.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Tuesday, 29 May 2012

Nino Si penjaga Toko

 Latifa Mstfda
Seperti hari-hari biasanya, pagi ini Aku sedang menata dan mengecek ulang daftar buku hari ini di gudang. buku apa saja dan di bagian mana harus kutata rapi. Sudah sejam yang lalu aku datang, orang pertama yang datang dan pertama kali menjamah tempat ini, tentu dengan berseragam kerja seperti biasanya. Ini libur semester akhir kuliah, dan kuputuskan saja mengambil waktu seharian untuk bekerja. Hitung-hitung menambah uang kebutuhanlah sebelum dapat kiriman bulan ini.
“Mas, buku tentang kedokteran di rak sebelah mana ya?” 
Seorang gadis manis berambut panjang diikat kuncir kuda menghampiriku. Memutuskan memberanikan diri mengganggu kesibukanku berbenah. 
“Di rak selatan mbak, di deket buku Hukum sebelah sana ya mbak.” Aku tersenyum ramah menjawab pertanyaan gadis manis tadi.  
“Eh iya mas makasih, kalau yang judul ini ada nggak ya mas?” Gadis manis tadi mendekat padaku, menunjukkan selembar kertas catatan yang dibawanya, diambil dari saku celananya. Kemudian membacakannya untukku. 
Parfumnya harum sekali! Bahkan dari jauh pun aku sudah bisa mencium baunya. 
 Aku masih tersenyum ramah, memperhatikan raut mukanya yang anggun. Bersih dan putih. 
“Lebih jelasnya di cek di computer toko saja mbak, di bagian depan dekat kasir ya”. 
Gadis manis tadi tampak malu-malu, berterima kasih padaku lantas pergi ke tempat yang kusebutkan tadi. Mengantri beberapa orang di depan computer pencari, sambil tengak-tengok kesana kemari. Tak sengaja matanya tepat menatapku. Kemudian tersenyum, seolah-olah berkata padaku “Makasih ya  bantuannya tadi”. Aku mengkhayal. Seandainya saja aku tau namanya. pasti sudah lumayan senang aku. Berkenalan dengan gadis manis sepertinya.
Aku melanjutkan pekerjaanku, sambil sesekali memperhatikan gerak-geriknya yang tak luput dari pandanganku. 
“Kau sedang memperhatikan siapa No?” Roni menegurku yang terus-terusan memperhatikan ke arah berseberangan denganku, bukannya malah segera menyelesaikan pekerjaanku.
“Eh!” Aku kaget, ketahuan sedang tak konsen. ‘Bukan siapa-siapa kok, perasaan kamu aja Ron” Aku meringis saja ketangkap basah.
“Yaudah, lanjutin tuh kerjaanmu, masih banyak yang berantakan”. Roni mengingatkanku, dan aku mengangguk. Tapi pandanganku kembali mengawasinya, Kulihat ia sudah menemukan rak yang dicarinya, tertunduk takjim membaca judul buku satu persatu. Jongkok, sedikit hilang dari pandangan, dan kemudian berdiri lagi menunjukkan senyum manisnya. Di tangan kanannya tergenggam buku tebal berwarna merah biru, mungkin itu buku yang dicarinya, syukurlah sudah ketemu, Aku ikut tersenyum lega.
Hey, kenapa aku harus merasa lega pula? Aneh sekali tabiatku ini.
***
Gadis manis tadi masih disitu, di lantai dua toko buku ini. Di kursi dekat kaca jendela besar yang mengarah ke jalanan, memesan segelas ice lemon dan satu porsi roti coklat untuk dinikmati. Ia masih sibuk membolak-balik halaman buku tebal itu. Aku tak tau apa yang sedang dikerjakannya. sepertinya repot sekali. Ia lantas menunduk, membuka tas dan mengeluarkan laptop dari tasnya tadi, menghidupkannya dan masih seperti tadi, ia duduk manis tanpa tau aku memperhatikannya sejak tadi. 
Sudah beberapa hari ini selalu begitu, ia datang jam Sembilan pagi, bertanya padaku tentang satu hal, tersenyum ramah padaku. Pergi mencari dan menemukannya, membayar buku itu lalu naik ke kafe. menghabiskan langsung buku yang dibelinya tadi sambil memesan pesanan yang aku hampir hafal karena selalu sama setiap kalinya. Aku semakin heran saja dibuatnya. ingin sekali rasanya aku menyapa gadis manis itu. ganti bertanya siapa dan dimana rumahnya, tapi aku tak pernah berani. Bahkan tiap kali melihat senyumnya, alamak, dada ku ini tak kuat berdetak rasanya, berhenti seketika.
Ini hari keempat aku melihatnya lagi di jam yang sama, duduk di tempat yang sama, memesan menu yang sama dan juga menghabiskan beberapa jam hanya untuk membaca buku, kemudian pergi di jam yang sama. dan aku? Hanya berani memperhatikan dari jauh, terlalu banyak berencana, tapi tak pernah jadi kulakukan, ia lebih dulu pergi. 
“Kali ini aku harus berkenalan dengannya Ron!” Atau tanya namanya sajalah, sudah cukup!” Aku menyeret Roni, memaksanya mendegarkanku.
“Hey, siapa yang kau maksud No?” Ia balik bertanya. Sambil tetap bekerja, menata buku-buku di tempatnya. 
Aku menarik paksa tangannya, pelan mengajaknya naik ke atas, ke lantai dua tempat gadis manis itu duduk. Menunjuk-nunjuk ke arahnya. “Eh, eh, mau kemana ini No? nanti dimarahin bos kita?” Roni menahan jalanku. “Ssssssst, diem!”.
‘’Itu tuh Ron, manis sekali bukan?” Sudah beberapa hari ini aku kalang kabut dibuatnya, dia terlalu sering memamerkan senyumnya padaku Ron, kukira dia naksir padaku mungkin. dag dig dug sekali hatiku ini dibuatnya”. Aku terus saja bercerita panjang lebar padanya.
“Yang mana no? Roni bertanya lagi, masih belum paham mana yang kumaksud.
Di sebelah kaca besar Ron, yang rambutnya dikuncir kuda pake kemeja putih.”

Roni diam, mungkin sudah mengerti mana yang kumaksud.  “Hey, rupanya tinggi juga seleramu No!” Kukira kau hanya bisa serius bekerja dan kuliah saja, benar-benar tak kusangka, tapi mungkin itu hanya perasaanmu saja No!”. Roni meledekku. 

