.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Saturday, 30 June 2012

biar saja diam yang bekerja



Latifa Mstfda

“hei, ya, kau yang di pojok ruangan? Kenapa sedari tadi hanya melamun saja disitu?” guru sadis pengampu pelajaran sejarah itu menunjuk kea rah belakang. Sedari tadi memperhatikan seisi ruangan. Melihat mana muridnya yang benar-benar antusias, mana yang menganggapnya ada, benar-benar sebagai jalan terang untuk membantu mereka mencapai maksud, mana yang mengacuhkannya dengan pura-pura mendengarkan, dan satu lagi, mana yang sibuk sendiri dengan pikirannya.
Gadis remaja di pojok ruangan mendongak, kaget. Dipanggil keras dari arah depan. Oleh guru sadisnya itu pula. “iya pak” duduknya berubah tegap. Matanya awas, telinganya sempurna dipasang. Takutt menatap ke depan, takut dapat semprotan. “jelaskan apa yang baru saja saya sampaikan!” guru sadis yang bernama pak madya itu melotot matanya, berkacak pinggang memegang kayu kecil penunjuk papan.
Yang ditunjuk justru menunduk. “kau tak dengar bapak bilang apa barusan hah?”
Gadis itu pelan beranjak, berdiri. “iya pak”. Sambil tetap menunduk, gadis remaja itu lantas berpanjang lebar menjelaskan, meski jauh dari pembahasan yang baru disampaikan pak madya.
“heh!” pak madya berteriak lebih kencang sekarang. Seisi kelas menciut nyalinya, tak ada yang berani bersuara. Bahkan andaikata ada yang ingin izin ke kamar mandi, pastilah mereka rela menahannya sampai bel akhir pelajaran dibunyikan. Daripada kena marah seperti gadis yang kena semprot sekarang. Lagipula, harusnya ia sadar. Ini sudah ke-sekian kalinya ia tak tau tempat untuk melamun. Mana bias melamun di pelajaran sejarah pak madya. Mana bias nyaman kalau balasan yang akan diterimanya jauh dari kata setimpal.
“siapa suruh kau berdiri disitu? MAJU KE DEPAN SINI!” Pak madya berjalan ke belakang, hendak menarik paksa gadis di belakang tadi. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Di samping mejanya tepat, berdiri guru yang paling ditakuti seisi siswa di sekolah ini. Mukanya sangar, meski masih tampan. Garis wajahnya tegas, cocok dengan cara bicaranya yang pedas. Gadis tadi menggeser kursi di sebelahnya, teman semejanya ikut bergeser. Pelan melangkah ke depan. “ya, cepat jelaskan dengan ringkas. Jangan terlalu bertele-tele. Bosan bapak mendengarnya”.
Gadis itu sudah berdiri sempurna di depan ruangan, di belakangnya terpasang rapi papan tulis yang setiap hari digunakan untuk bertukar ilmu itu. Lagi-lagi seisi ruangan tak berani mengangkat wajah lebih tinggi dari pak madya. Hanya menatap ke depan, kasak-kusuk terdengar, dengusan, bisikan sebal. Hanya berani terucap dari belakang.
Panjang lebar lagi dia menjelaskan, meski dia tak tau apa yang baru saja disampaikan pak madya siang ini. Dia hanya ingat pelajaran kemarin, saat dia benar-benar focus mendengarkan, tak ada masalah yang mengganggu konsentrasinya belajar, seperti siang ini.
“astaga!” seorang murid di ruangan itu menepuk dahi. Mengaduh tertahan. Berulang kali beberapa anak sudah memberi kode, mulutnya komat-kamit kea rah gadis itu. “itu materi pertemuan lalu deka” berulang kali tangannya ikut member kode. Pura-pura batuk. Tapi yang di depan tak bias menangkap arti kode itu. Terus saja bicara panjang lebar. Pak madya yang mendengarkan di belakang semakin tersulut emosinya, menggebrak meja.
“SUDAH!” MAKANYA KALAU BAPAK BICARA DENGARKAN! JANGAN MALAH MELAMUN!”
***
“kasian sekali kau deka?” tapi maaf aku tak bias membantumu. Nanti pak madya marah juga padaku.” Deka hanya mengangguk. Tersenyum paksa. Ini memang tidak pernah adil, pak madya selalu saja memberikan hukuman fisik. Tak mendidik, justru lebih terlihat seperti menyiksa. Lagipula kenapa deka tak protes saja. Dia hanya bias diam, diam dan diam. Dimana-mana diam, apa dia tak bias menyampaikan isi hatinya?
Memang seperti itulah sifat gadis yang duduk di pojok ruangan kelas itu. Duduk sendirian di pojokan, kadang ada saja yang mau menemaninya. Sesuai kesepakatan ketua kelas, ia tak diperbolehkan sendirian. Ia terlalu pendiam, harus ada yang bias mengajaknya berinteraksi. Itu untuk kebaikan bersama.
Dia sedang membersihkan kamar mandi seisi sekolah sekarang. Sudah sejak dua jam yang lalu tak selesai juga. Padahal hari sudah semakin petang, adit, yang tak lain adalah ketua kelas berbaik hati menemani deka di sekolahan. Sudah lengang sejak tadi. Benar-benar tak ada orang. Satpam saja sudah pergi, meninggalkan kunci gerbang di tembok tersembunyi yang adit sudah tau dimana letaknya. Jadi dia tak perlu panic tak bias keluar dari kelas.
Bahkan, sejak dua jam lalu ditemani, sepatah katapun tak keluar dari mulut deka. Adit yang dibuat bingung, kikuk, tak ada yang meminta untuk ditemani, tak ada yang mengajaknya bicara, dia mau apa juga disini. Tapi tetap saja dikuatkan hatinya sendiri.
