari yang tak akan terus pagi, hidup juga tak akan terus membiarkan kita terbuai kemalangan sejati.
lihatlah di atas sana, ribuan bintang sedang memandang kami! tersenyum menyaksikan, dan mengamini. kalau sebentar lagi. mimpi dan doa kami akan dikabulkan dalam sekejapan mata kami.
ibu tak pernah tahu. sudah sejak lama aku bekerja keras membanting tulang, mengumpulkan lembar demi lembar rupiah untuk mewujudkan mimpiku. banyak sekali mimpiku!
mulai dari ingin mengajak ibu tinggal di rumah yang lebih layak, kembali meneruskan kuliah seperti harapanku dulu, dan satu lagi. aku ingin membelikan ibu alat bantu dengar. ya, satu mimpi itu yang selalu membayangi anganku. hanya dengan cara itu aku bisa berkomunikasi lancar dengan ibu.
yang ibu tahu, setiap sore aku akan pulang ke rumah, mengambil dagangan, lantas pergi berjualan keliling bersama ibu. berpencar ke tempat biasa kami mangkal berjualan. kemudian berjanji bertemu di persimpangan biasa, ah bukan, bukan berjanji, hanya aku yang kelewat khawatir kalau tak bisa bertemu dengan ibu ketika sampai di rumah lebih dulu. maka kuputuskan untuk selalu menunggu ibu disitu.
pagi, aku bekerja. siang kulanjutkan lagi bekerja. apa saja! asal aku tak perlu berdiam diri, lantas hanya membayangkan memiliki barang yang sangat ingin kubeli. lagipula, menyibukkan diri memang selalu mempercepat waktu. membuat diri serasa tak menapak harapan palsu. bekerja akan selalu membuat kita merasa dibutuhkan, berguna, dan satu lagi, kerja membuat kita menyadari siklus hidup yang baru.
semua harapan dan mimpi yang kupunya, kutulis, kemudian kugulung. kumasukkan ke dalam kaleng usang tadi. beserta semua uang yang sudah kukumpulkan beberapa waktu ini. tak ada yang terlupa, semua jadi satu!
terhitung sudah satu tahun aku mengumpulkan lembaran hasil keringatku. maka, mala mini, setelah ibu tertiduur, dan memastikan kalau ibu tak akan masuk lagi ke kamar. akan kuhitung semua uang yang tersimpan di kaleng itu.
dan besok, aku akan membawa kabar baik untuk ibu.
ibu, tunggu salu membawa hadiah untuk ibu!
esok paginya, dengan langkah penuh api. kugerakkan kaki menuju toko mewah di seberang jalan itu. di tanganku, kini, sudah tergenggam kaleng usang yang jadi barang keramatku.
berulang kali aku tersenyum, girang. bersiul tak begitu memperhatikan jalan.
kugenggam erat kresek hitam untuk membungkus kaleng usang itu. menoleh sekilas ke kanan kiri, hendak menyeberang jalan.
 “BRUK!!!”
***
 “kau tidak apa-apa nak?” mataku pelan terbuka. mengerjap-ngerjap. silau melihat begitu terangnya ruangan tempat ini.
masih setengah sadar, kupaksa mataku membuka lebih lebar lagi.
“saya dimana?” hanya silau yang terlihat.
“kau tidak apa- nak?” seorang bapak tua itu mengulangi lagi pertanyaannya. suara tegas nan berwibawa itu sepertinya asing, tak pernah sekalipun aku mendengarnya. aku diam, tak bergeming.
“saya dimana?” aku ikut mengulangi pertanyaanku. mataku sudah mulai pulih, ruangan serba putih.