“Okelah, kudoakan semoga kau berhasil ya.” Dan satu lagi, nggak usah kebanyakan mikir no, keburu dia pergi” Roni lagi-lagi menasihatiku. 
Aku sudah menyiapkan beberapa kalimat sapaan untuknya, mulai dari “hai”, atau “eh, boleh kenalan nggak?”, Atau boleh jadi lebih ekstrem, “boleh jadi temen deketku nggak?”. Tapi lagi-lagi sayangnya Cuma satu, tiap melihatnya aku tidak bisa berkata-kata, kaku di lidah saja. 
Ini sudah jam tujuh malam, jam kerjaku berakhir sudah hari ini, dan seperti biasa, ia akan berdiri merapikan bawaannya, pergi ke kasir, kemudian melenggang pergi menyetop angkutan yang lewat di depannya.  Aku sudah cukup puas bisa memperhatikannya seharian penuh seperti hari ini.
Aku sudah menunggunya di parkiran, semoga saja ada keberanian. Dari jauh kulihat ia sedang berjalan ke arah luar, menjinjing buku tebal, di belakangnya ada tas ransel yang selalu dibawanya pula kesini.  Semakin lama semakin dekat, semakin tak karuan juga rasanya kakiku ini. 
Gadis manis itu sudah di depanku, menunjukkan lagi senyum manisnya untukku. Untukku? aku tengok kanan dan ke kiri, tak ada orang, benar-benar untukku kah?
Ia justru makin tersenyum, “Iya, kamu!” , dan aku malu terlihat salah tingkah. “Sedang menunggu siapa?”. gadis manis itu bertanya. Alamak, gadis manis itu menyapa ku lebih dulu