“kau sudah lelah belum deka?” adit ramah bertanya, tak tega melihat wajah deka yang berpeluh seperti itu. Bajunya sudah berubah kecoklatan, bercampur keringat, juga beberapa kotoran alat-alat yang digunakannya untuk membersihkan toilet sekolah itu. Pak madya? Sudah sejak tadi pergi, kalau tidak mana berani adit menemani teman sekelasnya itu.
Heran, benar-benar heran. Kenapa ada manusia yang bias diam membisu sepanjang hari? Selain karna memang dia bisu sejak awalnya. Tapi ini berbeda? Dulu deka tak seperti ini. Adit benar-benar mengenalnya sejak kecil. Deka ini teman dekat adit waktu kecil, anak perempuan yang riang, lincah dan menyenangkan. Tapi entah kenapa perangainya berubah drastic seperti itu. Adit benar-benar dibuat heran, dan deka, benar-benar berubah.
Deka keluar menenteng ember dan lap pel yang lebih mirip tongkat terbang milik nenek sihi itu panjangnya. Tak tersenyum, tak juga mengajak bicara. Hanya melirik sekilas, mengangguk, lantas pergi melewati adit. Adit menggeleng-gelengkan kepala.
***
Semua kejadian hidup yang dilewati gadis remaja ini terpaksa membuat mulutnya terbungkam, sempurna diam. Lebih banyak merasa rendah diri ketimbang rendah hati. Meski ia terlahir dengan fisik yang sempurna, impian  banyak pria, juga membuat iri gadis-gadis seumurannya. Ia cantik, matanya biru indah, rambutnya hitam panjang tergerai, bibirnya merah tipis, membuat siapa saja senang melihatnya. Meski sekarang wajahnya terlihat lesu, kuyu, tak bersemangat.
Ibunya meninggal tertabrak orang tak bertanggung jawab di jalanan. Dua bulan kemudian  ayahnya menyusul ibunya. Meninggalkannya bersama dua adiknya yang masih sangat kecil-kecil, sakit-sakitan. Keluarga ayah ataupun ibunya tak ada yang mau menganggapnya, apalagi menanggung biaya mereka bertiga. Hidup lontang-lantung, miskin papa, anggap saja tak punya sanak saudara. Lengkap sudah bukan penderitaannya?
Ditambah lagi, kejadian naas yang harus menambah daftar panjang penderitaannya. Bulan lalu, saat ia kemalaman pulang bekerja. Sendirian berjalan di jalanan sepi. Datanglah beberapa lelaki hidung belang menghadang, merampas kehormatannya, uang diambil, ditodong segala yang dibawanya. Dua adiknya yang melihat dari halaman rumahnya berteriak keras. Para lelaki hidung belang itu panic, berlari hebat menyambar tubuh kecil kedua adiknya, mereka dibekap mulutnya. Hanya beberapa menit saja, tapi cukup membuat nafas mereka habis. Dua adiknya mati mengenaskan, berulangkali dipukuli dengan rantai. Dia jadi saksi kejahatan mereka.
Beruntungnya, saat deka pura-pura mati. Mereka membiarkan deka terlentang begitu saja di tengah semak, tanpa mengeceknya sekali lagi. Deka masih hidup. Dengan sisa tenaga yang ada ia bangkit, tak ada yang tau ceritanya itu. Benar-benar tak ada yang tau. Begitupun dengan adit, yang mengaku teman kecil deka.
Setahun berlalu, dua tahun .. sepuluh tahun. Ia tumbuh jadi gadis sendu, tak pernah lagi terlihat senyum tersungging dari bibir manisnya. Padahal kalau boleh jujur, tak ada yang bisa mengalahkan cantik wajah perempuan ketika sedang tersenyum senang, ikhlas, tulus. Tapi itu tak pernah terlihat dari wajahnya. Hanya sisa-sisa kepedihan yang masih disimpannya rapi, ingatan buruk tentang masa lalu. Meski tak pernah sepedih dulu, tak sepedih ketika ia masih sendiri tak bias bangkit. Ketika ia hanya mampu meratapi kepergian semua keluarganya, menyisakan dia seorang.
Namanya tetap deka, tak ada yang dirubah. Sama sekali. Ia tetap jadi gadis cantik. Makin cantik malah. Meski diam, ia selalu bisa diandalkan. Kerjanya cekatan, tak pernah lagi hanya duduk diam melamun. Karna itu hanya akan membuatnya mengingat masa lalu itu. Yang tak berubah satu hal lagi, ia belum pernah bisa membuka hati, membuka diri, kalau diamnya akan semakin menyakitkan, selalu menyakitkan. Kalau diamnya hanya akan lebih banyak membuat sekat dengan banyak orang pula, kalau diamnya itu menjauhkan dirinya dari dunia nyata. Kalau diamnya itu, membuatnya tak pernah menyadari ada seorang lelaki yang tak pernah lepas mengawasinya sejak dulu.
Lelaki yang mengaku jadi teman kanak-kanaknya, lelaki yang bersabar menungguinya mengerjakan hukuman. Lelaki yang berbaik hati tetap selalu di sampingnya, meski ia selalu merasa sendirian. Lelaki yang selalu meyakinkannya kalau ia mampu, meski tak pernah sekalipun diajaknya bercengkrama.
“kau sudah makan deka?” adit pelan menyapa, berlari kecil menyamakan langkah deka yang rasanya semakin dipercepat saja. Deka diam, tak mengangguk tak menggeleng, selalu seperti itu. Adit hafal apa saja arti raut wajah deka. Ini artinya dia belum makan. Adit terus melangkah mengikuti deka. Berjalan beriringan, tanpa satu patah kata, tanpa obrolan.
Berbeda lagi kalau ketika ditanya deka hanya menoleh, atau sekedar melirik. Itu artinya deka belum makan. Kalau deka menunduk, artinya ia tak mau. Dan tak ada satupun yang bisa merubah pendiriannya itu. Adit pun belum mampu meluluhkan hati gadis sendu itu.