“ini di rumah bapak nak!” bapak itu membantuku bersandar di dipan. duduk, menyodorkan segelas minuman.
ternyata, harapan yang sempat kubangun untuk membelikan ibu alat bantu dengar itu harus kurancang lagi dari awal. kaleng itu musnah! hilang entah kemana. seperti ayahku yang tak pernah kutau dimana jejaknya.
aku tertabrak, karna tak begitu melihat sekeliling. dan jahatnya lagi, pengendara yang menabrakku justru pergi. kabur! takut dimintai pertanggungjawaban. sudah hampir satu hari aku tak sadarkan diri.
“kau baik saja?” untuk ketiga kalinya bapak itu bertanya, mengulang lagi kalimatnya.
aku diam. “dimana ibu?” aku tersadar. ibu pasti mencariku, cemas, khawatir.
dan bapak itu, dengan begitu baiknya mengantarkanku sampai rumah. bertanya berulang kali apa pekerjaanku, apa pendidikan terakhirku, apa keahlianku. melihat sebegitu perhatiannya aku dengan ibu, bapak itu justru tergugu. tak mampu berucap sedikitpun.
dan kabar baik itu menghampiri kami, aku dan juga ibu.
memang, kaleng mimpiku sudah hilang. mungkin diambil orang yang sedang lalu lalang di jalanan. berpikir kalau itu memang rejeki dari langit untuknya. ah, beruntung sekali dia yang menemukan kaleng itu! aku yang mengumpulkannya bertahun-tahun, tapi justru dia yang menuai hasilnya. 
 keadilan memang tak pernah diduga darimana datangnya.

selalu ada sesal ketika harap tak menemukan jalan untuk terbalas.
dan ketika itulah, setelah seminggu aku berkutat dengan rasa sedih. setelah seminggu aku memulai lagi segalanya dari awal. bapak itu datang ke rumah kami, ke gubuk reot bekas kandang hewan yang kami tinggali.
“kau mau bekerja denganku?” tanpa ba-bi-bu, kuiyakan saja tawaran bapak itu. dan satu lagi yang membuatku terharu. benar-benar diluar nalar, tanpa harap yang kusisipkan untuk orang seperti bapak tadi. bapak tadi juga memberikan alat bantu dengar untuk ibu. ya, mimpi yang sudah lama ingin sekali kuwujudkan. hadiah yang selalu ingin kuberikan pada ibu.
dengan malu-malu, bapak tadi memasangkan di telinga ibu. ibu-pun begitu, menerimanya dengan senyum sipu.
aku antusias. sangat antusias malah. “ibu dengar, salu?” aku bertanya setelah alat itu sempurna terpasang di telinga ibu.
“ibu dengar salu bicara?” kuulang lagi agak keras. ibu tersenyum, mengangguk. “iya, ibu dengar salu!”
Ya Allah. kebaikan apa ini yang KAU berikan pada keluarga kecilku. aku ikhlas Ya Allah, meski harus kurelakan badanku sakit tertabrak lebih dulu. meski harus kurelakan seluruh tabungan dan mimpiku di kaleng usang yang hilang itu.
tak apa Ya Allah. sungguh! demi melihat senyum ibu, demi melihat anggukan dan juga suaranya yang sempat hilang beberapa waktu itu. aku sungguh berterima kasih pada-MU. mungkin lewat tangan bapak itu kau berikan nikmat itu.
“dan satu lagi , .. “ bapak itu meneruskan bicara.
“apa pak, ? adakah yang harus kubayar?” aku sigap bertanya.
bapak itu menggeleng. “bukan, maukah kau tinggal saja di rumahku. ada bagian sendiri yang kosong tak dihuni”.
aku benar-benar tak habis pikir. semua mimpiku terjawab hanya dalam satu waktu.
"lihat bu! satu persatu mimpi salu di-accept Allah bu. lihat ini bu. besok ibu dan salu bisa punya segalanya! tunggu sebentar lagi bu .. salu yakin, batas doa dan mimpi salu hanya seperbatasan itu". Aku bergumam dalam hati, tersenyum puas memandangi wajah ibu yang tak kalah berseri malam itu.
aku tau Ya Allah, meski langit tak selalu cerah. meski segala masalah tak selalu mudah. tapi aku tau, masih ada terang yang menerangi malam. juga masih ada orang-orang di sekitar kita yang tak pernah lelah, juga menyerah menghadapi segala masalah.

