.do-not-copy { -webkit-user-select:none; -khtml-user-select:none; -moz-user-select:none; -ms-user-select:none; user-select:none; }

Friday, 23 June 2017

Pilihan apa yang kamu buat hari ini?

Setiap hari, persis ketika membuka mata, kita selalu membuat pilihan hendak jadi apa hari ini? Hari yang menyebalkan, membahagiakan, atau memberi tambahan semangat. Hendak menjalani hari diawali dengan senyuman, ibadah yang baik, membantu orang tua atau mulai dengan sepanjang keluhan yang melelahkan – seperti, “ah ini hari Senin pasti kerjaan numpuk! Dan atau, yes sudah hari Senin, mari bersemangat kerja lagi. Waktunya menjadi produktif (ucapkan sembari tersenyum dan membayangkan keajaiban apa yang bisa didapat hari ini”

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak bersyukur atas hari yang masih dikaruniakan sampai detik ini dan menjalani apapun dengan harapan (tersenyum pada diri sendiri dan berterima kasih atas kerjasamanya), atau berkutat pada keluhan karena belum dapat pekerjaan yang menyenangkan, keluarga yang menyebalkan, atau teman yang tidak pengertian.  

Setiap hari, kita selalu punya pilihan, hendak mencoba apa-apa yang belum sempat kita lakukan, atau mengeluhkan keterbatasan yang membuat kita tidak berani melakukan apa-apa yang sempat kita impikan. Memilih mencoba memasukkan lamaran pekerjaan baru atau sekedar membayangkan “pasti aku tidak akan diterima disana”.

Saturday, 17 June 2017

Mari menciptakan kenangan yang baik


Mengapa sebagian dari kita menyimpan foto terbaik di media sosial, tetapi menyimpan kenangan buruk tentang seseorang dalam pikiran?

Mengapa kita mengabaikan perbuatan baik seseorang dan hanya menyimpan kata-kata menyakitkan yang pernah dia ucapkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sangat penting kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa kita mudah terperangkap pada prasangka buruk, kemarahan dan dendam? Perbuatan aneh sebagian dari kita adalah menyimpan hal-hal yang baik untuk diberikan dan disampaikan kepada orang lain, mengupload foto-foto terbaik yang kita punya, menceritakan segala macam kebanggaan kita terhadap sesuatu.

Tetapi sebaliknya, memilih mengoleksi sampah untuk diri sendiri, menyimpan kenangan buruk tentang seseorang, mengingatnya bertahun-tahun, terpenjara pada kenangan yang menyakitkan dan meracuni diri sendiri dengan prasangka buruk. Memberikan makanan buruk untuk pikiran kita sendiri, untuk hati kita sendiri. Bayangkan, ada ribuan kejadian yang silih berganti terjadi dalam kehidupan kita, tapi beberapa orang memilih menyimpan kenangan buruk, dendam, trauma, dan berprasangka buruk kepada orang lain.

 Kepala kita, seharusnya diberikan pikiran pikiran positif untuk memanfaatkan dan menggunakan hidup yang sekali ini untuk kebaikan dan mengenang yang baik-baik saja. Kenapa kita hanya ingin membagikan dan tampak bahagia di hadapan orang lain? Apakah pengakuan dan penilaian orang lain terlalu penting bagi hidup sendiri? Padahal yang seharusnya kita lakukan adalah memberikan juga yang terbaik untuk diri sendiri. Senyuman, kata-kata positif, penyemangat, dan ribuan terima kasih.

Seperti kata pepatah. YOLO. You only live once. Kita hanya hidup sekali. Sangatlah tidak berguna menyimpan kenangan buruk di kepala, kata-kata makian, ejekan dan hinaan dari orang-orang. Mari digunakan sebaik-baiknya. Untuk menyimpan kenangan yang baik, kata-kata yang baik, kehidupan yang baik, dan segala kejadian yang baik. 

Jadi mari lupakan segala hal yang buruk. Mari maafkan kesalahan. Mari redakan kemarahan. Mari tersenyum pada masa lalu. Mari berterima kasih pada yang pernah ada dan belajar dari kesalahan, bahwa hidup selalu punya masa yang akan datang. 

Wow! Beberapa hal ini hanya terjadi saat Ramadhan

Bulan ramadhan memang bulan special, seperti kita semua. Segala sesuatunya ditunggu, dan yang pasti – ada sekumpulan kebiasaan yang hanya ada di bulan Ramadhan yang pasti tidak luput dari pengamatan kamu, baik di rumah, di jalanan, di lingkungan sekitar rumah, kebiasaan saudara-saudara kalian yang berubah.

Apa saja hal-hal tersebut?