Deka hanya akan bicara pada orang-orang tertentu, sekarang pada atasan kerja. Atau pada client atau sekedar tamu penting kantor, ia baru akan memperlihatkan wajah manisnya, menyapa ramah. Dan adit tak pernah sekalipun melewatkan moment ini, moment saat ia bisa menikmati suasana lain, menikmati kehangatan, keindahan juga kecantikan alami yang terpancar karna hebatnya pengaruh senyuman. Adit tak pernah melewatkan itu sedetikpun, sedikitpun.
***
Kabar baiknya setelah sekian lama berusaha, mencoba meluluhkan hati gadis sendu itu dengan banyak cara. Bos berbaik hati memasangkan adit dan Deka dalam satu proyek. Proyek besar di luar kota. Benar-benar kesempatan baik yang akan dimanfaatkan baik juga oleh adit.
“seluruh kebutuhan sudah dipersiapkan, kalian berdua tinggal membawa badan saja, berangkat” bos berkata tegas, duduk berputar di kursi mahal ruangannya. Deka tersenyum pada bos, berterima kasih, mengangguk. Hati adit berdesir seketika itu juga, melihat deka tersenyum manis sekali. Meski bukan untuk dirinya, tapi hatinya sudah luluh lantak buktinya. Benar-benar kalang kabut. Deka keluar lebih dulu, adit menyusul. Selalu menguntit di belakangnya.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Makin banyak senyum saja yang mampu dinikmati adit dari wajah cantik manis deka. Dan itu membuat wajahnya makin merona. Adit selalu menyukai saat-saat itu. Adit yakin, lambat laun, deka mampu tersenyum padanya. Entah untuk alas an apa. Adit tak pernah menuntutnya banyak, ia hanya meminta senyuman tulus saja dari deka. Tak lebih, tak kurang. Ia tak meminta apapun cerita deka, tak memintanya jujur pada adit. Hanya sesungging senyum abadi yang hanya untuk adit dipersembahkan khusus oleh deka.
“tugasmu sudah selesai deka?” adit menyapa deka yang sedang bersantai, duduk memainkan kakinya yang tenggelam sebagian di air. Mengepak-epakkannya. Adit ikut duduk di sebelah deka. Deka hanya diam, itu artinya boleh.
Yang deka ragu hanya satu, ia tak yakin lelaki di sampingnya ini akan terus mencintainya, menyukai senyumnya, menguntitnya ketika tau apa yang terjadi padanya. Meski masa lalu tak ubahnya pelengkap cerita, tak perlu terlalu dikhawatirkan ketika banyak perubahan baik yang diusahakan diri. Tetap saja deka tak yakin, ia tak mau member harapan palsu, banyak harapan pada lelaki di sampingnya itu. Karna buktinya, memaafkan dirinya sendiri saja sulit, membuat dirinya sendiri berharap banyak pun ia tak bisa. Ia tak mau.
“kau lihat bintang di atas sana deka? Indah sekali bukan?” adit menatap langit, pelan menggerak-gerakkan kakinya di air. Suara kecipaknya terdengar nyaring. Deka ikut mendongak, mengangguk. Pertama kalinya untuk adit, ia tak menyadarinya.
Bintang gemintang ramai bermunculan, menjadi bahan obrolan hebat adit untuk memancing deka. Deka kembali menunduk, bermain air. Kali ini dengan tangannya.
Hening sejenak. Hanya suara binatang malam ikut campur menemani mereka berdua. Meremangkan suasana.
“terima kasih adit .. “ untuk pertama kalinya sejak kejadian bertahun-tahun itu, suaranya terdengar lagi. Adit melirik cepat. Tak yakin itu benar suara gadis cantik di sebelahnya. “hey, kau bilang apa?” mata adit berkilat tajam, senang, riang, bahagia, entah, semuanya resmi bercampur baur. Bahagia kecilnya.
“terima kasih” melirik sekilas, masih tanpa senyum. Dingin yang keluar dari tatapan matanya. Adit mejawab cepat, “untuk?” mencoba memancing pembicaraan yang lebih panjang, lebih intim dengan deka, barangkali ini waktu yang baik untuk memulai hubungan baik itu. Meski sejak dulu, hubungan kedua insan ini tak pernah sedikitpun buruk.
“untuk banyak hal” jantung adit benar-benar berdesir kali ini. Berhenti berdetak seketika. Nafasnya memburu, tak beraturan. Deka tersenyum manis, hangat. Entah kenapa rasanya adit ingin sekali merekam kejadian ini, menghentikan waktu agar sesungging senyum itu kembali lagi untuknya. Tapi sayangnya tak bisa, deka sudah membalik wajah lagi. Menunduk, bermain air lagi.
Itu tandanya ia tak mau diganggu. Adit tau artinya. Adit mengerti maksudnya. Biarlah, biarlah kali ini diam yang memberi waktu segalanya datang. Adit yakin, suatu saat nanti. Wajah kesabarannya akan muncul membuatnya bahagia, membiarkan dekanya tersenyum bahagia. Membiarkannya deka berbicara panjang lebar, bercerita tentangnya hanya kepada adit.
Biar saja kata adit, biar saja diam mengungkapkan cinta dengan caranya.
Mereka berdua kembali diam, sekitaran kolam renang sunyi, hening. Suasana kembali lengang. Membiarkan diri mereka kembali melayang-layang ke alam harapan, juga kecamuk pikirannya sendiri.
Mungkin suatu saat, diam ini akan membantu adit, membantu deka. Melenyapkan pikiran buruk, kenangan buruk, menyelesaikan harapan juga rasa yang tertimbun dalam diam.  Meski mulut mereka tak pernah dengan terang berkata, meski suara hati mereka tak pernah tersampaikan. Tapi mata juga telinga mereka masih bekerja, biarkan diam membantu indra mereka bekerja aktif. 
Lebih keras dibanding yang lainnya.