Monday, 30 July 2012

Mengisi Separuh Hati

Latifa Mstfda


dengan latar suasana remang kafe ini. di kafe paling romantic yang pernah ada. dihiasi kerlip lilin yang berpendar-pendar cahayanya, arul duduk bersimpuh. tepat di hadapanku yang masih sempurna mematung, terheran-heran.
beberapa pasang mata pengunjung kafe lain melirik kea rah kami berdua. aku mencoba biasa saja. toh mungkin mereka juga sudah biasa melihat pemandangan seperti ini. dua orang anak manusia yang sedang jalan berdua. itu saja.
“maukah kau jadi istriku yash?”
arul membuka kotak kecil mengkilap itu. “ini cincin yang selalu kau ceritakan padaku yash. kau suka?” arul mengambilnya dari kotak perhiasan itu. bersiap memakaikan di jari manisku. aku tergugu. kotak perhiasan yang di dalamnya selalu aku harapkan diberikan lelaki yang kucintai untuk melamarku. permata, ya cincin permata bertuliskan namaku disana.
bukan, bukannya ini harusnya membuat bahagia? kenapa aku sama sekali tak merasakannya? ini sudah ke sekian kalinya arul melamarku. memberikan cincin mahal, amat mahal malah. sebagai tanda tulus cintanya, juga keseriusannya melamarku kali ini.
“maukah kau jadi istriku yash?” arul mengulang lagi pertanyannya, untuk kali kedua. senyum merekah lebar dari bibirnya. aku tahu, meski begitu, meski untuk kesekian kalinya, ia gugup.
bahkan, amat sangat gugup.
masih saja hening. aku tak mampu berkata apa-apa.
apa lagi yang harus kutunda? apa lagi yang harus kujadikan alasan untuk memperlama waktu menerima lamarannya? menunggu hatiku sempurna utuh untuknya kah? atau memang ini hanya sekedar alasan yang kubuat untuk selalu menolak apapun ajakan serius darinya.
entahlah, aku benar-benar tidak mengerti bagaimana harusnya logika dan hati kusatukan sendiri.
“maukah kau jadi istriku, yash?” arul mulai memasang wajah cemas. keringat dingin membasahi jas mahalnya. dahinya sudah mulai berkeringat. pelan mengusapnya dengan tangan. meski begitu, ia masih bisa menyunggingkan senyum. senyum kesabaran yang selalu ia tunjukkan. dimanapun, kapanpun, selalu saat berada di sisiku.
aku menggeleng lemah. tak kuasa menolaknya lagi, untuk kesekian kali.
arul menutup kotak perhiasan itu. pelan bangkit dari duduk simpuhnya. menghela nafas panjang, berat. duduk kembali di hadapanku. meletakkan kotak itu di meja yang sudah ia siapkan jauh-hari untuk melamarku, lagi. di tempat yang sama, di tanggal, dan selalu bulan yang sama. tanggal Sembilan, bulan ke-enam.
“baiklah, masih ada lain waktu yash” arul berusaha setulus mungkin tersenyum. melumerkan gundahku, meski gundahnya lebih dari cukup yang kubuat selama ini. entah kenapa Tuhan baik sekali memberikanku lelaki super sabar sepertinya.
“maafkan aku rul .. “ aku menunduk, suaraku tercekat. benar-benar terhenti di kerongkongan. tak ada lagi yang bisa kuucapkan.
arul tersenyum lagi. lebih lebar, kali ini lebih tulus. aku tau, ia selalu bisa memaafkanku, meski penolakan ini lebih dari cukup untuk membuatnya berhenti, dan mundur jauh dari kehidupanku. mencari kesempatan yang lebih baik lagi mungkin, lebih segalanya dari aku. tapi itu tak pernah ia lakukan tiga tahun terakhir ini. bahkan justru lebih mengerti keadaanku.