“Sebentar, sebentar … “ . Ia berkata lagi. Mendekat padaku, mendekat dan lebih mendekat lagi. Aku sudah gemetar sekali rasanya ini, didekati gadis semanis dia. dia menjulurkan tangannya, semakin dekat dan semakin dekat lagi ke wajahku. Hai hai, kakiku lemas sekali. ingin pingsan sekali rasanya aku, detik ini juga.
Ia sudah ada di depanku, tangannya sempurna menyentuh wajahku. “Maaf, itu ada upilnya!” Dia menghapus kotoran di hidungku dengan tissuenya.
Seketika itu juga aku tertampar. malu tak tertahankan. Dan ia pergi dengan senyum mengembang di bibirnya.
***
 Sampai di kost aku langsung bercerita pada Roni. “Kau tau tidak ron siapa yang sudah membuat jantungku alamak jadi berdetak tidak wajar? Yang bikin konsentrasiku berbenah tadi jadi gak karuan? Yang kutunjukkan padamu sedang duduk di kafe itu rin? Aku menepuk dahi. Roni menggeleng, banyak tak pahamnya. “alamak, kau ini pelupa sekali Roni!”
Roni memasang wajah serius, sok mengingat-ingat. “ah-iya, yang berbaju putih tadi kah?”. “TEPAT SEKALI ron!” akhirnya ekspresi ku berubah lega, seperti orang yang baru saja keluar dari kamar mandi.  “Bukannya tadi kau bilang tak ada apa-apa no? roni bertanya mengulangi.
Aku meringis, cekikikan. Memamerkan gigi.
“sori ron, tadi aku banyak berbohong. Daripada kau ganggu, lebih baik aku diam saja bukan?” dia mengangguk-angguk.
Lantas kuceritakan panjang lebar pertemuanku dengan naya, dari awal sampai akhirnya sedikit perhatian. “APA? Hah, kenapa harus malu kau No? bukannya harusnya kau tersanjung, bahkan orang pacaran saja belum tentu mau seperhatian itu. Kalau kata anak alay jaman sekarang sih, itu tuh so swit banget Nino!” roni berubah genit. badanku membeku.
Esok harinya, tak disangka tak dinyana, aku bertemu dengannya. Motorku mogok tak mau jalan dari tempat kost tadi, lantas aku terpaksa naik angkutan umum. Aku berterima kasih untuk motorku yang mogok, ternyata ada hikmahnya juga. Gadis manis itu sedang duduk takjim memperhatikan jalan, sesekali menunduk membolak-balik buku tebalnya, tak tau  aku sedang asyik memperhatikan. Ia menoleh ke belakang, lantas menyadari aku di belakangnya. 
“Hei”. Dia menyapaku, kemudian diam, mengingat-ingat wajahku dimana pernah bertemu. “Masnya yang di toko buku ya?” Oh iya bener-bener. Gak nyangka deh ya bisa sesering ini ketemu?” Ia mengajakku berbincang. Padahal aku yang sejak tadi sedang mempersiapkan kata-kata untuknya tak berhasil-hasil dikeluarkan. 
“E, e, iya, saya, aku, yang di toko buku biasanya”. Aku grogi. 
“Kenalin, namaku Naya.” Gadis manis itu tersenyum, mengulurkan tangannya padaku, mengajak berkenalan.
“Oh iya, saya, aku, Nino!” Gak nyangka ya bisa kebetulan lagi ketemu disini. Walaupun hatiku sontak kegirangan. 
Ia mendominasi pembicaraan, aku bahkan tak tau ia seramah itu pada orang yang baru saja dikenalnya. Dan betapa bodohnya aku terlalu banyak berpikir. Menghabiskan waktu saja.
“Mau kemana mas?” ia bertanya tanpa ragu-ragu, tatapannya jelas mengarah padaku.
“Hey, panggil aja Nino. Bisakan? “
“Oke deh aku ulang, mau kemana mas, eh mau kemana Nino?” ia tersenyum lugu.
“Mau ke toko buku, kamu sendiri?” aku bertanya balik
“Kebetulan  lagi ya, aku juga mau ke toko buku itu, bagus dong aku punya temen ngobrol di jalan”. Aku tersenyum mengiyakan. “ Buku apa yang kau bawa itu nay? Ia tak menjawab, tak mendengar pertanyaanku. Ia melanjutkan lagi membaca buku tebalnya itu. Tak terasa aku sudah sampai di depan Toko buku tempat kerjaku, aku bergerak mendahuluinya. “Ayo Nay! Aku mengajaknya turun. Tapi dasar aku yang tidak hati-hati, bangun dari tempat duduk dengan tergesa-gesa, tak tau kalau ada paku yang menancap persis di sebelah pantatku. Dan ketika aku bangun
“KREEEEEK!” Celanaku tersangkut sempurna di bagian kiri pantatku, sobek seperempat bagian. Memperlihatkan warna celana dalamku. Aku duduk lagi, menunduk malu, menyadari semua mata memandangku, menahan tawa untuk celana robekku. Ya Tuhan, kejadian memalukan apalagi ini? Baru sekali naik angkot, apes pula!. Naya menyodorkan jaketnya untuk menutupi bagian celanaku yang robek, “Makasih lagi ya Nay”. Diapun menahan tawanya untukku, tawa renyahnya yang memabukkan. Aku benar-benar malu kali ini.
Tapi yang membahagiakan, sekarang, aku punya tambahan waktu untuk bertemu dengannya, disini, di angkutan umum jurusan kota. Tak apalah aku menganggurkan motorku dulu. Aku pasti bisa mendapatkan hatinya.
***
Hujan turun sore ini, sejak jam empat tadi langit mendung. bahkan sampai se sore ini hujan belum reda juga. Aku sudah bersiap-siap sejak tadi, bergegas ganti pakaian kemudian pulang. Aku sengaja akhir-akhir ini mengambil jam kerja sampai jam tujuh malam. Agar bisa keluar bersamaan dengan gadis manis bernama naya itu. Tak apalah, bukankah harus ada pengorbanan sedikit untuk mendapatkan perhatiannya.
“Hey No, mau pulang ya?” Dia menepuk pundakku dari belakang, membawa tas jinjing dan buku tebalnya itu. Akhirnya yang kutunggu datang juga.
“Iya nih, tapi belum reda, terpaksa deh agak telat pulangnya”. Aku tersenyum menjawab sapaan hangatnya. 
“ Gimana kalo kita makan dulu, kamu belum makan kan nay?” aku memberanikan diri mengajaknya makan bersama.
“Mmmmh, gimana ya, sebenernya aku harus cepet pulang, Tapi gak papa deh, masih hujan ini kok. Ayo mau makan kemana?” Ia bertanya balik padaku. Menatapku mesra. Semoga bukan perasaanku saja. Ya tuhan, dia memang manis sekali, dari jauh saja sudah manis, lebih-lebih sedekat ini.
“Nerobos ujan bentar gak papa kan nay? Aku tutupin pake ini ya?” Aku menyelimutkan jaket yang kupakai ini  padanya, membalas sikap baiknya waktu celanaku robek di angkutan waktu itu. Menggenggam erat tangannya, meski sebenarnya menarik paksa untuk kupegang, tak peduli lagi hujan membasahi kepalaku. Juga hatiku.
Tak berapa lama kemudian aku dan Naya sampai ke warung sebelah, warung bakso yang sudah lama jadi langgananku. “Kau mau bakso kan nay? biar hangat badannya?” padahal sejujurnya aku sedang tak punya banyak uang untuk mentraktirnya makan.
Ia hanya mengangguk, gadis manis yang kutau bernama  Naya ini hanya tersenyum sedikit. mengangguk, mengiyakan apa saja yang aku mau.
“Bang, bakso nya dua mangkuk ya! Sama teh manis hangatnya dua gelas juga!” Aku berteriak pada mas-mas tadi, memesan untukku dan untuk gadis manis di sebelahku ini. Aku dan dia makan lahap, entah karena suasana sedang mendukung kali ini, atau karena aku dan dia sama-sama merasa nyaman dan tak perlu lagi canggung. Entahlah, aku tak tau. Yang jelas, hari ini juga, dia harus tau perasaanku.
“Nay”. aku memanggilnya pelan. “Hemm”, Ia berdehem saja melanjutkan makan baksonya.
“Nay! Aku memanggilnya sekali lagi. Ia menoleh ke arahku. Di sebelah kanannya duduk sekarang. “Bolehkah aku menyampaikan sesuatu?” Dia mengangguk. Lagi-lagi hanya mengangguk, membuatku benar-benar salah tingkah.
“Kau mau bilang apa no? Bilang aja, aku gak bakal nggigit kok.” dia mencandaiku.
“Mmh, mau nggak kamu jadi teman special makan baksoku?” Aku bertanya pelan.
“Heh, apa? Maksudnya apa No, coba deh diulang?”
Aduh, semakin sulit saja menyampaikannya. hatiku sudah benar-benar tak karuan. Ingin mati rasa sebenarnya. “Makasih ya udah mau ngapus upilku waktu itu!”. Ya Tuhan, bodohnya aku. aku malah bicara  ngelantur kayak gini. Naya tertawa, benar-benar tertawa. Dan ini semakin membuatku kaku kikuk di depannya.
“Hahaha, sumpah deh No! Itu hal paling lucu yang pernah aku denger dari cowok! Gak usah malu. Dia tertawa lagi. “Santai aja kali no, aku ngapusnya pake tissue kok, gak make tangan juga”. Dia lagi-lagi tertawa, memamerkan gigi-gigi kelincinya.
“Makasih ya buat jaketnya juga waktu itu” Alamak, mulut ngaconya semakin grogi saja ini.
Dia semakin terbahak-bahak, tertawa sambil memegangi perutnya. “Kau mau ngomong apalagi No? Itu santai saja kali, aku juga pasti malu kalo jadi kamu”.
“Kalau jadi pacarku, Temen deket ding Nay, mau tidak? ” Akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Plong sekali rasanya! Tapi kali ini masih ada yang kutakutkan …. Naya diam. Beberapa lama. Dan itu cukup membuatku tak karuan. Aku berulang kali menatapnya, menyeruput lagi teh manis hangat yang masih setengah gelas tersisa.
“Asalkan … “. Naya akhirnya berbicara, tapi kemudian berhenti sejenak.
“Asalkan apa nay?” Aku harap-harap cemas menunggu.
Dia tersenyum menggodaku dulu, “Asalkan … mmmhh … “ . Asalkan aku jangan suruh ngapus upil kamu lagi ya No? Dia berkata pelan menohokku. Sukses membuatku malu. Tapi akhirnya ia tertawa terbahak-bahak, Mengangguk mau tanpa ragu.
“Hey, kau mau beneran Nay jadi pacarku, eits salah, Teman dekatku?” aku bertanya lagi memastikan. Dia tetap pada pendiriannya. mengangguk mau meski aku menyatakan cinta tak di tempat romantis seperti biasanya, hanya di warung bakso sebelah toko buku, ditemani hujan yang hampir reda sore itu.

Monday, 28 May 2012

Roda Hidup Radith

LATIFA MUSTAFIDA

Roda Hidup Radith
“Koran, Koran!” 
Radit melemparkan buntalan Koran edisi terbaru hari ini  ke salah satu gerbang perumahan elite itu. Meletakkan sebotol susu murni pula di depan pintu masuk rumah besar itu. Berkeliling Kota waktu dingin masih menerpa.

RadithMengayuh lagi sepeda tua miliknya itu. Mengelilingi seluruh kompleks yang jadi langganannya. Radith mengangkat lagi pergelangan tangannya, ini sudah jam lima lebih sepuluh menit, ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya dan bergegas bersiap ke sekolah. Radit memacu sepeda ontelnya tanpa perhitungan, yang ia tahu ia harus tepat waktu sampai rumah, Pagi ini ia Ujian akhir nasional. Dan ia harus segera ke sekolah. 