kata kita -2-


1.       bahagia itu bukan selalu karna status bukan? bahagia itu dari hati bukan?
lantas apa membagi kasih sayang dan perhatian itu harus selalu dengan pacar? kalo itu jawaban kalian. maaf, jangan paksa aku selalu jadi sama dengan kalian :p
karna bahagia ku ada di tanganku
.
2.       sejatinya aku pun tidak pernah benar-benar mengerti dan tau menau apa makhluk hebat yang bernama waktu itu. waktu tentang kelak akan jadi siapa aku. tentang siapa yang akan jadi pendampingku, dan apapun itu. tapi justru karna ketidaktahuan dan ketidaksabaran untuk tau, maka satu-satunya cara adalah bersabar. sampai waktu tepat itu ditunjukkan, dibukakan, diberitahukan.

3.       dalam hal menunggu, memang lebih banyak menyebalkan tinimbang menyenangkannya. apalagi kalau yang ditunggu nggak sadar-sadar :p

4.       jangan pedulikan mereka yang suka sekali menyimpan iri dan dengki dalam hati. karna kehadiran kita sendiri sudah jadi bencana besar utk mereka, dan kita? cukup diuntungkan karna menghapuskan sedikit dosa :p
5.       membiarkan diri lebih dikontrol emosi, sama saja menyerahkan hati untuk mudah tercemari. dikotori ego dan iri dengki, jauh2 deh :p

6.       selalu ada jalan ketika mau menggunakan akal pikiran. selalu ada maaf ketika kita mau menyadari kesalahan. selalu ada kebaikan di tiap hati-hati busuk sekalipun. akan selalu ada itu semua, dua sisi yang menemani tiap manusia. seperti halnya malaikat raqib atid yang akan mencatat perbuatan itu, keduanya, baik dan buruk.

7.       ayo ayo, siapa yang berani bilang kalau nilai itu tidaklah penting? yang penting sudah mati-matian usaha, yang penting kan sudah siang malam berdoa.

nah, kalau kalian saja yang seperti itu nilainya masih tetap sama saja, bagaimana dengan yang tidak bekerja dan hanya diam menunggu jawaban datang? apa masih terima dengan cara pembodohan masal itu. kalau saya sih tidak mau :p

8.       untung iman seseorang itu tak seperti bedak ya? Kalau iya pasti akan cepat sekali lunturnya :-p
semoga kita bukan masuk golongannya, AMIN.

9.       Mari membaca.
Membaca situasi sekeliling, membaca ekpresi, membaca hati, membaca kesalahan diri. Mari membaca, semoga kita cepat mengerti :D

10.   cermin itu tidak pernah berdusta. selalu berkata apanya -walaupun tidak punya mulut-
kau tersenyum di hadapannya, maka senyuman juga yang akan kau terima. kau cemberut atau menunjukkan muka marah di hadapannya, maka itu juga yang akan kau terima. Cermin itu jujur, hanya menampilkan apa yang kau berikan. tidak pernah mempercantik, atau memperburuk. semua hanya refleksi saja

11.   oh, ternyata dia belum punya pacar, rugi dong aku patah hati duluan.
Oh, ternyata dia baik sekali, sopan malah. Sudah salah sangka aku mengiranya.
Oh, ternyata bukan dia yg salah, tapi aku terlanjur menuduhnya.
Dan oh, ternyata di dunia ini byk sekali kesalahpahaman ya? Buktinya mata dan telinga-ku ini masih sering sekali salah duga :p

12.   Kalau kau tanya waktu, tentang siapa nanti yg akan jadi pendampingku, tentang bagaimana kelak aku, tentang milik siapa hatiku, dan tentang semuanya itu, aku lagi-lagi hanya bisa bilang "tidak tau".
Waktu, itu, masa lalu .. Hari ini dan esok hari.

13.   Bohong, kalau bilang, Cinta itu adalah bahagia ketika melihat mereka yang kita cinta bahagia tanpa kita ada di sampingnya. Bahkan dengan yang lain.
Bohong aja pake banget, Preeet :p