“maafkan aku rul .. aku butuh waktu” sekali lagi aku memberi pernyataan. meminta waktu yang jelas-jelas tak pernah kutahu sampai kapan.
“tak ada yang perlu dimaafkan yash. aku tau, aku sungguh mengerti kamu” arul mendekat. mengangkat kursinya duduk di sampingku. “aku akan selalu sabar menunggu yash, selalu .. , meski aku pun tak pernah tau ujung waktu sabar-ku itu”.
pelan tapi pasti, airmata mengambang di pelupuk mataku.
***
“ah iya, kau dapat salam dari dio.” sabria menyampaikan pesan yang dititipkan lewatnya.
aku yang sedari tadi sibuk mengacuhkannya, hanya karena mendengar kalimatnya barusan. tiba-tiba hatiku berhenti seketika. mati rasa. tiba-tiba banyak hal berkelebatan di kepala.
“hey yash! kau dapat salam dari dio”
aku masih diam tak bergeming. ruangan ini sempurna tertutup rapat. tapi hatiku seketika berdesir. persis seperti pepohonan yang tertiup angin kencang, lantas meliuk naik turun. melambai.
sabria menggoyangkan jemarinya di depan wajahku.  “helooo!”
aku tersenyum. berusah senormal mungkin, mengangguk sebiasa aku menerima salam lain yang disampaikan lewat mulutnya.
hanya saja, kali ini hatiku tak bisa bersikap biasa. terlalu banyak luka dari nama tadi. terlalu banyak sakit dan kisah yang sudah berusaha sekeras mungkin kulupakan bertahun-tahun ini.
nama yang sudah lama pergi. entah pergi, atau memang sengaja kubuang jauh-jauh dari hidup yang hanya singkat ini.
“kau tak apa, heh? yash?” sabria belum mau menghilang dari pandanganku.
“iya, aku baik-baik saja” aku tersenyum, mengangguk mantap. tak ada yang perlu kuceritakan pada sahabat dekatku ini. lebih tepatnya sahabat baru-ku ini.
“baiklah, aku ke ruanganku dulu ya.” sabria melambaikan tangan. menepuk bahuku dulu, membuatku sedikit tersadar dari lamunan panjang. “kau mengenal dio?”  dan sebelum sabria melangkah menjauh, hanya pertanyaan itu yang terpikir dalam benakku. tak tahu harus memulai darimana.
sabria berbalik. pelan mendekat ke mejaku lagi, “tentu saja aku mengenalnya” lantas berbalik lagi keluar. meninggalkanku tanpa sepotong penjelasan untuk kumengerti.
***
aku punya dua orang sahabat dulu. sejak SMA sampai aku masuk bangku kuliah. dua orang sahabat yang selalu kupercaya, pun kusayangi. begitu dalamnya. yang seorang namanya dio, dan seorang lagi, nala.
sudah hampir seperti trio kwak-kwak kami bertiga. kemana-mana selalu bertiga. sampai akhirnya, dio menyatakan rasa sukanya padaku. meski waktu itu, aku sama sekali tak merasakan hal yang sama dengannya. hanya soal waktu, ketika sahabat berubah jadi cinta, semua akan berubah jadi rumit. apalagi kami ini bertiga, aku tak ingin salah satu dari kami merasa tersisih. dan aku, memilih untuk tak menerima cintanya.
sebulan, dua bulan, semuanya berjalan sebagaimana adanya. aku rasa, rasaku pada dio biasa saja. seperti pada lelaki lainnya. toh bertahun-tahun bersahabat dengannya, kemanapun selalu bersama, membuatku merasa tak perlu ada yang perlu dirisaukan. aku tak perlu kehilangan apapun, dan siapapun.