Pukul enam kurang sepuluh menit ia sampai depan rumah, meleset sepuluh menit dari waktu biasanya.
***
Malam ini Radit tak bisa tidur. Sulit sekali rasanya ingin memejamkan mata. Padahal seharian ini ia begitu banyak kegiatan, sengaja menyibukkan diri agar bisa tidur lebih cepat. Agar degup jantungnya tak perlu berdegup lebih cepat dari biasanya. Perasaan Radit benar-benar sedang kacau malam ini.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, Radit masih saja terjaga. Ia masih mencoba memejamkan mata. Kepalanya sudah terasa agak berat, matanya pun sedikit berair. Tetapi pikirannya masih kemana-mana. Radit mencoba tenang, mencari pengalih perhatian. Berbaring, mencari posisi paling nyaman. Terlentang sebentar, tangannya diletakkan di atas matanya, menghalau mata agar cepat terpejam. Bergerak lagi, posisinya berubah miring sekarang, memeluk erat guling birunya, mencari  posisi paling nyaman. Berbalik lagi, miring. 

“Aaah, kenapa aku ini?.” Ayolaaah mata manisku, terpejamlah. 

Berulang kali hanya seperti itu. Berpindah terlentang, kemudian berubah tengkurap, miring ke kanan, balik lagi ke kiri. Dan akhirnya tertidur sendiri. Kelelahan sepanjang hari. 

Besok adalah hari pengumuman kelulusan. Sejak dua hari yang lalu Radit sudah gelisah membayangkannya. Mencari banyak kesibukan untuk sedikit melupakan kekhawatirannya tentang pengumuman kelulusan itu, tapi yang jadi masalah justru orang-orang di sekelilingnya yang terus saja bertanya. Membuat pikirannya semakin tak menentu saja. 

“Dit, kapan pengumumannya? Lalu setelah lulus nanti apa kau akan tetap bekerja bersama paman disini?” Pertanyaan pamannya itu sangat sangat mengganggunya. Sedikit membuyarkan harapannya.

“Eh, ini paman, belum tau. Pengumumannya baru dua hari lagi.” Radit menjawabnya pelan.

Pamannya justru semakin gencar bertanya. Tak memperhatikan raut muka Radit yang semakin pucat pasi, lemas, tak tau bagaimana harus menjawabnya. 

“Maaf paman, Radit ke belakang dulu, mau beres-beres kamar.” Radit memilih pergi daripada bersikap kasar pada pamannya itu. 

Radit membanting tubuhnya ke kasur tipis miliknya itu. Menatap sekeliling kamar, dinding bambu yang sudah tua, gentengnya tambalan sana-sini, tapi itu tak pernah jadi masalah untuknya. Ia hanya tertarik di bagian atas meja kecil untuk belajarnya tiap malam, hanya bercahayakan lampu seadanya, dan tentu saja ini yang jadi perhatiannya masih ada banyak sekali tulisan-tulisan semangat yang dibuatnya ketika menjelang ujian beberapa bulan lalu. Dan itu masih tertempel dan terlihat rapi di dinding kamarnya.

“Be the best ya Dit!”

 Itu tulisan yang dibuatnya sendiri,  disitu tertanggal 5 maret 2012. Dan itu yang menemaninya belajar setiap malam, menguatkan tujuan dan usahanya mencapai semua yang sudah dia impi-impikan.  Ia meyakinkan diri sendiri. “Kamu pasti lulus Dit, namamu pasti ada di daftar siswa yg lulus. Kamu pasti bisa.” Ia tidur pulas malam itu, dan bermimpi bahwa ia benar-benar  menjadi mahasiswa di salah satu universitas ternama impiannya. Menimba ilmu lagi untuk menggapai kesuksesannya.

***
Pagi ini Radit merasa sedikit lebih tenang, ia meyakinkan lagi dirinya. Ia pantas mendapatkan mimpinya. Lantas tersenyum sendiri. Hari ini ia pasti dapat kabar gembira. “Aku pasti lulus. Yah, Aku akan jadi mahasiswa sebentar lagi”. 

“Bu, Ibu, Ayo berangkat! Udah hampir jam delapan nih.” Radith memanggil Ibunya yang sudah tua renta. Memapahnya yang berjalan tertatih, pelan dan sangat sabar menuntun ibunya. 

“Kau tak papa nak mengajak ibu yang sudah tua ini? 
Tidakkah ini merepotkan dan membuat malu kamu Nak?”. Ibu Radit bertanya pelan. 

“Ibu bicara apa? Mana mungkin aku malu punya Ibu yang cantik dan sekuat ini, mereka bahkan tak punya Ibu yang sesayang ini pada anaknya melebihi Ibuku ini” Radit memeluk ibunya dari samping, meneruskan memapah ibunya. Mendudukkan Ibunya di boncengan belakang sepeda Ontelnya. Sepeda kesayangannya.

“Ayo bu, Pelan-pelan saja ya. Radith pasti hati-hati membonceng Ibu.” Radit berkata penuh keyakinan. 

“Pegangan sama badan Radith ya Bu, yang erat!” 

“Iya nak. Pelan-pelan saja, Ibumu selalu di belakang menjagamu nak, mengawasi gerakmu.”

Perjalanan ke sekolah itu dihabiskan dengan diam. Ibunya tak mau banyak bicara, takut mengganggu konsentrasi Radit bersepeda di ramainya jalan. Sekolahnya memang tak begitu jauh jika ditempuh dengan kendaraan bermotor, tapi dengan sepeda Ontel tua yang dimiliki Radit dan harus membonceng Ibunya yang duduk miring cukup membuat lama perjalanan. Tapi Radith tak mengeluh, ia tetap tersenyum, dan dalam hati berjanji “Radit bakal bikin Ibu bangga, Radith selalu yakin Bu!”. Ini janjinya dalam Hati. 

Banyak kalimat bijak yang keluar masuk di telinga Radit, tapi hanya satu yang diyakininya. Bahwa roda itu selalu mengantarnya ke tempat tujuan. Meski jalannya kadang terjal, meski kadang tak sesuai harapan. Tapi putarannya akan selalu bergerak merata, hanya naik dan turun. Meski ia sekarang tak punya apa-apa selain perhatian dan kasih sayang Ibunya, ia yakin roda itu suatu saat nanti ia akan mengantar Radit naik ke atas, Bukan untuk kembali turun, tapi untuk tetap berputar mengantarkan seorang yang lain ke tempat yang ia tuju. 
Seperti usahanya saat ini.
***

“Dan, Siswa yang menjadi Lulusan Terbaik Tahun Ini, SMA Harapan 7 adalah .. “

“Adalah .. “, pembawa acara itu berhenti sejenak, 

“Adalah … “ . Pastinya Salah satu siswa angkatan 21 disini. Para undangan bersorak gemas pada pembawa acara itu, semua orang tua harap-harap cemas anaknya yang dipanggil namanya ke atas mimbar.