Sunday, 24 June 2012

Kata Kita


1.      Organ dalam pun butuh istirahat, untuk bekerja memproduksi banyak cairan. Meregenerasi sel lain yg sudah menginjak masa udzur :D
Kalau jam tenang organ dalam masih saja tidak dipatuhi, jangan salahkan kalau tiba2 organnya mogok bekerja. Biar saja tau rasa :p
Intinya, semua ada waktunya. Patuhi aturan main saja-lah
2.      Tak ada masalah yang tidak berakhir. Tak ada persoalan yang tidak terlewati. Pasti ada masa kadaluarsanya. Seperti kali ini, ujian kuliah pun pasti ada ujungnya . 
     Tinggal tunggu hasilnya :p
3.      Harapan yang berlebihan itu menyakitkan, rasa yang berlebihan itu melemahkan, dan semua hal yg berlebihan itu selalu fatal.
Dimanapun aturan, berlebihan itu tidak diperbolehkan. Senyum yang sepele saja juga masuk hitungan :p
4.      Santai salah, ngebut salah juga. Enaknya gimana? Gausah dipikirin aja kali ya :p
Burung memang berkicau dimana-mana.
5.      Doaku memang kamu, tapi kalau Tuhan bilang dia. Apa mau dikata.
6.      Sayangnya, dalam banyak kesempatan. Banyak org yg merasa rendah diri tinimbang rendah hati, mungkin saya jg masih seperti ini :p
7.      jurus "mengarang indah" itu selalu jadi jurus ampuh. jurus ampuh ujian, berbohong, menulis cerita, dan jd jurus ampuh lain di banyak hal. jelas, kecuali aturan dr Tuhan :)
8.      mengandalkan mata saja untuk menghakimi. Tak adil bukan? Bisa saja benar, tp pasti lebih byk tdk benarnya karna hati bersekongkol ikut menduga-duga juga.
9.      oh dear, sesulit-sulitnya masalah di soal ujian masih lebih sulit masalah di kehidupan nyata. Masalah di soal ujian itu sudah jelas punya solusi terang benderang, nah-ngerjain soal begitu saja kita masih sering terburu-buru, sok teliti, sok paling ahli walaupun belum tentu jg benarnya. Jangan gegabah syaratnya, sabar saja kdg kita masih srg salah :-p
10.  hidup itu ternyata seni mengambil petuah dari banyak pribadi :-*
yang mau menyedikitkan gengsi pasti akan dapat banyak pelajaran dan hikmah yang semakin memperbagus diri, yang suka menyombongkan banyak hal tak berarti -jauh jauh sajalah dari sini :p
11.  hati itu hebat ya? bisa diibaratkan meledak-ledak macam luapan api saja. Bisa juga diibaratkan mencair selayaknya es yang terkena air. CESSS begitu katanya.
Dan punya "perisai" ampuh untuk menolak mana yang buruk dan "mengiyakan" yang baik. Kalau hati saya dan kalian sudah tak bisa membedakannya, mungkin ada yang salah dengan sambungan otak dan hatinya :p
12.  Kita masih punya walaupun sekedar mimpi, juga beribu-ribu pikiran positif yang harus dibiasakan sejak dini. Karna ketika kita terpuruk, sdg ditempatkan Tuhan kembali di bawah. Hanya kedua hal itu yg masih bisa kita miliki, bukan hanya sekedar duduk diam menyesali yg sudah terjadi. Terlewati
13.  satu hal yang juga pasti, kita selalu diberikan oleh Tuhan orang-orang yang setia mendampingi. meski kadang baru dirasa hati, dan tak setiap saat melindungi.
orang-orang setia yang kadang wujudnya jadi orang tua, sahabat sejati, kekasih, atau sekedar keyakinan diri. seperti halnya ketika Tuhan memberikan dua malaikat untuk selalu menjaga dan mengawasi, juga satu bayangan yang selalu mengikuti manusia pergi. Mereka itu anugrah besar, dan harus disyukuri :D
14.  Sekali lg, uang memang bukan satu satunya juga bukan segalanya di dunia. Tapi kalau lingkup kecil manusia saja semakin dipenuhi dengan orang-orang yg mau berbuat apa saja demi mempertahankan uang dan jabatan alias harta$. Ya intinya tetap saja jadi primadona. Hoho
15.  kalau masa muda sedang dijalani, dan menjadi tua itu pasti terjadi.
semoga keberkahan akan selalu mengiringi :D
16.  kalau hal besar macam bermimpi tak wajar saja seisi dunia berpendapat sah-sah saja. Hak asasi manusia. Kenapa kita tak boleh bebas merasa kpd siapa saja? Yg justru sudah jd naluri asli tiap manusia, tanpa diduga,mekar begitu saja.
17.  Tuhan di atas sana, sudah menyiapkan setiap inci yang terbaik bagi tiap pribadi :D
18.  ''sudah jd rahasia umum, manusia itu punya sistem pengendali dan kekebalan lebih ampuh drpada antivirus komputer plg terkenal sekalipun. Yg bisa membedakan dgn jelas mana yg baik mana yg buruk, mana yg halal mana yg haram. Tp kita sendiri yg enggan menggunakan, asal kenyang maka halal. Jadi tinggal tunggu saja efek dr rusaknya pemahaman tsb. Boleh jadi kita sendiri yg turut andil jadi penyumbang terbesar karna tak mau repot2 slg mengingatkan kebaikan''
19.  "sekarang sudah bukan waktunya menyesali apa-apa yang sudah pergi, apa-apa yang belum pernah kita lakukan untuk menampilkan yang terbaik dari diri. maka dari itu, sebelum lebih terlambat nanti, sedari sekarang. mari memulai dan bergegas memperbaiki"
20.  Kita dihadiahi oleh Tuhan pemikiran, pendengaran, penglihatan, perasaan. Kenapa tak digunakan saja secara seimbang? Kenapa tak digunakan saja bersamaan, biar hidup lebih obyektif dalam menimbang tiap permasalahan.
21.  yang berbeda itu ya beda saja, jangan dipaksakan sama, jangan dirubah lagi bentuknya. tidak bersyukur namanya. bisa jadi

(baca; takdir)
22.  syg nya kita seringkali tak menyadari, kalau jawaban dr pertanyaan yg kita pikirkan kadang dtg hanya dgn duduk diam mendengarkan. Ikut merasakan
23.  kalau sudah waktunya pasti datang, rejeki, jodoh, kesempatan baik itu pasti terbuka lebar. nah, bagaimana sekarang saja usahanya.

selamat berjuang, jangan berhenti berpengharapan :D
24.  biar diam mengungkapkan cinta dgn caranya.