dan kabar menyakitkan itu datang juga. mereka berdua pergi. setelah ribut besar tak terhindarkan diantara kami bertiga terjadi. dio malah mengaku kalau dia pun mencintai nala. bagaimana bisa? bagaimana aku bisa terima?
baru beberapa bulan yang lalu dio bilang suka padaku? dan ketika aku bicara baik-baik padanya, ia bilang, hanya akan menjaga hubungan ini akan tetap terjaga. bagaimanapun caranya. dua bulan menyembunyikan status mereka berdua, dan aku justru mengetahuinya dari sebuah buku surat mereka.
yang kutau setelah membaca itu semua. benar! aku baru merasa, aku memang mencintai dio. meski dulu aku enggan mengakuinya. bukan, bukan karna aku munafik. tapi terlebih karna hanya aku yang tau bagaimana mengendalikan hatiku untuk tetap menjaga perasaan nala. tapi justru dio yang membalikkan fakta.
pelan, mereka berdua meninggalkanku. lebih asyik dengan dunianya.
aku? sudah pasti sakit sekali rasanya di dada ini. sakit, menyadari kalau ada cinta yang baru terasa setelah dio pergi. sakit, setelah mengetahui kalau nala pun menerima semua pengakuan dio padanya, mengabaikan perjanjian yang ia buat sendiri. apa ia lupa, dulu, nala sendiri yang bilang dia tak pernah menyukai dio.
lantas, aku harus menyalahkan siapa? menyalahkan aku yang cemburu tiap kali melihat mereka berdua bermesraan dimana saja? menyalahkan nala yang tiba-tiba berubah mencintai dio? atau justru menyalahkan dio yang sebegitu mudahnya pindah ke hati nala?
aku harus menyalahkan siapa? tak ada. kadang cinta memang hadir tanpa rasio bekerja. meski mengaku sudah punya cinta, ia tetap saja nekat membuat cinta baru di hatinya.
hanya aku yang salah. aku yang salah tak bisa menempatkan rasa, kenapa pula cinta ini harus tumbuh justru saat ia pergi dengan cinta barunya? kenapa harus begitu.
“D-I-O! DIO!” Aku berteriak kalap di depan gerbang kampus. melihat untuk yang pertama kalinya mereka duduk berdua, berbincang manja. melihat untuk yang pertama kalinya setelah fakta besar yang mereka sembunyikan dariku di buku itu.
Ya Tuhan, kenapa aku harus merasa begitu?
mereka berdua menatap panic. berdiri bersamaan. kakiku gemetar, tak kuat menopang badan sendiri. aku memang berteriak, teriakan menahan tangis yang hendak pecah melihat bahwa, aku ini ternyata sahabat yang sudah dikhianati.
aku berlari. dengan tangis meledak, tanpa harus menunggu dan mendengarkan penjelasan apapun dari mereka berdua. ya, dua orang yang sejak dulu selalu kupercaya. selalu kujadikan tempat bercerita. kini justru mereka yang membuat cerita baru sendiri untukku. cerita luka, yang begitu menghunjam dada.
sejak saat itu. aku tak pernah mau lagi mendengar apapun tentang mereka berdua. bahkan di tahun ke-empat aku pergi meninggalkan tempat menyakitkan itu, aku masih sempurna mengingat bagaimana detail kejadian itu. kapan tanggal mereka meresmikan hubungan itu, semua kubaca, semua kuketahui dari buku itu.
tak ada yang bisa membendung amarahku. kurobek beringas buku itu. kubakar! ya, kubakar buku itu ganas-ganas. tak bersisa. bahkan sisa abunya saja kuinjak-injak sekuatnya. sampai hilang tak bersisa.
tapi semua itu tak ada gunanya, pengkhianatan yang kurasa itu tetap saja tersimpan di dada. sakit itu, masih membekas sempurna. merobek semua harapan yang ada.