“Oke oke, maaf, biar tidak kaku saja tadi. Akan saya bacakan lagi. 

“Dan, Lulusan Terbaik Tahun Ini, SMA Harapan 7 adalah …. “


“RADIT HARISUKARA!”

Dari Kelas XII IPA A, Untuk Radith dan walinya dipersilahkan maju ke depan untuk menerima penghargaan dan memberi sambutan. 

Mata ibu Radit berkaca-kaca. Ia sungguh tak menyangka, anaknya satu-satunya, yang setiap hari bekerja keras untuk membayar uang sekolahnya sendiri juga membiayai kehidupannya, anak lelaki yang tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum padanya itu kini jadi pahlawannya lagi, anak lelakinya yang sebelum sekolah selalu mengantar susu dan Koran kepada langganannya, anaknya yang kemanapun selalu bangga dengan sepeda ontel hadiah darinya itu, yang tiap pulang sekolah selalu menyempatkan diri untuk membantunya mengerjakan apapun, kini, Membuat semangatnya kembali bergejolak. Membuatnya bersyukur lagi, bahwa Tuhan masih sayang pada keluarganya. 
Ibu Radith memeluk anak hebatnya itu, dan seluruh tamu undangan berdiri. Bertepuk tangan melihat kehangatan yang terpancar dari kedua Ibu anak ini.

“Terima kasih Bu, Untuk segalanya. Untuk jadi tempat berlindungku sejak belum ada di dunia, sampai aku kelak tak ada lagi. Terima kasih selalu Bu. Aku pasti akan selalu jadi anak hebatmu” . Radith berbisik, memeluk ibunya sekali lagi.

Ibunya berjalan pelan. Dipapah Radit dan dibantu beberapa orang petugas.  Pembawa acara itu kembali membacakan ketentuan yang sudah tertera di selembar kertas yang ada di tangannya. 

“ Dan selamat sekali lagi untuk Radit Harisukara. Sebagai siswa terbaik tahun ini, Kau berhak mendapatkan rekomendasi beasiswa penuh jurusan Ekonomi di Universitas Indonesia”. Seluruh tamu undangan bertepuk tangan sekali lagi untuknya.

Dan radith seketika itu juga berhenti, duduk, Sujud untuk menunjukkan rasa syukurnya. “
Terima kasih Tuhan, Kau berikan semua lebih dari yang kuminta. Thanks GOD!”
***

Kini, meski separuh jalannya sudah terbuka. Separuh doanya dikabulkan Tuhan melebihi mimpinya. Ia tak akan pernah lagi merasa kecil. Saat ini dan sampai kapanpun. Ia ada dan hidup karena dirinya sendiri, bukan karena pendapat dan cemoohan orang. Semuanya tak pernah lagi berarti ketika kita mau jadi diri sendiri, meyakini bahwa tak ada yang tak mungkin untuk bahagia dengan jalan yang sempurna. 

Radit selalu belajar dari apapun kejadian yang dilewatinya, dan menyiapkan diri untuk hal yang kelak akan dihadapinya. Ia pernah menjalani pahitnya kehidupan, dan ia tak pernah menyerah. Kini, ia tak akan mau juga menyerah lagi. Baginya, hidup tetaplah hidup. Meski manisnya kali ini sedang terasa, tapi esok nanti pahit akan kembali datang. 

Dan kita harus tetap kuat menjalaninya. Seperti Radit yang tak pernah lelah berjuang. 

Karena hidup yang tak akan pernah bisa diterka jalannya.

SGM -- eps 5

LATIFA MUSTAFIDA

Karin, teman yang konyol.

Rin, lo nggak bisa ya jalannya  dipelanin dikit?Kaki gue pegel nih Rin! Ale berteriak pada Karin, kerepotan membawa barang-barang belanjaannya yang seabrek.Banyak sekali kantong di kanan kiri tangannya.
Ale mengeluh, di mall gak ada portir sih ya. Bikin ribet aja.

Rin, lo budek ya?“Ale memanggilnya sekali lagi.

Karin menengok ke belakang, mendengus. Kenapa lagi tuh anak

“Heh, lo gak liat ya Al, di depan ada diskon gede-gedean. Jalan lo itu yang dicepetin, kura-kura banget deh.Lo rela keabisan barang branded gara-gara lelet lo itu ya?
Kalo gue sih NO! “Karin pergi meninggalkan Ale yang semakin jauh dari pandangan.

“sialan banget sih tu Karin, tadi siapa coba yang ngajak gue ke mal? Pake acara boong, nyuruh bawa-bawa belanjaan dia pula.Tau gitu tadi gue pulang aja sama Kinar, pura-pura gaenak badan. Bodohnya gue Tuhan” Ale merutuk lagi dalam hati

Ayolah Al, cepeetaaan! Gausah kayak putri juga kali lo. Sok anggun banget” Karin akhirnya berbalik ke belakang, menyeretku paksa mengikutinya. Terseok-seok berjalan mensejajari langkahnya yang panjang.

Jelas keseok-seok lah, gue make heels bawa berenteng-renteng bawaan punya dia. Eh dia gampang banget ganti flat di mobil tadi. Gue kan gak bawa cadangan. Udah muka ketekuk-tekuk, lecek kayak duit lembaran lima ratusan, gak dikasih-kasih makan pula. Gue masih inget nget, tadi Karin nelpon gue bilang Cuma pengen makan nasi bakar aja di resto favorit dia di mal ini. Dan kebetulannya, gue juga belum makan, laper. Seneng-seneng bakal dapet gratisan, Bukan malah jadi asisten pribadi dia yang bawain barang belanjaan. Itu jelas gak ada di peraturan. 

“iye iye, BERISIK. Lo bawel banget deh Al, gabisa gitu diem. Nikmatin aja napa?”
Bentar lagi gue selesai. Tinggal ke butik depan aja tuh, bentar, puas lo? Karin sengaja mengeraskan kalimat itu

Ale tersenyum agak lega. Setidaknya beberapa menit lagi dia bisa duduk, istirahat menyelonjorkan kakinya. Dua jam terakhir menjelang magrib itu benar-benar hanya dihabiskan untuk mengikuti kegiatan gak penting teman lamanya itu. Sahabat hebohnya sejak SMA dulu.