--Repost status bulan Juni. Selamat Membaca--

Thursday, 21 June 2012

Lampu Traffic Light


Latifa Mstfda
“Maaf bu, dengan sangat terpaksa. Anak anda harus kami beri sanki sedikit tegas, ini sudah ke-sekian kalinya anak anda berbuat onar di sekolah ini. Maka dengan sangat menyesal, anak anda harus di-skorsing selama seminggu. tidak boleh mengikuti apapun kegiatan, apalagi masuk ke sekolah. ini Kebijakan dari kami bu, mohon dimaklumi”. Kepala sekolah dengan tegas memberi ultimatum.
Ibu tadi sebenarnya malas ke sekolah, tapi berhubung ayah dan kakak tak ada yang bisa mewakili surat panggilan yang sudah diberikan padaku sejak seminggu yang lalu maka ibu-lah akhirnya yang datang –entah ayah dan kakak yang sengaja memang ada acara, atau malu jadi wali-ku dengan hanya ada kemungkinan buruk saja- Izin beberapa jam dari kantornya ada keperluan penting.
Wajah ibu tercengang kaget, entah apa yang ada di pikiran ibu sekarang. Tapi dari ekspresi yang kulihat, wajah merah padam, mata melotot menahan malu, bibir yang tak hentinya mendesis dan juga tangan yang sudah dikepalkan dari dua menit yang lalu. Kurasa ibu sudah ingin sekali memakanku mentah-mentah. Kutepis pikiran buruk itu dari otakku.
Dengan wajah masih sedikit tak percaya, “Tak bisa di-kurangi pak hukumannya? sekedar membersihkan toilet selama satu minggu atau sebulan saja deh pak. Pasti saya yakinkan kalau anak saya dengan benar mengerjakan tugas itu. Bapak tau sendiri lah, minggu depan sudah ujian akhir. Kalau anak saya tidak diizinkan masuk, berarti itu kalimat halus untuk tidak menaikkan anak saya ke kelas atas pak” Ibu memohon pada kepala sekolah,
Aku bersungut-sungut, “Kenapa juga harus menawar, enak juga di rumah. Tak perlu pusing liat muka brewokan tua kayak dia”. Sial! Sedetik sejak  ucapanku selesai keluar, kepala sekolah dan Ibu serempak menatapku. Berganti tatapan sebal dan emosi tingkat dewa yang tak tertahankan.
Sambil melotot-lotot memamerkan mata besarnya, berdiri tegap, “Ibu dengar sendiri bukan perkataan anak anda barusan? Dengan hormat, saya persilahkan ibu Melati dan Rima keluar segera dari kantor saya.” Tangannya mempersilahkan. Ibu kecewa, padahal tadi sudah dikeluarkan jurus memohonnya. Tapi ternyata anaknya sendiri yang menggagalkan.
Baru saja keluar dari ruangan kepsek, ibu sudah memelintir telingaku dengan kejam. Sampai memerah telinga-ku ini. Aku mencibir.
“Kau ini, sudah ibu bilang! Jangan buat onar. Sebentar lagi kau sudah kelas tiga Rima! beruntung kau tidak dikeluarkan dengan terhormat, ini hanya skors saja. Kalau sampai tadi kau di- DO sekolah mana yang mau menerimamu di akhir semester seperti ini, hah?”
Ibu menyeret lenganku paksa. Mungkin kesabarannya sedang sangat tidak stabil, atau aku yang keterlaluan berbuat tidak beres.
Mungkin aku yang terlalu banyak bertingkah. Ini sudah ke-delapan belas  kalinya orang tuaku dapat panggilan dari kepala sekolah. Berulang kali pula aku dipanggil bagian kesiswaan, bilang kalau pakaian ku tidak tertib, sikapku yang tidak disiplin, tidak mengindahkan perkataan guru, dan macam alasan lainnya yang tak masuk akal di telingaku. Aku tak suka aturan!
Dimana-mana aku selalu saja membantah. Melangggar aturan kesepakatan. Di rumah, di sekolah, bahkan di jalanan. Pernah aku hampir menabrak orang yang hendak menyeberang karna menerobos lampu merah. Tapi aku tak kapok.
Pernah suatu hari, “Heh wanita setengah laki-laki! Dari kanan kiri kudengar sahutan seperti itu ketika aku lewat lorong depan kelasku, dekat kantin. Aku jelas saja langsung berapi-api, tangan sudah kukepal kuat. beringas. menyingsingkan lengan baju dan mencari darimana sumber suara itu. Kutemukan akhirnya si kepala genk. Kutonjok habis-habisan! Wajahnya lebam parah, masuk rumah sakit. Aku dapat sekolah lagi.
Sebenarnya kalau boleh jujur, sekolah ini cukup baik memberi kebijakan padaku. Daftar kenakalanku kalau di sekolah lain mungkin sudah tidak bisa ditolerir lagi.
terakhir kali surat panggilanku ini adalah karena aku sengaja menggalang masa untuk merubuhkan pagar sekolah karna digembok. Aku yang mau pergi membolos bersama anak-anak malas lainnya tak terima, pak satpam kita sandera. Kutali tangannya di kursi, begitu juga kakinya. Dan mulutnya, sebelum kami tutup dengan lakban hitam nan kencang itu, sudah kami beri permen dan buntalan kain bekas. Kejam sekali bukan.
Padahal aku ini anak perempuan. Sudah bukan hal wajar lagi berbuat hal diluar batas norma kesopanan seperti itu. “Kau ini! Sudah salah, tak punya malu ya? Minta maaf atau sekedar berjanji untuk tidak mengulanginya apa tak bisa?” Di lorong kelas, di mobil, di jalan, bahkan sudah sampai di rumah pun Ibu tetap saja marah.
Dan adegan marah-memarahi itu tak berhenti sampai disitu. Ibu memberitahukan pada ayah selepas pulang kantor, Ayah gentian yang memarahiku. Bilang anak perempuan tak punya aturan, tak bisa diajari baik-baik. Aku diam, biar saja! Biar dikira aku menyesal.