meski mereka, tak pernah sekalipun menyadarinya
***
“bagaimana kabarmu yash?” seseorang menepuk bahuku. aku sedang mengantri makan di kantin kantor siang ini. di basement gedung kantor bertingkat paling terkenal seantero kota.
aku membalik badan. benar-benar tak tahu siapa yang menyapaku se-siang ini. lagipula hanya aku yang suka sekali makan disini, karyawan lain lebih suka makan diluar. entah bersama pacar, entah bersama siapa aku  tak mau tau. ajakan makan siang dari arul pun kutolak halus, bilang kalau ada urusan penting yang harus segera kuselesaikan. arul pasti mengerti, selalu mengerti.
“kau …” aku mendesis, mataku membulat.
seseorang yang amat tak pernah kuharapkan untuk datang apalagi muncul di hadapanku sekarang, dan kapanpun. “bagaimana kau tau aku disini?” hanya itu yang keluar dari mulutku. aku benar-benar tak menyangka.
sudah bertahun-tahun aku mencoba melupakannya. menghindarkan segala macam pikiran buruk yang datang karna sakit hati yang kubuat sendiri itu. dan setelah hidupku pelan membaik, dia datang kembali. muncul tiba-tiba mengagetkanku. membuat luka itu menganga lagi, meski tak pernah sama lagi rasanya.
“sabria yang bilang padaku, yash. dia saudaraku” dia masih berdiri tegap di hadapanku. bingung hendak berbuat apa. selera makanku menguap seketika. tak ada lapar tersisa.
dulu, awal mula aku menjauh dari mereka. hanya sedih yang menggurat di wajah. bagaimana tidak? dulu, mereka saja yang kupunya. meski di luar itu, banyak sekali yang mengaku peduli padaku. bilang kalau mereka berdua tak ada pentingnya karna sudah tega sekali menyakitiku.
ya, benar. mereka berdua memang sempat merenggut bahagiaku. apalagi dengan kenyataan pahit yang harus kuterima. bahwa aku mencintainya ketika ia sudah jauh meninggalkanku, membuang jauh-jauh rasa itu untukku. tapi justru aku sekarang yang berusaha mengemis cintanya. meski hanya dalam tangis diam, tanpa tindakan.
aku duduk ke meja paling pinggir. berusaha menghindar, membawa nampan berisi makanan yang sudah terlanjur kupesan. tak ada gunanya. benar-benar tak ada gunanya! ia mengikutiku. bahkan sekarang ia malah duduk tepat di hadapanku.
bayangkan saja. bertahun-tahun aku mencoba menyembuhkan semua kesalahpahaman ini, tiba-tiba dia datang, tanpa wajah berdosa, lantas bertanya, “bagaimana kabarmu yash?”. apa semua itu pantas dilakukan oleh-nya? ah, terlepas pantas atau tidak pantas. mungkin aku yang berlebihan menyimpan semua duka ini.
atau mungkin, mereka melupakanku. melupakan kalau ada hati yang sempat tersakiti, bisa jadi pura-pura tidak tahu. pikiran buruk tak pernah menghasilkan kebaikan, tak akan pernah! dan itu, sekarang, sejak dulu, selalu bercokol di kepala bila ingat nama mereka. ya, meski hanya nama.
bagaimana caranya agar mereka mengerti, kalau aku benci, sekaligus rindu pada mereka? bagaimana caranya aku bisa menghapus semua ingatan ini Ya Tuhan? tentang benci dan gelisah yang sudah pekat dalam diri.
bagaimana caranya?
“kau baik-baik saja selama ini yash?” dio bertanya lagi, untuk kesekian kali. mencoba membuka percakapan.
ya, lelaki yang ingin kubuat pergi meski datang tanpa diduga itu adalah dio. lelaki yang kucintai setelah ia pergi.
suasana masih hening. hanya pemandangan kota yang kulihat, beralih dari kegamangan hati yang kembali menelikung. kutatap cermin di sebelahku. cermin pembatas di basement gedung kantor ini.