Here we go :

1.   Nobar kajian Tafsir Al-Misbah Quraish Shihab

Tontonan paling menarik selama ramadhan bagi saya. Dengan gaya bahasa yang baik, sopan, dan tidak menggurui – Quraish Shihab memaksa saya dan keluarga untuk mau tidak mau memahami dan mempelajari maksud al Quran lebih mendalam. Beliau kerapkali menggunakan bahasa yang sungguh menyenangkan, seperti tidak mau menyebut orang lain kafir dan lebih memilih untuk memberi sebutan “Muslim yang durhaka” karena mereka masih muslim, hanya saja tidak menjalankan perintah Tuhannya.

Bayangkan dengan kebanyakan orang beberapa bulan terakhir yang hobi sekali mengkafirkan muslim yang lain. Padahal kita bukan Tuhan, dan padahal kita mungkin saja tidak lebih baik daripada yang lain.

Wednesday, 14 June 2017

DUA LELAKI


02.00 WIB, Suatu tempat. 

Dua lelaki itu saling melempar botol kaca. Berteriak. Memaki. Menghajar. Matanya merah, penuh amarah. Mereka abaikan kerumunan orang yang sedang asik masyuk bergoyang, berdansa, menikmati hentakan musik dari DJ yang kelewat keras. Tapi siapa peduli, mereka asik dengan dunianya sendiri. Yang lain juga. Mungkin hal seperti ini sudah biasa.

Sepertinya aku mengenalnya, dua lelaki itu, yang sedang saling melempar gelas itu, tapi hentakan musik di ruangan ini terlalu pekak, mataku samar. Mungkin aku mabuk. Atau mungkin halusinasi. Kulangkahkan kaki mendekat – ingin sekali melerai dan bilang hei buat apa berkelahi? Apakah gara-gara wanita? CIIH. Aku meludah sendiri. Tapi aku terjatuh menabrak meja. Lelaki tua di sebelahku membantuku kembali duduk. Kuurungkan niatanku melerai, biarkan sajalah, kunikmati saja sisa gelasku.  

PYAARRR! 

Lelaki berkacamata itu memecahkan botol kaca di kepala lelaki hitam manis berkemeja. Pelipis lelaki itu berdarah. Tawa lelaki berkemeja semakin sinis, beringas, ia berdiri – menyerang balik, menghajar sekenanya, sebisanya. Dari jauh perkelahian itu semakin asik. Kudengar mereka meneriakkan namaku, satu kali, dua kali, entahlah. Musik disini terlalu keras. Aku tak ingat. 

Dari balik kerumunan orang itu kulihat petugas keamanan klub datang. Satu dua orang melerai, petugas keamanan berteriak memaksa berhenti. Tapi mereka terlanjur asik dengan pesta mereka. Mereka terlanjur asik dengan ego mereka. 

Kepala mereka sudah terlanjur bersimbah darah. 


Friday, 9 June 2017

Dear 25

Dear, dua puluh lima –
Nggak kerasa ya udah setahun.
Padal baru kemaren rasanya baru 24.
Dear 25, Semoga berkah.

*Slamat ulang tahuun, slamat ulang tahuuun,slamat ulang tahun ... slamat ulang tahuuuun*. Ayo dooong tiup lilinnya. Jangan diem aja

Dan kue ulang tahun beserta lilinnya udah tersaji di hadapan saya (sehari tiga kali udah persis kaya minum obat). Senyum lebar, seneng, bungah, bahagia. Di depan saya orang-orang yang saya sayang, dan orang-orang terdekat yang saya harapkan dateng ketawa lebar sambil nyanyiin lagu itu berulang-ulang. Mereka keluargaaaa.

Reka ulang kejadian ini beneran kejadian gais. Bukan sekedar mimpi atau harapan kayak tulisan saya beberapa waktu lalu. Mereka, temen-temen saya, saudara, keluarga, dan orang-orang terdekat itu udah ngebeliin kue – lilin – dan menyempatkan waktu buat makan bareng ngabisin tuh kue donat jco, pizza hut, black forest, dan sebagainya itu. Sambil bersyukur udah disadarkan oleh mereka, saya akhirnya bisa mengambil kesimpulan – “kamu nggak perlu sayang sama semua orang, dan kamu nggak perlu bikin semua orang ngrasa spesial. Cukup orang-orang di sekeliling kamu aja yang kamu sayang”.

Sooo Simplee bangeeet kan?

Awalnya saya mikir, betapa bahagianya bisa bikin semua orang seneng – apalagi bikin semua orang bisa ngrasa kalau dia juga sama spesialnya kayak yang lain. Tapi itu mustahil. Ada penolakan, ketidaksukaan, kebencian, wajah-wajah muak yang saya rasakan sendiri bahkan diantara mereka yang mengaku teman dekat. Perasaan yang tidak bisa dibohongi oleh perasaan kamu sendiri. Membuat semua orang lain senang sama halnya menjerumuskan diri kamu sendiri ke jurang ketidakbahagiaan, atau malah jurang neraka. Tinggal dorong dikit, perasaan tidak nyaman atas paksaan kamu terhadap diri sendiri untuk menyenangkan orang lain itu bakal jadi bumerang buat idup kamu sendiri. Masih mau nyimpen perasaan begitu?