Itu belum selesai juga, ayah sudah selesai mengeluarkan amarahnya, gentian dua kakakku yang baru saja datang ikut menambahi. Yang ini bukannya ngomel-ngomel panjang lebar seperti ayah dan ibu tadi, tapi justru ketawa-ketiwi senang melihatku jadi bulan-bulanan se-keluarga. “Biar tau rasa kau!” Seperti itu mungkin arti ekspresinya.
Aku? –Berusaha sabar, walaupun ingin sekali menjotos muka abang dan kakak perempuanku itu yang selalu bersekongkol menertawakan kesialanku- Seperti kali ini.
***
“Pokoknya ibu tak mau melihat Rima di rumah selama di-skors yah?” Ibu merajuk pada Ayah.
Aku menelan ludah. Lalu aku tinggal dimana? Begitu suara hati-ku berkata.
“Lalu Rima suruh tinggal dimana bu? –Tepat sekali pertanyaan ayah, dia selalu tahu apa yang kupikirkan dalam keadaan mendesak seperti ini-
“Sudahlah, tak apa, kita kunci saja kamarnya. Biar dia tak berulah” Ayah bicara sambil membaca Koran, tak begitu memperhatikan raut wajah ibu yang tidak terima pendapat ayah.
 “Sudahlah, sudahlah bagaimana. Sekali titik ya titik, berhenti. Tidak ada koma”. Ibu tegas. “Kalau ayah tak setuju, ayah ikut saja menemani Rima ke rumah nenek di puncak!” Ibu mengancam. Ayah menghentikan membaca korannya, Kaget. Dalam hatinya mana mau. Akhirnya ayah mengiyakan permintaan Ibu tadi. Membuangku sementara ke pedalaman desa. Hidup susah bersama nenek dan kakek yang sangat sangat kolot.
 Hari pertama skors, nenek kakek menyambutku dengan sangat ramah. kegiatannya sama saja, aku santai. Meskipun belum bisa menikmati, dimana-dimana, di kondisi baru orang selalu harus beradaptasi. tak bisa langsung begitu saja langsung sehari betah, apalagi ini terpaksa. Nenek dan kakek juga masih ramah menanggapi kata-kata tidak sopanku. Membanding—bandingkan klo di kota tidak akan seperti ini hidupnya, jauh dari akses modern dan menarik.
hari kedua skors, nenek kakek mulai geram. Aku tak bisa dinasihati, tapi mereka diam. bagaimana tidak geram. Seharian itu kerjaanku hanya tidur-tiduran di kamar. cuaca disini sangat dingin, membuatku malas keluar, inginnya hanya bersantai saja di kamar. memeluk guling bantal dan diselimuti kain tebal.
Nenek dan kakek pagi-pagi sudah ke ladang, menyapu halaman, membereskan rumah dan segala macam pekerjaan sudah dilakukan sejak petang. Aku seperti diabaikan, biasanya ibu dan ayah memarahiku kalau aku tidak berbuat apa-apa sejak pagi.
Hari ketiga skors, lagi-lagi seperti itu. Aku sudah bangun agak pagi, keluar kamar juga, walaupun toh tetap tidak membantu apa-apa. Nenek dan kakek tetap diam, senyum dan menyapa seperlunya saja. Selebihnya sibuk mengurus pekerjaannya masing-masing. Hanya sesekali bilang kalau makanannya sudah siap di meja, itu saja.
Kau tahu bagaimana perasaanku, benar-benar terasing. Kau tidak punya lawan bicara, tidak punya materi untuk mendekatkan diri, rasanya di desa yang sudah sepi ini perasaanku bertambah sepi saja. Aku bosan, tak ada aturan, tak ada yang memarahi, tak ada aturan pula yang mengkungkungku seperti sebelumnya.
Ini lebih seram dibanding harus melihat ayah, ibu dan dua kakak usil-ku itu marah-marah. Lebih seram juga tinimbang mendengar cibiran teman-teman di sekolah yang tak begitu suka dengan tingkahku yang seperti ini. Selalu saja, menurutku dari segala macam ekspresi yang keluar alami dari dalam diri seseorang, diam itu-lah yang paling mengerikan. Karna aku tak bisa menebak apapun dalam diam. Semuanya serba samar.
Hari keempat skors, Bangunku pagi sekali hari ini. Tak seperti biasa, aku ikut membantu nenek menyapu halaman, walaupun belum sampai seperempatnya aku sudah berhenti kewalahan. Nenek hanya menyeringai manis, tak komentar apapun. Aku justru heran. Kenapa tak memarahiku atau sekedar menegurku bagaimana, apa susahnya sih marah atau menyuruhku mengerjakan sesuatu? Aku dongkol, perasaan sebal karna terlalu banyak aturan kini malah digantikan dengan sebal karna tak ada aturan. Perasaan yang aneh bukan?
entahlah, aku juga tak mengerti bagaimana mengatasinya.
Hari kelima, kegiatanku bertambah. Karena penasaran kenapa nenek dan kakek tak juga mengeluarkan suara, tak seperti orang tua kebanyakan yang hobinya adalah menyuruh, marah-marah dan sok paling benar. Padahal belum tentu kalau dinasihati balik karna salah mau menerima. Sejak pagi aku sudah stand by di belakang nenek, mengekor. Nenek ke ladang aku ikut, membantunya. Nenek menyapu, aku membantu juga, walaupun peluhku sebesar- biji gandum, taka pa. Sampai urusan masak memasak di dapur yang paling anti kulakukan kuikuti juga, tetap membantu. Rasanya ada yang beda, ada kepuasan tersendiri waktu kita bisa banyak membantu seperti ini, tanpa paksaan tanpa acara suruh menyuruh.
Malamnya, aku tidur pulas sekali. Kelelahan, nenek dan kakek yang mengintipku dari tirai penutup kamar hanya tersenyum senang, sudah ada perubahan.
Hari ke-enam skors, Meski dengan berbagai macam pegal di badan. Di kaki, tangan, leher, pinggang. Aku bangun sendiri, tubuhku tiba-tiba membiasakan diri dengan rutinitas ini. Kemudian mandi, dan seperti kemarin, tetap membantu nenek sampai pekerjaan nenek selesai. Bingung juga karna sampai sore hari, nenek dan kakek bisanya hanya senyum saja.