“baiklah yash, aku hanya ingin kita bertiga kembali seperti dulu. baik, dan bersahabat”.
aku memmberontak dalam hati. “baik-baik saja kau bilang, hah? setelah kalian berdua membuat segalanya memburuk, kalian bilang ingin baik-baik saja!” membuat diri sendiri memaafkan kebodohan ini saja aku belum mampu, dan sekarang kalian meminta untuk semudah itu memaafkan kalian. benar-benar tak tahu situasi”.
dulu bahkan aku tega sekali berkata seperti ini -mereka berdua nanti pasti akan menyesali. karma tak akan pernah lepas dari hati-hati yang pernah menyakiti, apalagi seringkali.-
tapi baiklah, tak ada salahnya aku terlalu lama menyimpan kebencian ini. atau mungkin, kebencian ini yang merusak kepercayaan diri, juga membuat segala sesuatunya berubah menyulitkan posisiku sendiri.
“dimana nala?” aku bergumam, bertanya padanya. meski masih tanpa ekspresi bersahabat.
“dia sudah menikah setahun yang lalu, kami memutuskan berpisah karna tak pernah merasa nyaman karna nala selalu mengingatmu. begitupun denganku, yash” dio tersenyum tulus. selalu begitu. mungkin benci ini saja yang juga menutup fakta bahwa mereka tak pernah sedetikpun, tak pernah sedikitpun melupakanku.
“bagaimana dengan kau sendiri?” kuulangi lagi pertanyaan yang sama, untuk lelaki yang sudah pernah menambat hatiku, lelaki yang sekarang duduk di hadapanku. tak berbeda sejak lima tahun lalu.
“aku juga, aku sudah jadi ayah sekarang, yash!” senyumnya melebar. intonasi suaranya pun mulai bersemangat, bergairah ketika menceritakan tentang anak pertamanya itu.
aku rasa, senyum itu memang kurindukan. hatiku mulai berguguran. seperti desau embun yang selalu meninggalkan jejak di tiap dedaunan. seandainya saja, aku mau menyadari, pun membesarkan hati. kalau memang akan seperti inilah takdir yang memang harus kujalani.
lagipula, semua sudah terlewati.
***
aku menerabas semua yang ada. ingin segera bertemu arul, tak mau melewatkan lagi waktu yang sempat tersela hanya karna hati yang kujadikan tameng menolak lamarannya. juga karna kekosongan hati yang lama tak terisi itu. kekosongan hati yang sebenarnya selalu kubuat sendiri.
“kenapa terburu-buru seperti  itu, yash?” arul pelan mengusap keningku yang berkeringat dengan sapu tangannya. aku masih terengah-engah, berlarian menuju ruangan kerjanya sore itu. tak perduli masih ada banyak pekerjaan yang menungguku, aku tetap harus bertemu arul dulu.
“aku ingin bicara pada kau, rul .. “ nafasku masih tersengal. kuhembuskan nafas perlahan, menyelaraskan tarikan dan hembusan yang keluar masuk dari rongga hidungku. arul terheran, dahinya berkerut. menatapku penuh perhatian.
“kau masih mau aku menjadi istrimu, rul?” arul diam. matanya bersinar, tanpa berkata pun aku tau apa arti tatapan itu.
ruangan itu lengang, hening sejenak. hanya aku dan arul di dalamnya.
arul mengangguk mantap. tersenyum begitu bahagia, menyambut persetujuanku, setelah bertahun-tahun hatinya dibiarkan terlunta menunggu.
mungkin hanya aku yang masih berlari di tempat sejak dulu. hanya memandang kosong masa lalu, tanpa bisa berbuat apapun, tanpa bisa mengambil sikap yang harusnya sudah kulakukan untuk menghapus semua jejak kesedihan berlipat itu.