Pahami saja, kamu memang tidak bisa menyenangkan semua orang.

Sunday, 4 June 2017

Ini urusanku, itu urusanmu

Begini, soal undangan buka bersama yang akan kamu terima atau tidak itu bisa kau sikapi dengan dingin dingin saja. Tidak usah repot, tidak usah gusar, apalagi ribut mendengarkan kata orang. mereka mau bilang kau sombong, sok sibuk atau pelit biar saja jadi urusan mereka. Sirik itu melelahkan bukan? Jadi biarkan saja mereka yang kelelahan. Itu hidupmu, ibadahmu, kegiatanmu, dan kebebasanmu. Menerima atau menolak itu sungguh kewenanganmu dan orang lain tidak berhak ikut campur, jadi ini soal pilihanmu, bukan pilihan orang lain.

Yang kedua, soal tarawih yang cuman sebelas atau dua puluh tiga rokaat ini juga bukan tentang orang lain. Jadi orang lain mau bilang apapun, mau membeberkan dalil apapun, ini adalah soal yang kau yakini. Soal yang turun temurun kau alami. Soal yang kau tau sendiri bagaimana baiknya. Jadi percuma berdebat soal ini, kamu, Cuma tinggal yakin dengan keyakinanmu, dan urusan keyakinan orang lain bukan lagi urusanmu.

Yang ketiga, soal ibadah dan berbuat kebaikan itu adalah urusanmu dengan Tuhanmu. Bukan urusanmu sama manusia-manusia yang kadang berisik itu. Jadi mau diam-diam atau koar-koar ke sepenjuru desa biar semua orang tau, biar itu jadi hitungan amalmu sama Tuhan. Cukup biarkan malaikat yang mengurus persoalan dosa dan pahala itu, jangan lagi kau campuri dengan berkata mereka berdosa sedangkan yang paling pantas masuk surga.

Yang terakhir, soal ghibah – nggosip – fitnah – dan sebagainya yang sepersaudaraan dengan nyinyir itu juga bukan urusanmu. Ringkaskan hidupmu untuk mengurus hal-hal yang kau perlu. Itu mulut orang, bukan mulutmu. itu lidah orang yang sama-sama tidak bertulang. Yang harus kau jaga hanya mulut dan lidahmu. Bagaimana mungkin kau akan mengendalikan lidah orang yang sama sekali bukan jadi bagianmu itu? Urusanmu hanya mengingatkan, dan selebihnya – biarkan saja Tuhan yang memberikan teguran.

Dan sudah memang begitu saja.

Lagipula, apa mau seluruh omongan di dunia kau masukkan ke telinga?

Pintar-pintarlah mengurus urusan yang memang penting untuk kau pikirkan. 

Ramadhan, 2017

2017. Ramadhan kedua di bulan Juni. Bulan kelahiran saya.

Rasanya syukur, nikmat dan rindu jadi satu. Saya tidak bisa menghindari banyak syukur dari Allah, karena, lagi-lagi saya masih diizinkan untuk menikmati Ramadhan bersama keluarga, orang-orang terdekat, dan dengan kesehatan berlimpah. Saya ingat hari pertama shalat tarawih, mungkin bukan hal yang penting untuk banyak orang, tapi penting untuk mengingatkan saya. Sesaat sebelum shalat tarawih dimulai, mata saya mengedar pandang ke sekeliling masjid. Penuh. Jamaah tumpah ruah. Laki-laki perempuan. Muda tua. Kanak kanak atau dewasa.

Dan hati saya tiba-tiba buncah oleh haru. Mata saya panas.

Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Saya merindukan pemandangan itu. Orang banyak. Orang-orang penuh semangat untuk beribadah bersama. Silaturahmi. Kenikmatan rohani yang tidak ada tandingannya. Dan saya menyadari, tiba-tiba dari sudut mata saya mengalir airmata/ saya menangis. 

Mungkin kedengarannya cengeng, tapi begitulah yang saya rasakan. Yang perlu digarisbawahi, itu sama sekali bukan tangis lebai –hati saya damai. Rokaat pertama sholat tarawih saya menangis sebentar sebelum saya menyadari bahwa tidak boleh berlebihan bahkan dalam merasakan kebahagiaan, saya hanya diminta untuk belajar istiqomah.

Jika Tuhan masih mengizinkan saya mencecap nikmat beribadah, itu artinya Tuhan masih sayang pada saya.

Dan ya Allah ...

Terima kasih atas nikmat haru yang masih terasa
Jika bukan karena izin-MU, tidak ada yang akan terjadi di dunia

Semoga atas pertambahan umur dan nikmat hidup yang masih diberikan sampai saat ini selalu bermanfaat. Berkah. Dan KAU ridhoi.

Dan ya Allah ...
Selamat bekerja.                                                     
Jogjakarta, 30 Mei 2017