penasaran kakek sedang apa, dan aku yang tiba-tiba tak suka kalau hanya berdiam diri bangun dari kursi. Menyusul kakek yang sedang di sawah, menggiring kambingnya untuk ke kandang lagi. Segera kuambil kayu kecil untuk membantu kakek, mengarahkan kambing-kambing itu ke jalan menuju kandangnya. waktu aku bilang “Boleh ya kek aku membantu?” Kakek mengangguk pelan, tanpa ekspresi.
Sampai di rumah, walaupun badan pegal dan waktuku seharian kuhabiskan tanpa ada waktu bersantai, apalagi tidur. tapi entahlah, rasanya bahagia saja, tak terlukiskan kata-kata –berlebihan mungkin ya-.
Hari ke-tujuh, hari terakhir aku di rumah nenek kakek.
Aku masih penasaran, bagaimana bisa, mereka tanpa banyak kata, tanpa banyak omong bisa membuatku berubah sedikit demi sedikit. Lama-kelamaan gemas juga bukan melihatnya. Menunggu reaksi dari orang yang tidak mengerti –entah tidak mengerti atau sengaja benar menunggu aku sendiri yang bertanya pada mereka.
Akhirnya waktu berpamitan datang juga, ayah dan ibu tak bisa menjemput. Aku harus naik bis sendirian menuju kota. Kakek dan nenek yang mengantarku sampai terminal, melepasku dengan tulus. Ikhlas sekali malah mungkin. Karna takut tak mendapat jawaban juga, kutanyakan kegalauanku beberapa hari ini. Pertanyaan penting tentang kenapa harus dengan diam nenek dan kakek memperlakukanku.
Kakek dan nenek menoleh, saling bertatapan. Lantas tersenyum puas, “Kau bertanya juga bukan akhirnya nak?” Kakek bersuara. Aku mengangguk takzim.
“Kau tahu lampu di jalanan kota bukan nak? yang ada banyak warnanya macam pelangi itu?” Aku mengangguk lagi. Mana mungkin tak tau, aku suka sekali menerobos lampu merahnya, dan itu membuat masalah.
“Nah, hidup itu macam lampu jalanan itu nak. Yang bahasa kerennya kalau tidak salah, Trapik let”. Aku tergelak. “Bukan Trapik let kek, tapi traffic light”.
“Ah, apa sajalah namanya.” Nenek membenarkan
“Apa hubungannya kek?” Aku bertanya, lagi-lagi dibuat bingung.
Ada nak, karna sebenarnya dalam hidup itu seperti lampu jalanan kota itu. Ada merah, kuning dan hijau. Yang merah adalah sesuatu yang dilarang untuk diterobos, tak boleh dilakukan. Yang kuning masih agak enak, kau punya dua pilihan untuk iya atau tidak, tak perlu takut. Hanya saja kau harus hati-hati dengan konsekwensi dengan pilihan iya atau tidakmu itu. Dan yang satu ini, hijau, adalah lampu perintah Nak. Kau harus mengerjakan yang ini juga, sudah jadi ketentuan kalau ini pun harus kau ikuti. Memberikan petunjuk tentang hal baik.
Dan kesemua lampu itu akan membimbing arah hidupmu, keyakinanmu, dan prinsip yang akan kau pegang teguh. Tak perlu-lah kau repot-repot menasihati orang, kau dengan bebas berbuat apa saja semaumu. Karna nanti, yang akan menanggung resiko-nya juga kau sendiri.
Kau melakukan hal baik saja, macam lampu hijau, masih akan ada saja orang yang tak mengerjakan lantas jadi bertabrakan. Lalu apa jadinya kalau kau menerobos lampu merah? Bukankah akan semakin fatal juga akibatnya. Itu sudah jadi aturan, ketentuan ya ketentuan saja. Pasti dibuat untuk kebaikan, seandainya ada ketentuan buruk-pun pasti tak akan bertahan lama, terkikis perlahan dengan hal baiknya.
“Itu kenapa alasan kakek dan nenek tak pernah mau menegurku?” Kakek dan nenek mengangguk serempak.
“Kau ini kan sudah besar rima, sudah tau mana yang kewajiban dan mana haknya. Nenek dan kakek sudah tidak pantas mengingatkan berkali-kali, malu dengan diri sendiri saja-lah.” Aku tertohok. Kakek melanjutkan lagi bicaranya, “Kau baik itu buatmu sendiri, dan kau buruk itu buatmu juga nanti”.
Penumpang jurusan kota dengan Bus airjaya segera bersiap-siap. Bagi pemegang tiket yang belum naik ke bus diharap segera naik, lima menit lagi bus akan berangkat, Jangan lupa periksa dan jaga barang bawaan masing-masing.
Panggilan penumpang bus jurusan kota sudah terdengar keras dari ruang pemberitahuan. Aku beringsut, mengenakan jaket untuk menghalau dingin yang menusuk badan karna cuaca yang ditambah AC bus besar itu. Kemudian membungkuk mengangkat barang bawaanku. kakek dan nenek mengikuti dari belakang, berpegangan erat macam pasangan muda-mudi yang baru saja memadu kasih. Masih mesra.
Sampai di depan bus, hendak naik. aku menyalami dulu tangan nenek dan kakek, berucap terima kasih. Dari balik kaca tempat dudukku, aku melambaikan tangan tanda perpisahan. Semoga bisa kembali lagi kesini. 

Satu hal yang kupetik dari sikap kakek dan nenek, kalau semua hal itu tak perlu terlalu dipaksakan untuk dituruti. Karna kadang, hal itu justru akan menimbulkan efek berseberangan, penolakan dimana-mana.  Biarkan saja mengalir sebagaimana kesadarannya. Bukankah semua aturan itu akan kembali pada pribadi masing-masing.
tak perlulah banyak bicara, karna belum tentu banyak telinga yang mau mengiyakan. Contohkan saja dengan perbuatan, simple, dan tak perlu menghabiskan tenaga.