baiklah! sekarang sudah kuputuskan. dia, atau siapapun itu tak akan pernah bisa mengambil kendali atas hatiku. tidak untuk siapapun juga! hanya aku yang mampu membawa kemana arah tujuan hidup, dan hanya aku yang akan jadi pemegang kendali itu.
lagipula, Tuhan sudah memberikan ganti terbaik dari semua luka itu. ya, ada arul yang selalu menungguku. seterpuruk apapun keadaanku, dan sesering apapun permintaannya kutolak demi alasan butuh waktu itu.
hanya ia yang akan jadi pengisi hatiku. lelaki yang selalu berkata dengan besar hati yang dimilikinya, “aku akan selalu menunggumu yash, meski aku tak tau kapan ujung waktu sabar-ku itu .. “
Tuhan di atas sana tau butuhku. Tau mana batas sabarku. Dan DIA, memberiku lelaki yang kembali mampu mengisi separuh hatiku.



kumpulan kata


Latifa Mstfda
 
1.      ''bahagia itu merata. Ada di hati siapa saja yang mau menanamkannya . . . ''
2.      ''sudah terbukti kan, puasa tak pernah menghambat segala hal. Tambah ringan malah
3.      ''satu dari sepuluh muasal perbedaan yg merenggangkan kesatuan. Yakni, merasa kalau diri sendiri, golongannya, keyakinannya adalah paling benar. Paling valid.
Satu sama lain tidak mau disalahkan, tidak mau diingatkan. Sekali lagi, berbeda golongan itu bukan hambatan untuk menyeragamkan pemikiran''
4.      ''hey kamu! Ya, kamu.
Jauh-jauh dari hidupku, dan jgn lagi jadi benalu''
5.      ''bukan semata karna aku yang memimpikannya. Bukan pula semata aku yang menariknya dalam pusaran rasa . . Bukan, bukan semua.
Tuhan dan waktu yg cukup berbaik hati, menyisipkan juga menitip hati penuh duga, penuh cinta antara kita. Meski hadir dan baysng mu tetap saja kurasa semu. Entah aku yang berlari menjauh, atau sudah saatnya kita tak saling dekat''
6.      ''senyata-nyatanya, sempurna manusia tak pernah ada.''
7.      ''bahwa belum tentu orang yg berparas cantik, dengan hijab dan pakaian yang baik selalu berhati baik. Pun juga dengan orang yang berpenampilan lusuh, kusam, tak rupawan dan tampak tak berpendidikan itu-pun selalu buruk hatinya.''
karna Indra manusia tak hanya mata . .
8.      jadilah yg terbaik selagi mampu, bukan selagi mau.
Tapi kenapa mendahulukan mampu itu-pun sama halnya seperti memunculkan mau.
Bismillah . . .
9.      seperti halnya sidik jari di tangan manusia yang selalu berbeda-beda, juga sidik lidah. Seperti itu juga lah kepala dan hati manusia. Meski berbeda, tetapi tetap istimewa :D
10.  diam itu lebih menyeramkan daripada marah-marah tidak jelas :p
11.  kalau masa muda sedang dijalani, dan menjadi tua itu pasti terjadi.
semoga keberkahan akan selalu mengiringi :D
12.  Allah mungkin menciptakan banyak perbedaan untuk membuat qta sadar, tak smua hal harus diperbincangkan, karna dalam setiap perbedaan selalu ada keindahan .. yaa, keindahan hati yang sllu berusaha mengerti banyak hati
13.  Kamu yang dulu sengaja membuat "sekat" di hati ku
14.  ahh, omong kosong "kesetia kawanan". toh smua punya urusan masing-masing, punya target msg-masing, dan bla bla nya pula.
sejati nya smua manusia memang PEMILIH, kalian saja yang masih enggan di cap munafik.
saya? apa kata kalian saja lahh