Tapi abis ini makan dulu ya Al, gue laper banget?”

“Apa ajalah rin. Asal jangan makan di tempat kemarin aja rin, gak enak banget. Cari yang serba  rendah kalori deh ya?. Perlu jaga body juga nih gue” Ale bicara kali ini

Ah elo Al. Urusan makan aja banyak mikir. Diajak belanja asik  ginian lo juga gak minat,  cewek tulen gak sih lo sebenernya? Karin tertawa terbahak-bahak.  Menertawaiku

Ale manyun. Ngeledek aja teruuuus, sampe mulut lo keluar busa.Gak bisa tuh mulut puasa gak ngehina gue sehari aja? “ Ale mendesis. 

Tawa Karin justru lebih kencang sekarang. “Cacing lo kebanyakan tuh, musti dilaser juga kali tuh al, badan udah tinggal kentut sama tulang aja gaya-gayaan mau diet. Lo mau diet kayak apa juga tetep seksi-an gue kemana-mana. Makan daun sekalian aja lu Al”

Karin terus-terusan mengejek Ale yang sudah pasrah mau ditertawakan.Kakinya sudah tidak jelas bentuknya, kelamaan jalan kaki membuatnya sedikit diam. Tadi pulang kantor ale langsung menuju ke mal ini. Menemani Karin yang menagih hutang Ale mengantarnya kemanapun kalau ia punya waktu luang.
***
KARIN
“Tadi gue bela-belain bolos kerja cuman gara-gara pengen ketemu lo Al? Gak sadar juga lo?  Malah asyik Bbm- an pula? Dengerin gue eh Al! “

“YEEY, lo bolos kerja berapa kali juga gak bakal kena SP rin. Perusahaan punya bokap lo sendiri, lo di kantor gak ngapa-ngapain, cuman jumpalitan doang juga dibiarin aja pasti. Yakin lima ribu persen gue. 

Gue cuman ketawa dikit nanggepin syiriknya Ale. Mau berapa taun kerja dari pagi nyampe pagi juga gue gak bakalan bisa nyaingin tajirnya elo Rin. Itu katanya dulu.

 “Udah gatel pengen cerita banyak ke lo gue nih. Lo tau sejak kapan gue udahan sama seto? Hampir setahun al. Dan lo gak taukan banyak banget cerita gue yang nanggung di kepala, belum gue share ke lo Al.
Sok sibuk banget deh lo ya sekarang, gak pernah bisa nemenin gue sejam dua jam buat nongkrong.Biasanya juga lo yang ribet ngajakin gue pergi dadakan” Karin terus saja mencerocos, tak bisa dihentikan

Ale masih asyik menyeruput cappuccino nya. Membiarkan Karin bercerita saja sendiri panjang lebar.
“Terus, apalagi?” Ale bertanya singkat

“WHAT? Gue cerita sepanjang itu dan lo cuman bilang, terus DOANG?

Aduh Al, gak berubah-berubah deh lo.Tanggepin cerita gue kek, apa kek.
Si Temen tomboy gue yang cantik dan hobi jeprat-jepret itu tetep aja cuman pasang muka flat. Datar banget. Kayak sepatu yang gue pake sekarang ini nih. Sumpah, ini kali ya yang bikin gue nyaman banget cerita sama dia. Muka datarnya itu lho yang bikin gue yakin kalo cerita gue gak bakal nyebar kemana-mana, gak kayak mulut papparazi yang sedetik aja lepas udah nyebar ke pelosok got. Parah.

Bukan RIN, maksud gue terus lo sekarang sama siapa? Hobi motong omongan gue sih lo.Makanya dengerin dulu kalo ada orang ngomong.

Gue cuman melongo. Dia dengerin gue juga ternyata, walaupun kayaknya lebih asyik nyeruput kopi favoritnya itu. Disadari atau enggak, si Ale temen gue ini peka banget sama suara. Dengerin bentar aja udah tau siapa tuh yang ngomong. Apalagi lagu, puuh, dia jagonya. Apa aja pasti apal di luar kepala.

“Gue Lagi jomblooooo Ale sayaaang” gue berteriak senang.
Lagi males ngurusin hati gue, cowok tuh susah-susah gampang. Kalo lagi baik emang gampang banget diremote, nah kalo lagi susah jaringan, gue bener-bener gak tau gimana nyetop posesifnya. Lagian lo tau juga, gue paling males kebanyakan dikekang. Ini gak boleh, itu apalagi. Dikit-dikit ngambek, cemburu. Capek gue sabar terus”.
Lo tau kan gimana seto? Dia tuuuh akhir-akhir pacaran gak banget jadi cowok, gak boleh inilah itulah, terpaksa deh gue nyerah. Dan gue bebaaas! Kalo sekarang sih yang ngantri udah gak kebayang Al” Karin panjang lebar menjelaskan, sok kecantikan. Walaupun gue emang bener-bener cantik. Kata mantan-mantan gue sih. Gak tau deh mantan gue itu orang beneran apa jadi-jadian. 

Ya iyalah, yang namanya lagi keserang virus pink tuh mau jelek juga dibuta-butain, dicocok-cocokin. Yang ngakunya pinter juga tetep aja keliatan bloonnya. Bilang paling cakeplah, paling hebatlah. Padal belum tentu juga tahan lama. SIRIK!

Maksa banget ya bilang diri sendiri cakep rin? Gak ada yang muji ya sampe harus pamer ke gue? Ale membalas menghina Karin.

Biarin ajalah Ale mau bilang apa. Yang jelas gue udah terima kasiiiih banget dia mau nemenin gue disini. Gue bener-bener suntuk hari ini. Mau kerja juga gak fokus, mending seneng-seneng aja kan ya.  Dan seperti kata Ale, peraturan di kantor gak aaaada yang bisa mempan ke gue. 

ALE

Pulang kerja tadi gue abisin berjam-jam cuman buat nemenin Karin, temen lama gue yang udah beberapa bulan gak ketemu. Ngikutin dia hunting baju dan jadi kuli angkutnya, nemenin dia makan, sampai jadi kambing congek yang nggak boleh protes dengerin curhatan dia yang gak ada habisnya dan lo tau apa yang paling bikin gue kikuk?

 Gue musti kembali lagi ke bahasa “lo gue” nya itu yang udah lamaaa banget gak gue pake lagi. Asing gitu rasanya. Tapi okelah, yang penting gue udah nepatin janji buat nemenin dia hangout seharian. Belanja-belanja barang kebutuhan dia. 

What? Kebutuhan? Bukan bukan, salah, yang paling pas tuh muasin hobinya hunting barang keren. Dan suuuuper duper mahal. 

Lo gak eman apa rin ngabisin duit pake barang gituan doang?  Paling bentaran lagi juga udah gak muat rin. Cuman bakal jadi barang pajangan aja di lemari lo, yang nggak tau hampir lo pake semua enggak. Mendingan juga lo kasih ke gue Rin, buat bangun sekolah gratis buat anak-anak pungut gue itu. Lo ngerti kan ya? Eh, gue udah pernah cerita kan ya ke lo Rin?” Dan dia cuman ngangguk, senyum.
Lo dapet pahala, gue seneng dapet  tambahan dana, dan anak pungut gue dapet ilmu lagi. Merenges lagi. Adil gak tuh? Semoga minat deh lo ya Rin” 

Gue jujur banget minta suntikan dana buat projet sekolah gratis yang lagi gue rintis. lagipula gue yakin, kalo cuman ngeluarin duit sepuluh dua puluh juta kecil kali buat dia. Gila, dia tuh tajir mampus!  Gue aja gak berhenti melongo waktu pertama kali masuk rumah Karin. Sumpah gede banget. Dan gue berasa Kayak orang desa pedalaman yang gak pernah liat bangunan dateng pertama kali ke kota gitu tuh tampangnya, norak. Dan satu lagi, Karin tuh loyal banget sama orang, apalagi udah deket lama sama dia.

“Gak usah kawatir lo Al, minta berapa lo? Ngomong aja kalo butuh. Lima puluh juta kurang gak? 

Sementara ini cukup lah ya? Gue transfer langsung deh, sini kirimin nomer rekening lo aja.  “Masalah sedekah sih udah gue sisihin, berapa aja pasti gue kasih, Tapi baju koleksi gue pengecualian ya? Itu buat anak-anak gue aja ntar”. Karin merenges lagi.

Gila aja. Lima puluh juta? Gue aja belum pernah megang cek segede gitu, apalagi uangnya. Ale melotot membayangkan.

“Lo serius Rin? Gak lagi boong plus ngehina gue kayak biasanya kan lo? Tanya gue memastikan.  Dan dia mengangguk, beserta senyumnya yang memang wauw banget yang pernah bikin seto klepek-klepek liat dia pertama kali.

Yeeeey, makasih banget ya Karin!  “Dapet donatur lagi nih gueee, sumpah baik banget lo! Sumpah. Gak rugi deh gue jadi kacung lo beberapa jam ini.
Karin lagi-lagi hanya tertawa.

“HAHAAA, lo pikir gue tuh cuman bisa ngabisin duit buat belanja barang-barang yang kata lo selangit itu, makan-makanan kolesterol, travelling gak penting dan mulut pedes buat ngehina elo ya? Parah banget Lo Al.” Karin malah justru tertawa makin lebar.  “Sekarang lo pikir deh al, kalo buat barang-barang gak berguna menurut lo gitu gue mau keluar duit berjut-jut, masak sih gue gak mau keluar duit buat bantuin lo? Buat nyumbang jelas-jelas ke yayasan nyata, bukan fiktif kayak biasanya gitu tuh.  Yang Cuman manfaatin tampang anak-anak polos buat dapet untung.
Ya jelas gue mau laaah, duit gue punya mereka juga kali”

Dan ini juga nih, yang bikin gue betah temenan lama sama dia. Gue yakin, manusia heboh nan konyol yang banyak banget untungnya ini paling cuman ada beberapa di dunia. Dan gak salah lagi, salah satunya pasti Karin. Mulut dia tuh ya, dari dulu bocor. Mau ngomong apa juga bakal diladenin sama dia, tapi herannya dia tuh pinter juga. Muka udah gausah ditanyain lah ya, sebelas dua belas sama artis indo itu tuh, asmirandah. Tapi, tinggian Karin kemana-mana kali, beda sesenti dua senti paling sama gue. Dan jelas Karin tuh bukan artis. Jadi gak pernah gue liat dia jaim-jaiman di depan cowok-cowok , apalagi gue. Tapi ya, mau se-terbuka dan semenyenangkan apapun itu, cewek itu gak pernah bisa ditebak. Selalu misterius buat cowok-cowok yang hobi cari perbandingan.
 
“Iya ya rin, sori deh. Tapi lo serius kan? Gue BBM in deh nomer rekening gue.” 

***
KARIN
Mulut gue emang bocor al, Tapi hati gue pink juga kaleee.”  Sambil melambaikan tangan pada Ale dari kaca mobil.

ALE
Hei, pengumuman penting nih  buat para cowok-cowok jomblo. Temen gue si Karin yang cantik nan tajir tapi kayak ember bocor itu lagi kosong. Untung lipet-lipet deh kalo lo sampe bisa dapetin dia. Bonusnya segambreng pasti “ aku tertawa mendengar suara-suara usil di kepalaku. 

Pulang dari mal tadi aku diantar Karin dengan mobil mewahnya sampai depan rumah. Sudah basa-basi  menawarinya mampir menginap ia tak mau. Menolak mentah-mentah. Jelas saja, sekarang sudah jam sepuluh malem, dia bisa dicincang mamanya kalau tak pulang ke rumah. Dia punya sederet aturan heboh juga dari mamanya. Termasuk tak pulang larut malam dan untuk tidak membalas sakit hati ke orang lain sesakit apapun. 

Ingat bukan tadi? Dia panjang lebar menceritakan sebab musababnya putus dengan Seto. Ternyata ada bagian yang di sensor sendiri olehnya, seto yang posesif itu malah selingkuh sendiri. Tak masuk akal bukan? Atau mungkin karena kenakalannya itu membuat ia takut sendiri ketangkap basah hingga terlalu membatasi gerak-gerik Karin. Tapi toh nyatanya Karin santai saja, hidupnya lebih santai malah katanya tanpa Seto

Karin itu tipe-tipe yang tak suka menyimpan sakit hati terlalu lama, biar sajalah katanya.“ Tuh tandanya gue masih disayang sama yang diatas Al, buktinya gue diingetin cepet tuh biar gak lama-lama sama dia” dia justru enteng sekali membuat pembenaran.

Sekali lagi gue sampein, dekat-dekat dengan makhluk heboh nan konyol ini memang tak pernah membosankan. Selalu saja menyenangkan.

Wednesday, 23 May 2012

Ramuan Penguat Hati


latifa mustafida 
“apa sih yang lo khawatirin lagi dari dia Ke?”
Vega sahabat yang juga saudara Keara  kali ini bertanya sedikit menginterogasi. Memandangi Keara, menunggu jawaban pertanyaan yang dilontarkannya tadi.

“apa ya ga, gue gak tau. tapi gue takut aja dia ninggalin gue” Keara menjelaskan.

“Apaaaanya sih Ke? gue beneran nggak paham deh sama lo?” vega bertanya lagi

“Lo ngeledek gue banget deh ga, biarin aja deh gue gini. Belain lah, gue kan yang saudara sepupu lo”

“Warta tuh udah jelas banget perfect Ke. Lo liat aja, banyak banget yang ngiri sama lo. Warta tu udah ganteng, tajir, eksis, baik, perhatian banget lagi sama lo.
“sekarang lo mau nyari-nyari apa lagi kurangnya coba? 
capek deh gue jess njelasin ke lo “ vega geregetan menjelaskan pada Keara. 

“tau deh ga, gelap. Yang jelas gue mau cari ramuan penambah cintanya buat gue, biar dia gak berpaling dari gue”

“Ya ampun, Gila aja lo Ke, gak bersyukur banget deh lo punya pacar se charming dia.”  
Sumpah deh Lo mulai konyol Ke”. Vega meninggalkan Keara yang tak tak tau sejak kapan seringkali cemburu, mungkin karena sederet alasan yang disebutkan Vega tadi, harusnya ia bersyukur, tapi bukankah itu juga yang mengkhawatirkan.

Akhir-akhir ini vega memang sensi, merasakan sekali kekhawatiran Keara pada warta kekasihnya itu.
***
 Kali ini Keara pergi ke salah satu tempat rekomendasi dari bibinya. Dukun peracik jamu terkenal di kota itu. Keara pergi sendirian tadi sepulang sekolah. Tak ada yang mau menemaninya kesana, bahkan vega orang yang paling-paling diharapkannya pun malah dengan terang-terangan menolak. Tak masuk akal katanya.

Mana ada urusan hati dibawa ke tukang jamu, kalau dukun sih mendingan, lah ini tukang jamu. Bener-bener gila nih anak.

“saya mau minta ramuan penguat hati ada nggak mbah? Keara berkata pelan, takut terkena semprot.

“oh ada ada nak, ini serbuk penguat hati, tinggal kau campurkan saja ke dalam minumannya. pasti ampuh”
Keara diam, antara percaya tak percaya. Tapi biarlah, perlu dicoba.

“oh iya, jangan lupa nak, harganya satu serbuk itu dua ratus lima puluh ribu rupiah.” nenek tua peracik jamu itu mengingatkan.

“WOW banget ya harganya, padal sekali minum doang tuh” Keara mendesis, takut terdengar.

“jangan khawatir nak, ini sangat manjur dan ampuh” silahkan keluar, masih banyak yang mengantri.

Keara mau saja dibodohi, membayar, kemudian segera pulang. Tersenyum senang membawa harapan baru untuk kekhawatiran berlebihannya itu.
***
Keara mengaduk pelan minumannya. Mencampurkan serbuk ramuan dari tukang jamu terkenal yang didatanginya kemaren. Warta sudah menunggunya beberapa menit yang lalu di depan, ruang tamu rumahnya. Hari ini sabtu malam, alias malam minggu. Harusnya malam ini Keara dan warta pergi keluar seperti agenda malam minggu biasanya, pergi menikmati suasana kota di malam hari. Tapi kali ini Keara menolak, beralasan sedang tak enak  badan, lagipula di luar cuaca terlihat mendung.

“Gausah keluar aja ya ta, mendung tuh di luar. Gak asik juga kan lagi enak-enak jalan tiba-tiba ujan? Keara membujuk kekasihnya itu.

“Mendung kan gak selalu ujan Keara sayang. Sama aja kayak orang ngoap ngantuk tuh, belum tentu juga langsung tidur kan?” Warta malah membuat lelucon, memancing senyum Keara.

“Jadi mau tanggung jawab nih kalo aku sakit? Aku udah agak flu looh” Keara pura-pura bersin

Setelah tawar menawar itu Keara sukses meyakinkan warta yang akhirnya mau mengalah karena tak mau membuat mood Keara berubah buruk. Sabar sekali rupanya.

beberapa menit kemudian.
“Taraaaaaa! minumannya udah siap ni ta” Keara menyuapkannya pada warta. Memaksanya untuk segera menghabiskan.

Warta hanya tersenyum, menyambut perhatian Keara ini dengan manis pula.

“makasih ya Keara sayang, tapi kok rasanya agak aneh ya?”
 agak pait-pait gimana gitu” kening warta sedikit mengerut

“hee, mungkin perasaanmu aja. Ini udah sesuai banget sama  takaran biasamu kok ta. Susu coklat dengan gula dua sendok teh, bener kan ya?” Keara mengeles, cari-cari alasan.

“enggak ah Ke, ini beneran kayak jamu deh.” Warta menaruh gelas kembali ke meja.

Eits, jangan-jangan cerita vega padaku itu benar ya? kalau kamu tak percaya padaku dan mencari ramuan penguat hati ke mbok-mbok daerah mana itu aku lupa?” warta bertanya pada Keara.

Keara diam. Merutuk. Sebal pada vega yang tega sekali membocorkan rahasianya ini pada wartas. Keara hanya menunduk, tak berani menatap warta.

Hu.uh, vega tuh kompor banget deh. Liat aja tuh besok

“mmmmhhh… iya warta, maaf, aku takut kamu nggak sayang lagi sama aku. Aku sayang banget sama kamu.” Keara semakin menunduk

Warta justru pindah duduk ke bawah, menatap lamat-lamat wajah kekasih cantiknya itu, kemudian memegang tangan Keara,

Keara sayang, ramuan apapun itu, sehebat dan se ampuh apapun dukun sakti yang jadi peraciknya itu tak akan bisa merubah hati seseorang. Bahkan kalau kau mau memusnahkan rasa ini jelas tak akan bisa secepat itu. Sekali glek langsung cinta atau hilang, musnah. Itu hanya perkiraan dan bualan mereka saja. Tak pernah alami karena tak selalu sesuai perkiraan dan kondisi hati. Bukankah hati seseorang hanya orang itu sendiri yang tau?

Yang harus kamu tahu Ke, ramuan penguat hati yang paling hebat itu ada di hatimu sendiri, yaitu, keyakinan dan ketulusan hati kamu untuk tetap mengerti dan saling melengkapi.”

Warta mencium tangan Keara. Meyakinkan kata-katanya.

Keara tersenyum, perempuan mana yang tak berbunga-bunga hatinya diperlakukan seperti itu. Sejak malam mendung di rumahnya itu, Keara tak pernah lagi khawatir pada warta. Ia hanya yakin bahwa selama ia memberi yang terbaik untuk orang-orang di sekelilingnya. Ia pasti akan dapat hasil yang terbaik pula untuknya.